Hari ini : Selasa, 1 Desember 2020 18:58

ABI : UPACARA PERNYATAAN SIKAP KEBANGKITAN SUMPAH PEMUDA INDONESIA

UPACARA PERNYATAAN SIKAP KEBANGKITAN SUMPAH PEMUDA INDONESIA Monumen Sumpah Pemuda Tugu Lilin Salakarta Hadiningrat (28/10/2020)

Sebuah Negara berdiri karena kesepakatan Bangsa yang menyatukan sikap dan tindakan untuk mewujudkan kemerdekaan berdaulat, serta mengangkat harkat maupun martabat sebagai manusia di hadapan Tuhan Sang Maha Esa Pencipta Semesta Raya, dengan cara mengali kembali kekayaan kearifan budaya leluhurnya, sehingga memiliki Jati Diri sebagai Bangsa Mulia di sebuah Negara.
Negara Republik Indonesia berdiri tidak serta merta, tetapi melaui proses perjuangan panjang dalam membangun kesadaran bersama.
Ikra Sumpah Pemuda yang berbunyi
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku Berbangsa satu, Bangsa Indnesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjujung tinggi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.
Adalah bukti, bahwa pemuda-pemudi di Nusantara pada tanggal 28 Oktober 1928, telah menyatukan tekad mempersembahkan Darma Bakti kepada Bunda Pertiwi.
Dengan simbol segenggam tanah dan segayung air, dari berbagai tempat masing-masing, Suku-suku Bangsa di wilayah Nusantara, untuk dipersatukan dan ditanamkan sebagai tanda tonggak bangunan sejarah, yang berdiri tegak menjadi monumen Sumpah Pemuda di Tugu Lilin Salakarta Hadiningrat, menjadi dasar pijakan berdirinya sebuah Negara Republik Indonesia.
Perjalanan kurun waktu Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri dan merdeka telah beranjak tiga perempat abad, kesadaran sebagai Bangsa yang besar perlahan mulai tumbuh kembali.
Terbukti adanya mulai terdengar MANIFESTO BANGSA INDONESIA yang termaktub dalam lagu BAGIMU NEGRI dan INDONESIA RAYA dilantunkan dijalan-jalan, di gedung-gedung, direlung hati sanubari pribadi-pribadi Rakyat Indonesia. Yang merupakan SUMPAH JANJI SETYA sebagai Anak Bangsa Indonesia yang akan selalu setiap saat dimanapun menjaga harkat martabat sebagai wujud bukti BAKTI kepada Bumi Pertiwi Indonesia serta Para Pahlawan Pejuang Leluhur yang telah mengorbankan Jiwa Raganya untuk memberikan kehidupan kepada Anak Cucunya yang Merdeka Damai Aman Sejahtera Adil dan Makmur secara hakiki di dalam sanubari pribadi-pribadi serta hidup Rukun Bersama.
Harmoni keindahan dan semangat lagu “Padamu Negri”, yang berbunyi :
Padamu Negri Kami Berjanji
Padamu Negri Kami Berbakti
Padamu Negri Kami Mengabdi
Bagimu Negri Jiwa Raga Kami
Menjadi kenyataan, bahwa Kita lahir dan di besarkan di Bumi Indonesia diakui sebagai Warga Negara Republik Indonesia serta dihidupi oleh tanah, air, udara maupun alam surga Indonesia. Tanggung Jawab terhadap warisan Bangsa dan Negara dari Para Pahlawan Pejuang Leluhur telah MEMBANGUN KESADARAN JIWA kita kepada Ibu Pertiwi untuk menghaturkan rasa terima kasih serta memberikan Darma Bakti kepadanya dengan ketulusan, keiklasan dan kejujuran hati.
Selalu teringat terhadap pengabdian diseluruh hidupnya Sang Proklamator yang telah memberi suri tauladan dan berkata: “Jangan bertanya apa yang Negri ini bisa berikan padamu, tapi apa yang bisa Kita berikan kepada Negri ini?!”
Dan ada lagi perkataan beliau: “Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, tetapi seorang pemuda mampu mengubah dunia!”
