Aksi SMK Pelayaran di Keraton Kartasura Tuai Apresiasi, Mbah Lawu: Generasi Muda Jangan Lupakan Akar Budaya

KARTASURA – Kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar SMK Pelayaran Pancasila Kartasura di kawasan Keraton Kartasura, Senin (7/4/2026), menuai apresiasi tinggi dari pihak keraton. Aksi ratusan taruna yang menggelar kirab budaya hingga bersih-bersih petilasan dinilai sebagai wujud nyata kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.

Perwakilan Keraton, KRRA H. Sri Kuncoro Adiningrat, menyampaikan rasa bangga dan haru atas antusiasme para taruna yang dinilai masih memiliki kepedulian terhadap situs cagar budaya.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kehadiran generasi muda di kawasan bersejarah seperti Keraton Kartasura menjadi harapan baru dalam upaya pelestarian budaya.

“Kami merasa sangat bahagia dan terharu melihat taruna-taruni yang masih peduli terhadap situs cagar budaya. Ini bukan hal yang biasa, ini adalah harapan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 taruna dan taruni, serta dihadiri Wakil Kepala SMK Pelayaran, Hartoyo. Rangkaian acara meliputi kirab budaya dan aksi bersih lingkungan di area petilasan Keraton Kartasura.

Menurut Sri Kuncoro, kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk konkret pengabdian yang sarat makna.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh taruna dan panitia. Ini bukti bahwa generasi muda tidak melupakan akar sejarahnya,” tambahnya.

Lebih jauh, kegiatan ini dinilai menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai kebangsaan di kalangan pelajar. Tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, para taruna juga diajak memahami makna historis Keraton Kartasura sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban Jawa.

Sinergi antara institusi pendidikan dan pihak keraton diharapkan terus terjalin, sehingga upaya pelestarian budaya tidak hanya bersifat simbolik, tetapi berkelanjutan.

Sementara itu, tokoh spiritual Jawa yang dikenal sebagai Mbah Lawu turut memberikan pandangannya terkait kegiatan tersebut. Ia menilai keterlibatan generasi muda dalam menjaga situs budaya merupakan bentuk kesadaran yang mulai tumbuh kembali.

“Budaya itu bukan sekadar warisan, tapi jati diri. Kalau anak muda sudah mulai kembali ke akar sejarahnya, itu pertanda baik bagi masa depan bangsa,” ungkap Mbah Lawu.

Ia juga mengingatkan bahwa situs seperti Keraton Kartasura bukan hanya tempat bersejarah, tetapi memiliki nilai filosofi yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.

“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal modernitas, tapi kehilangan ruh budayanya sendiri,” tambahnya.

Kegiatan pengabdian ini tidak hanya menjadi aksi sosial, tetapi juga simbol kebangkitan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan leluhur. Keraton berharap gerakan serupa dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi kalangan pelajar lainnya di seluruh Indonesia.

Pos terkait