Wayang Babad Kartasura: Inovasi Seni untuk Menyapa Sejarah dan Merawat Warisan Budaya

Kartasura – Wayang Babad Kartasura hadir sebagai terobosan seni yang menggabungkan nilai edukasi sejarah dengan pelestarian budaya. Karya ini mengangkat kembali jejak panjang keberadaan Kraton Kartasura, yang pernah menjadi pusat kekuasaan penting dalam perjalanan sejarah Jawa.

Gagasan menghadirkan Wayang Babad Kartasura pertama kali dicetuskan oleh pengamat sejarah dan budaya, Dr. H. Djuyamto, S.H., M.H. Ide tersebut kemudian diwujudkan bersama sejumlah seniman, budayawan, dan sejarawan, di antaranya Ki Wahyu Dunung Raharjo, Ki Tulus Raharjo, serta Dr. Rudi Wiratama.

Pertunjukan ini menarasikan perjalanan Kraton Kartasura sejak era Amangkurat II hingga masa Pakubuwana II, termasuk peristiwa besar seperti Geger Pecinan, kisah Untung Suropati, perjuangan Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said), hingga perjanjian Salatiga dan Giyanti. Berbeda dengan wayang tradisional yang banyak menghadirkan tokoh fiksi, Wayang Babad Kartasura menampilkan figur nyata dalam lintasan sejarah, seperti Amangkurat II, Pakubuwana II, Untung Suropati, Raden Mas Said, hingga Sunan Kuning.

Sejumlah panggung prestisius telah menjadi ruang pementasan Wayang Babad Kartasura, mulai dari Pura Mangkunegaran Surakarta, Museum Wayang Fatahillah Jakarta, Masjid Sheikh Zayed Solo, Taman Budaya Jawa Tengah, Petilasan Kraton Kartasura, hingga Bangsal Kreatif Desa Kranggan Makamhaji. Antusiasme masyarakat dalam menyaksikan pentas ini menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap upaya melestarikan seni dan sejarah.

Menurut para penggagasnya, Wayang Babad Kartasura dirancang sebagai media kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman agar generasi muda lebih mudah memahami dan menghayati sejarah. Tidak hanya sebatas tontonan, karya ini juga menjadi gerakan kultural yang memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan leluhur.

Wayang Babad Kartasura kini dipandang sebagai karya monumental yang patut diapresiasi, karena mampu menyatukan seni, sejarah, dan pendidikan dalam satu ruang pementasan yang hidup.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan