Sekilas Obyek Wisata Airterjun Girimanik Petilasan Pangeran Samber Nyowo

Wonogiri – Girimanik merupakan kawasan wisata alam yang berudara sejuk dengan panorama alam yang sangat indah. Kawasan wisata ini berada di lereng Gunung Lawu Selatan, berlokasi di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri.

Berjarak sekitar 40 km dari pusat kota Wonogiri ke arah timur dengan waktu tempuh ± 40 menit perjalanan darat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Obyek Wisata Girimanik memiliki 3 (tiga) air terjun yang merupakan ikon dari kawasan wisata ini. Ketiga air terjun tersebut yaitu Air Terjun Manikmoyo, Air Terjun Tejomoyo dan Air Terjun Condromoyo.

  1. Air Terjun Manikmoyo mempunyai ketinggian 100 meter, bisa ditempuh dengan waktu ± 20 menit dari Pos III dengan berjalan kaki melewati hutan pinus dan tumbuhan palem yang banyak tumbuh di area tersebut. Tidak jauh dari Air Terjun Manikmoyo terdapat sebuah tempat sakral peninggalan atau petilasan Raden Mas Said yang dikenal dengan nama Batu Resi.
  2. Air Terjun Tejomoyo mempunyai ketinggian 30 meter. Perjalanan menuju air terjun ini memakan waktu sekitar 15 menit dari Pos III. Menuruni lembah, air terjun tersebut seperti tersembunyi di dalam lembah, sehingga kesan alami masih terlihat.
  3. Air Terjun Condromoyo mempunyai ketinggian 40 m ditempuh sekitar 30 menit dari Pos III dengan rute yang berbeda. Untuk sampai di air terjun ini, kita melalui jalur kedatangan dengan menaiki lembah dan tepat di persimpangan antara ke Perkemahan, dan Air Terjun Tejomoyo, kita mengambil jalan ke kanan menuju air terjun Condromoyo.

Air terjun ini dianggap lebih indah dan unik daripada yang lain karena aliran airnya meluncur melalui sela-sela batu-batuan hitam yang tinggi dan rapih seperti layaknya berlian hitam yang disusun miring membentuk background air yang indah. Percikan airnya ramah, dan sinar matahari yang memantul dari air dan batuan hitam membuatnya menjadi tampak lebih kemilau.

Di kawasan wisata ini juga terdapat obyek wisata ritual antara lain :

  1. Sendang Drajat adalah merupakan sebuah sendang yang sangat dipercayai untuk meningkatkan drajat seseorang apabila meminum air sendang ini.
    Sendang Kanastren; Menurut cerita sendang ini pernah digunakan untuk mandi Dewi Kanastren, istri Bathara Ismoyo. Sendang ini juga menjadi tempat pemandian Pangeran Samber Nyawa saat bertapa di Pertapaan Girimanik. Sendang ini dipercayai oleh khalayak bahwa orang yang sulit mencari jodoh, apabila mandi air di sendang ini segera akan menemukan jodohnya. Bagi para pengunjung yang sedang datang bulan atau sudah berkeluarga dilarang untuk mandi di sendang ini agar tidak menemui hal-hal yang tidak diinginkan.
  2. Sendang Nglambreh; Konon sendang ini pernah digunakan untuk mandi Roro Mendut. Pada saat itu kemben yang digunakan Roro Mendut terlepas sehingga kelihatan nglambreh (jawa) karena itu dinamakan Sendang Nglambreh. Luas Sendang Nglambreh ini sekitar 100 meter persegi. Airnya sangat dingin. Menurut cerita air telaga Nglambreh ini berkhasiat untuk awet muda, bagi wanita yang mencuci muka di telaga itu akan terlihat cantik dan bila kaum pria akan terlihat lebih tampan. Telaga yang airnya sangat jernih ini berada diantara tebing-tebing gunung yang berhutan sangat lebat sehingga sangat rindang.
  3. Pertapaan Girimanik; adalah sebuah bukit yang digunakan untuk bertapa Raden Mas Said saat bergerilya melawan penjajah Belanda agar diberikan kejayaan dan kemenangan. Tempat ini kemudian disakralkan orang untuk tempat meditasi agar permohonannya dapat terkabul. Sampai sekarang tempat ini banyak dikunjungi oleh para pengusaha pejabat dan seniman untuk melakukan meditasi.

Sekilas Pengembangan Girimanik

Dengan adanya informasi yang menyatakan bahwa di Desa Setren Kecamatan Slogohimo, tepatnya di kawasan Lereng Lawu Selatan terdapat air terjun yang masih alami, dimana memungkinkan dapat dikelola menjadi obyek wisata, maka tim survey dari kabupaten, kecamatan, dan desa melakukan survey untuk kali pertama, yaitu pada hari Rabu 20 Februari 2002, dengan sasaran yang dituju adalah Kawasan Silamuk.

Kawasan Silamuk adalah sebuah kawasan hutan terletak sekitar 12 km arah utara dari Kecamatan Slogohimo. Istilah Silamuk diambil dari kondisi dataran tinggi di Lereng Lawu Selatan yang selalu tertutup kabut putih,sehingga hutannya selalu terlihat tidak jelas. Orang Jawa mengatakan Lamuk-Lamuk akibat fenomena alam sehingga dinamakan Silamuk. Secara De Yure merupakan wilayah Kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Surakarta.

Hutan yang sangat lebat, dengan udara sejuk serta sumber air yang sudah didayagunakan oleh PDAM, kawasan ini cocok untuk dikembangkan sebagai obyek wisata. Bahkan dapat menjadi andalan bagi Kabupaten Wonogiri.