Perkataan beliau ini adalah ungkapan cermin kekuatan atau “Daya Linuweh” dari semangat pemuda dan pemudi Anak-anak Bangsa Besar Indonesia di puncak Sumpah Pemuda, yang induk semangnya bernama Bangsa Nusantara Raya. Dimana di setiap zamannya masing-masing kerajaan yang telah Berjaya didirikan serta dibangun oleh para pemuda dan pemudi dengan menggunakan pusaka kearifan budaya lokal, yaitu gotong royong, yang menjunjung tinggi hubungan peradaban “Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata”.
Situasi dan kondisi zaman memang berbeda, tetapi semangat Jiwa Patriotik untuk mengabdi dan berbakti kepada Ibu Pertiwi, tak pernah bisa lekang oleh perubahan zaman. Kodrat sebagai Bangsa besar di Negri Indonesia selalu ada saja para pemuda dan pemudi yang polos dan tulus, sebagai Anak-anak Bangsa yang lahir dan terpilih, untuk menerawang ruang menembus peluang sebagai penyeimbang di saat keadaan tatanan kehidupan terguncang serta mengambang, hanya demi menjaga tegaknya dasar-dasar bernegara, seperti yang telah di ikrarkan di puncak sumpah pemuda 28 Oktober 1928.
Ketika muncul peristiwa yang membuat cemas, akibat virus corona atau Covid-19, kita didorong untuk berhenti dan hening sejenak kembali bercermin menengok kepada diri pribadi menyatukan raga, jiwa dan roh kepada yang Sang Maha Hidup. Mengapa situasi mendorong harus seperti ini? Karena agar kesadaran hidup menumbuhkan semangat dan menguatkan kepercayaan, bahwa hidup akan penuh arti bila beranjak dari Lubuk Hati Nurani yang secara alami mampu menunjukan Jiwa Manusia saling berbagi dan menghormati sesama makhluk hidup di Bumi.
Sebab yang sangat Hakekat adalah harkat dan martabat dimana dalam mata rantai kehidupan bersama tak ada kata atau istilah paling kuat, semua yang ada erat ikat mengikat dan masing-masing mendapat tempat hanya untuk saling memberi hormat.
Dalam keadaan carut marutnya peradaban Global, kita perlu menyadari adanya dimensi ruang, waktu dan spirit “Caraka Balik” yaitu menarik kembali ketitik balik untuk menyikapi kearifan budaya lokal.
Disini, tanah air tempat kita lahir dan dibesarkan, disini pula tempat pusat kumparan langit kedaulatan bangkit dan berdiri tegak menjulang tinggi. Inilah saatnya Kita bangkit dan berdiri tegak menjunjung tinggi harkat dan martabat sebagai Bangsa yang berdaulat.
Hadirnya makhluk hidup bernama Covid-19 yang mencekam ketakutan berkepanjangan bersama, justru menjadi tanda pengingat yang sangat tepat, agar kita kembali melihat dan berkiblat secara khitmat kepada kearifan adat budaya setempat.
Berpijak pada semangat kebangkitan sumpah pemuda, Kami Anak-anak Bangsa Indonesia yang secara simbolis terwakili dari 34 Provinsi bermaksut mengadakan kegiatan upacara kebudayaan dengan upaya tetap protokoler yaitu jumlah peserta dibatasi berjarak, mengenakan masker sesuai Undang-Undang dan aturan Hukum yang berlaku, di Monumen Sumpah Pemuda Tugu Lili Sala Rabu 28 Oktober 2020 pukul 08.00 – 10.00.
Adalah merupakan upacara pernyataan sikap “KEBANGKITAN SUMPAH PEMUDA INDONESIA 2020”, sebagai sajian persembahan “Tarian Kidung Agung Paratama”.
Meskipun hanya beberapa gelintir serpihan debu dari kepolosan dan ketulusan Sang Pelaku yang hanya bertekad untuk menghaturkan rasa terimakasih dan berbakti kepada Ibu Pertiwi, harapannya bila nanti tiba waktunya menjadi Tugu Tegak Tonggak Sejarah, sebagai Simbol Anak-anak Bangsa Besar terpilih telah saling mengulurkan tangan, erat bergandengan, sambung-menyambung menjadi satu membangun Negri Surga Indonesia Raya. Hayu, Hayu, Hayu Rathayu, Rehayu, Ruhayu, Rihayu Sagung Dumadi . ABI (Anak Bangsa Indonesia)

Close
Close

SPONSOR