Surakarta – Warga RW 3 Kelurahan Jagalan, Surakarta, menggelar rangkaian kegiatan untuk memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia. Puncak perayaan diwarnai pagelaran wayang kulit ringkes yang menghadirkan dalang muda Ki Aldy Pratama M.Sn, sekaligus menutup bazar UMKM yang berlangsung sejak 7 Agustus.
Ketua RW 3, Albertus Margono, menjelaskan bahwa pagelaran wayang kulit ini merupakan bagian dari tradisi tirakatan setiap malam 16 Agustus. Tahun ini, ide tersebut diperkaya dengan gagasan dari tokoh masyarakat sekaligus Sekretaris Panitia HUT RI ke-80, Maryono, untuk menggelar bazar UMKM.
“Bazar ini berlangsung mulai 7 hingga 12 Agustus, menampilkan berbagai produk warga. Dalam rangkaian kegiatan juga ada lomba karaoke, penampilan musik bambu, dan akhirnya ditutup dengan pagelaran wayang kulit ringkes,” ujar Margono
Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah melestarikan budaya Jawa, khususnya wayang kulit, serta mengenalkannya kepada generasi muda.
“Banyak anak-anak yang antusias mengikuti, baik sebagai penampil musik maupun penonton,” tambahnya.
Ketua RT 05 RW 3, Toro, mengakui persiapan kegiatan sempat diwarnai miskomunikasi antarwarga. Namun, melalui musyawarah bersama para sesepuh, kegiatan tetap berjalan sesuai rencana. “Harapannya ke depan dikemas lebih baik lagi,” ujarnya.
Panitia pelaksana wisata kuliner, Maryono, menyampaikan bahwa ide bazar UMKM berangkat dari kepedulian terhadap para pedagang lokal. “Kami ingin memberikan ruang pemasaran melalui konsep hiburan rakyat yang sederhana namun meriah,” katanya.
Pagelaran wayang kulit kali ini mengangkat lakon Gatotkoco Jedhi atas usulan dalang Kil Aldy Pratama M.Sn Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh Gatutkaca yang gagah berani dalam perang, namun akhirnya gugur.
“Kisah ini memberi pesan bahwa perjuangan tulus tidak selalu berakhir dengan kemenangan, tetapi tetap layak dikenang,” jelas Maryono.
Selain wayang, malam puncak juga menampilkan perkusi bambu dari anak-anak kampung. Menurut Maryono, kemampuan mereka berkembang dari permainan tradisional tretek yang diwariskan turun-temurun.
“Sekarang bentuknya lebih modern, menjadi perkusi bambu campuran,” tambahnya.
Warga berharap kegiatan ini bisa menjadi program berkelanjutan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan ekonomi UMKM dan mengasah potensi seni anak-anak.