Berdekatan dengan Kawasan Silamuk terdapat lahan-lahan pertanian milik masyarakat setempat. Sekarang ini telah dikembangkan usaha agrobisnis berupa tanamaan sayuran seperti Kubis, Wortel, Buncis, dan lain-lain.

Tanaman ini tumbuh segar dan menebar di kanan kiri jalan yang menuju kawasan Hutan Silamuk. Jalan ini sekarang telah dilebarkan dan dibangun secara swadaya oleh masyarakat.

Kawasan Silamuk ini diyakini akan menjadi daerah tujuan wisata andalan karena dikawasan ini disamping berudara sejuk, air melimpah serta memiliki pemandangan yang indah, tempat ini juga merupakan situs budaya yang sejak dahulu sudah dikenal sebagai tempat meditasi oleh masyarakat baik dari wilayah Solo Raya, Ponorogo, Jakarta, Surabaya dan Semarang. Bahkan ada juga yang datang dari Luar Jawa.

Situs budaya yang dimaksud adalah petilasan Pangeran Samber Nyowo (Raden Mas Said) yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Menurut cerita, Pangeran Samber Nyowo dalam perlawanannya melawan penjajah, akhirnya sampai ke hutan tersebut. Pangeran Samber Nyowo bermunajat kepada Allah SWT disalah satu puncak pegunungan yang kemudian dikenal dengan Pertapaan Girimanik.

Dengan latar belakang sejarah itu maka masyarakat setempat dalam hal ini Kepala Desa Setren dan dari Pemerintah Kecamatan Slogohimo memberi nama obyek wisata ini dengan sebutan Obyek Wisata Air Terjun Girimanik.

Obyek Wisata Air Terjun Girimanik yang mempuyai 3 air terjun dan tempat pertapaan sudah lama diketahui oleh Perhutani maupun masyarakat Desa Setren. Air terjun tersebut mempunyai sumber yang berasal dari “Sungai Silamuk”. Sumber ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Setren untuk minum dan mandi atau kebutuhan sehari-hari.

Tiga air terjun itu juga mempunyai nama tersendiri yang namanya diambil berdasarkan empat penokohan dalam wayang kulit atau punakawan .Nama air terjun itu adalah sebagai berikut :

  • Air Terjun Manikmoyo, yang memiliki ketinggian + 100 m dinamakan Manik Moyo karena merupakan nama lain dari Semar dalam pewayangan. Air terjun ini adalah yang terbesar (tertinggi).
  • Air Terjun Tejomoyo, yang memiliki ketinggian + 30 m terletak di dekat dengan Air Terjun Manikmoyo. Dinamakan Tejomoyo karena merupakan nama lain dari Togok dalam pewayangan.
  • Air Terjun Condromoyo, yang memiliki ketinggian + 40 m ini letaknya paling dekat dengan pos III ( terdapat parkir kendaraan). Dinamakan Condromoyo karena masyarakat setempat percaya di tempat ini tempat berkumpulnya para punakawan

Dalam kehidupan sehari-hari, adat istiadat masyarakat Desa Setren selalu mempercayai dengan adanya tempat-tempat sakral (suci). Masyarakat percaya bahwa tempat ini merupakan tuah dari adanya Pertapaan Girimanik yang merupakan petilasan Pangeran Samber Nyawa. Diyakini bahwa letak dari obyek wisata air terjun Giri Manik terletak di bawah Gunung Semar. Menurut masyarakat Desa Setren ini adalah tempat berkumpulnya para Punakawan. Dengan latar belakang tersebut tiga air terjun diberi nama Manikmoyo, Tejomoyo, dan Condromoyo.

Event Wisata Susuk Wangan

Susuk Wangan adalah suatu event wisata yang diadakan di Obyek Wisata Girimanik dimaksudkan untuk mensyukuri karunia-Nya terutama karunia air sehingga bisa menopang kehidupan Masyarakat Setren dan sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk pertanian. Event wisata ini diadakan pada Bulan Besar Hari Sabtu Kliwon. Wujud dari event ini adalah membersihkan saluran air yang dipakai untuk irigasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Setren.

Upacara Susuk Wangan ini mengharuskan setiap kepala keluarga membawa sesaji berupa Nasi Tumpeng beserta Ingkung (Ayam Jago yang dimasak). Salah satu mata acara yang menonjol di sini adalah saat ratusan nasi tumpeng serta ingkung dikirab bersama dengan gunungan yang tersusun dari sayur mayur. Kirab dilakukan dengan perjalanan sekitar 500 meter dari lokasi dikumpulkannya semua tumpang dan gunungan itu hingga lokasi perayaan yang berada di pintu pos pertama menuju objek wisata air terjun di Setren.

Hawa dingin khas pengunungan yang sangat terasa di kulit tidak melunturkan semangat warga yang harus berjalan kaki hingga ke lokasi acara. Penduduk di kawasan tersebut datang berbondong-bondong ke lokasi bersama anak, cucu dan keluarga. Mereka ingin mendapatkan uba rampe yang dibagi-bagikan setelah dikirab serta menyaksikan hiburan berupa kesenian tradisional.

Kegiatan ini juga diisi dengan berbagai hiburan yang telah disiapkan oleh pihak penyelenggara. Hiburan tersebut berupa Kesenian Tradisional antara lain Reog, Kethek Ogleng, Campursari, Srandul, Tayuban, Lesungan, dan juga Wayang Kulit.

sumber:dispora wonogiri

Related Posts

Terkini

Sponsor

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.