Lebaran Penuh Air Mata di Sragen, 3 Putra TNI Pulang Setelah 8 Tahun Terpisah

Lebaran haru di Sragen keluarga penjahit dan prajurit TNI

SRAGEN, Kabarjoglo.com – Momen Lebaran 2026 menjadi kisah penuh haru di Desa Natah, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Setelah delapan tahun terpisah oleh jarak dan tugas negara, seorang penjahit sederhana akhirnya bisa berkumpul kembali dengan anak-anaknya, yang kini sukses menjadi prajurit TNI dan pengusaha.

Rumah milik  Suradi dan Pujiyati mendadak dipenuhi suasana hangat dan penuh kebahagiaan. Tangis haru pecah saat keluarga ini akhirnya bisa merayakan Hari Raya Idulfitri bersama dalam kondisi lengkap.

Bacaan Lainnya

Selama bertahun-tahun, Suradi hanya bisa melepas rindu melalui panggilan video. Di balik mesin jahitnya, ia berjuang membesarkan anak-anak dengan penuh kesabaran dan doa, sementara sang istri setia mendampingi sebagai penopang keluarga.

“Alhamdulillah, setelah sekian lama kami hanya bisa bertemu lewat video call, sekarang bisa memeluk langsung anak-anak. Ini kebahagiaan yang tidak bisa digantikan apa pun,” ujar Suradi dengan suara bergetar.

Kebahagiaan itu terasa semakin lengkap karena anak-anak mereka kini telah berhasil meniti jalan hidup masing-masing. Tiga di antaranya mengabdi sebagai prajurit TNI, sementara dua lainnya sukses sebagai pengusaha.

Adapun kelima anak tersebut adalah:

  • Kopda Muhammad Makruf, bertugas di Yonif 828
  • Praka Muhammad Mohtar Arifin, bertugas di Yonif 408 Suhbrasta
  • Muhammad Davit Tri Setiawan, bertugas di Yonif Armed 3 Naga Pakca
  • Muhammad Harun Arrosit, pengusaha konveksi
  • Annisa Zarotul Khotimah, pengusaha konveksi

Kehadiran para prajurit TNI di kampung halaman menjadi momen langka yang penuh makna. Setelah lama bertugas di berbagai daerah, mereka akhirnya bisa kembali ke pangkuan orang tua.

Makruf mengaku, meski tugas negara menjadi prioritas, kerinduan kepada keluarga tak pernah hilang.

“Sebagai prajurit, kami harus siap ditugaskan di mana saja. Tapi sebagai anak, kami selalu rindu rumah. Lebaran ini adalah momen paling berharga,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Davit yang tak kuasa menahan haru saat kembali memeluk kedua orang tuanya.

“Selama ini hanya lewat telepon. Sekarang bisa bertemu langsung, rasanya luar biasa. Semua pengorbanan orang tua terbayar hari ini,” katanya.

Sementara itu, Mohtar bahkan tak mampu menyembunyikan air matanya saat mengungkapkan rasa syukur.

“Ini Lebaran terindah dalam hidup saya. Melihat orang tua sehat dan bahagia, itu sudah cukup bagi kami,” ucapnya.

Kisah keluarga Suradi menjadi potret nyata perjuangan dan cinta dalam sebuah keluarga sederhana. Lebaran tahun ini membuktikan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah soal kemewahan, melainkan kebersamaan dengan orang-orang tercinta.

Cerita ini pun menjadi inspirasi banyak orang, sekaligus pengingat bahwa di balik kesederhanaan, selalu ada perjuangan besar yang berbuah manis di kemudian hari.

Pos terkait