BOYOLALI – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 TNI Angkatan Udara, Lanud Smo bersama Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) dan Wingdik 400/Matukjur menggelar pagelaran wayang kulit bertajuk “Ksatria Megantara” dengan episode “Merebut Keunggulan di Udara”, Jumat malam (10/4/2026).
Pagelaran budaya ini dimulai pukul 19.30 WIB di kawasan Setukpa, yang berada di sebelah SMA Pradita Dirgantara. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya TNI AU dalam memadukan nilai budaya tradisional dengan semangat pertahanan udara nasional.
Menariknya, pertunjukan wayang kulit ini menghadirkan dalang dari kalangan internal TNI AU, yakni Kolonel Penerbang Urip Widodo bersama Ki Cahyo Kuntadi. Selain itu, suasana semakin semarak dengan kehadiran bintang tamu Niken Salindri dan Korynnako yang turut menghibur para penonton.
Wakil Bupati Boyolali dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai, pagelaran wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya Jawa yang sarat nilai moral dan filosofi kehidupan.
“Siapa lagi yang akan melestarikan budaya Jawa kalau bukan kita sendiri. Kegiatan ini luar biasa karena mampu membangun kecintaan generasi muda terhadap wayang,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan selamat ulang tahun ke-80 kepada TNI Angkatan Udara, seraya berharap institusi tersebut semakin kuat dan terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa.
“Semoga TNI AU semakin berjaya dan terus memberikan pengabdian terbaik bagi Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Komandan Setukpa Kolonel Pnb Urip Widodo menjelaskan bahwa pagelaran ini mengusung tema “Pengabdian Tanpa Batas untuk Indonesia Maju”, yang mencerminkan komitmen TNI AU dalam menjaga kedaulatan udara.
Menurutnya, lakon “Ksatria Megantara” dipilih sebagai simbol kekuatan dan kesiapsiagaan dalam merebut serta mempertahankan keunggulan di udara. Cerita tersebut merupakan adaptasi dari konsep seni militer yang dikolaborasikan dengan seni pertunjukan tradisional.
“Kami ingin memberikan gambaran bahwa dalam kondisi apa pun, negara harus mampu menguasai keunggulan udara. Hal ini kami simbolkan dalam pertunjukan wayang kulit, termasuk visualisasi alutsista seperti rudal hasil karya siswa,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi implementasi nilai TNI AU AMPUH, yaitu adaptif, modern, profesional, unggul, dan humanis.
Nilai adaptif ditunjukkan melalui keterlibatan masyarakat dan pelaku UMKM di sekitar lokasi acara. Konsep modern terlihat dari kemasan pertunjukan yang tidak sepenuhnya klasik. Profesional tercermin dari sinergi berbagai satuan dalam mendukung pelaksanaan kegiatan. Sementara unggul dan humanis diwujudkan melalui pesan pertahanan udara yang disampaikan dengan pendekatan budaya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa TNI AU tidak hanya kuat dalam pertahanan, tetapi juga dekat dan berbaur dengan masyarakat,” ungkapnya.
Pagelaran ini turut dihadiri berbagai unsur pejabat daerah dan direncanakan dihadiri Wali Kota Surakarta beserta jajaran. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya penonton yang mulai berdatangan sejak awal acara.
Dengan menggabungkan nilai budaya dan semangat militer, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya kedaulatan udara bagi Indonesia.






