SOLO, KABARJOGLO.COM – Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) bertajuk “Keamanan Siber dan Literasi Media Dalam Membangun Kesadaran Pada Era Digital Di Kota Surakarta” sukses digelar di pelataran Pasar Gede, Solo. Selasa (3/5/2025) .
Acara yang dimulai pukul 12.30 WIB ini menghadirkan para pakar dan pejabat, termasuk Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani dan Ketua Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta, Dr. R.M. Agung Harimurti, M.Kom., guna membahas bagaimana dan mengapa keamanan digital serta literasi media menjadi kunci perlindungan masyarakat di era informasi yang serba cepat.
Diskusi bertema keamanan siber dan literasi media tersebut menyedot perhatian berbagai kalangan, mulai dari pelajar, akademisi, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pemerintahan.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, dalam pemaparannya menekankan bahwa era digital bukan hanya tentang percepatan informasi, melainkan juga tantangan perlindungan data dan etika bermedia.
“Saat ini masyarakat tidak cukup hanya diberi aturan. Kami sebagai pemerintah harus membersamai masyarakat dalam memahami risiko digital, termasuk dalam penggunaan media sosial dan perlindungan data pribadi,” ujar Astrid.
Astrid juga menyinggung pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan tinggi seperti Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta, guna mewujudkan pendidikan digital yang aplikatif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Dr. R.M. Agung Harimurti mengurai realitas pahit di balik dunia digital: kejahatan siber bukan lagi monopoli kota besar, namun juga mengancam masyarakat pelosok yang belum melek hukum dan teknologi.
“Bayangkan, seseorang bisa dipenjara enam tahun hanya karena tidak paham saat mengunggah konten yang ternyata melanggar Undang-Undang ITE. Literasi digital itu menyangkut nasib, bukan hanya keterampilan,” tegasnya.
Agung juga mengungkap bahwa serangan siber di Indonesia sebagian besar berasal dari luar negeri. Ia menyoroti lemahnya infrastruktur pertahanan digital nasional, serta perlunya pembentukan strategi keamanan informasi yang terstruktur.
“Singapura sudah memiliki ‘angkatan siber’ sebagai bagian dari pertahanan negara. Indonesia pun harus mulai berpikir ke arah sana—dengan talenta muda, bahkan mantan peretas (hacker), yang dibina untuk menjaga kedaulatan digital,” papar Agung.
Dalam diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam itu, juga dibahas pentingnya perlindungan data di sektor strategis seperti rumah sakit, perguruan tinggi, dan lembaga pemerintahan. Ketiganya disebut sebagai “sasaran empuk” karena menyimpan data vital dari sisi kesehatan, riset, dan ekonomi negara.
Pesan-pesan yang disampaikan para narasumber tidak hanya bersifat edukatif, namun juga mengusik kesadaran kolektif: bahwa di tengah derasnya arus informasi, pemahaman etis dan hukum dalam bermedia adalah tameng pertama yang harus dimiliki setiap warga negara.
Acara ini menjadi momentum penting di tengah minimnya diskursus publik soal literasi digital yang mendalam. Banyak peserta menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan yang dikemas dengan pendekatan dialogis dan non-formal, namun sarat makna.
“Kami butuh lebih banyak acara seperti ini. Kadang informasi soal bahaya dunia digital hanya lewat unggahan media sosial, yang belum tentu akurat. Tapi lewat forum seperti ini, kita jadi benar-benar paham,” ungkap Arif, peserta asal Laweyan.
Dengan mengangkat isu yang krusial dan menyentuh langsung kehidupan digital masyarakat, FGD ini bukan sekadar forum diskusi. Ia adalah peringatan sekaligus ajakan agar warga Solo dan sekitarnya tak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga penjaga sadar dari dunia digital yang semakin kompleks.
Kesadaran akan keamanan siber dan literasi media bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. FGD di Surakarta menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang-ruang dialog seperti ini—tempat warga belajar memahami, bertanya, dan akhirnya, siap menjaga diri di tengah medan digital yang terus berkembang.






