Cicilan Terlihat Ringan, Bebannya Bisa Panjang: Lima Pertanyaan yang Menyelamatkan Saya dari Utang 30 Bulan

Ada kalanya seseorang hampir membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tidak ingin merasa tertinggal.

Saya pernah berada di posisi itu.

Sebuah motor listrik seharga Rp18 juta hampir saya bawa pulang dari dealer. Skemanya terlihat sederhana: uang muka Rp2,5 juta, kemudian cicilan sekitar Rp650 ribu per bulan selama 30 bulan.

Rp650 ribu sebulan.

Sekilas tidak terlalu besar.

Tetapi ketika angka itu dikalikan 30 bulan, ceritanya berubah.

Di depan meja dealer, saya sudah memegang pulpen untuk menandatangani dokumen. Tinggal satu langkah lagi.

Namun tiba-tiba saya teringat pesan ibu:

“Jangan membeli sesuatu hanya supaya dipuji orang.”

Pulpen itu akhirnya saya letakkan.

Saya pulang.

Malam itu, saya mencoba melakukan sesuatu yang jarang dilakukan ketika sedang jatuh cinta pada sebuah barang: jujur kepada diri sendiri.

Saya menuliskan lima pertanyaan.

Dan pertanyaan kelima menjadi alasan saya membatalkan semuanya.

Pertanyaan pertama: Motor lama masih bisa jalan atau tidak?

Motor saya saat itu sudah berusia empat tahun.

Mesinnya masih halus. Masih bisa dipakai bekerja, pergi ke pasar, bahkan mengantar barang.

Memang ada masalah kecil. Akinya mulai lemah.

Setelah dicek, solusinya sederhana: ganti aki.

Biayanya sekitar Rp380 ribu.

Saya kemudian sadar, motor lama saya sebenarnya tidak rusak.

Saya hanya bosan.

Saya ingin sesuatu yang baru.

Saya ingin motor listrik.

Dan, kalau mau jujur lebih jauh, saya ingin terlihat keren ketika parkir bersama teman-teman.

Kesadaran itu terasa agak menyakitkan.

Sebab ternyata alasan saya membeli motor baru bukan kebutuhan.

Saya hanya sedang mencari pembenaran untuk keinginan.

Pertanyaan kedua: Apa yang motor baru bisa lakukan, tetapi motor lama tidak bisa?

Saya kembali mengambil kertas.

Saya tulis satu per satu.

Lebih senyap.

Lebih irit.

Dan ada rasa gengsi ketika menggunakannya.

Hanya itu.

Untuk kebutuhan sehari-hari, motor lama sebenarnya sudah cukup.

Jarak rumah ke kantor sekitar 12 kilometer. Saya bukan kurir yang setiap hari mengejar jarak tempuh. Saya tidak membutuhkan kendaraan dengan kemampuan luar biasa hanya untuk perjalanan rutin.

Angka jarak tempuh di brosur memang terlihat mengesankan.

Tetapi saya bertanya lagi:

Apakah angka itu membuat penghasilan saya bertambah?

Jawabannya tidak.

Di sinilah saya mulai memahami perbedaan antara barang yang produktif dan barang yang konsumtif.

Barang produktif membantu pekerjaan atau menghasilkan uang.

Barang konsumtif terutama memberikan kenyamanan, kesenangan, atau kepuasan.

Keduanya tidak salah.

Yang berbahaya adalah ketika barang konsumtif dibeli dengan kemampuan finansial yang sebenarnya belum siap.

Pertanyaan ketiga: Kalau harus beli cash, saya sanggup atau tidak?

Ini bagian yang menarik.

Tabungan saya saat itu sekitar Rp22 juta.

Harga motor Rp18 juta.

Secara matematika sederhana, saya bisa membelinya secara tunai.

Tetapi keuangan tidak sesederhana “punya uang berarti mampu membeli”.

Tabungan tersebut merupakan dana darurat untuk sekitar enam bulan kebutuhan hidup.

Jika Rp18 juta saya keluarkan, uang yang tersisa hanya sekitar Rp4 juta.

Artinya, saya mungkin punya motor baru.

Tetapi saya kehilangan sebagian besar jaring pengaman finansial.

Saya lalu memahami satu prinsip sederhana:

Mampu membayar belum tentu berarti mampu membeli.

Seseorang bisa saja memiliki uang untuk membeli sebuah barang, tetapi tetap belum layak membelinya jika pembelian tersebut membuat kondisi keuangannya rapuh.

Pertanyaan keempat: Kalau kredit, sebenarnya saya membayar berapa?

Di dealer, yang terdengar adalah:

“Cuma Rp650 ribu per bulan.”

Kata “cuma” itu yang sering membuat kita lengah.

Saya mencoba menghilangkan kata tersebut.

Uang muka Rp2,5 juta.

Cicilan Rp650 ribu selama 30 bulan.

Total sekitar Rp22 juta.

Artinya, saya membayar sekitar Rp4 juta lebih mahal dibanding harga barangnya.

Angka Rp650 ribu memang terasa kecil jika dilihat per bulan.

Tetapi ketika dikumpulkan selama 30 bulan, nilainya menjadi besar.

Di sinilah pentingnya melihat total biaya, bukan hanya besarnya cicilan bulanan.

Apalagi kendaraan merupakan barang yang nilainya cenderung mengalami penyusutan.

Saya membayar lebih mahal untuk barang yang nilainya justru terus turun.

Pertanyaan berikutnya menjadi semakin penting.

Pertanyaan kelima: Sebenarnya saya membeli ini untuk siapa?

Jawabannya muncul malam itu.

Saya melihat grup warga di kompleks.

Beberapa orang baru membeli motor listrik.

Ada foto.

Ada obrolan.

Ada cerita tentang fitur dan teknologi.

Dan tiba-tiba saya merasa tertinggal.

Bukan karena kendaraan saya tidak berfungsi.

Bukan karena pekerjaan saya terganggu.

Bukan pula karena kebutuhan transportasi saya berubah.

Saya hanya tidak ingin merasa kalah gaya.

Di situlah pesan ibu kembali terngiang:

“Jangan beli barang cuma supaya dipuji orang.”

Saya terdiam.

Saya hampir mengambil utang selama 30 bulan hanya untuk mengejar penilaian orang lain.

Padahal orang-orang yang ingin saya impress itu belum tentu peduli dengan cicilan saya.

Mereka mungkin hanya melihat motor barunya.

Saya yang harus membayar cicilannya.

Akhirnya, saya memilih motor lama.

Saya mengganti aki.

Rp380 ribu.

Selesai.

Motor kembali digunakan seperti biasa.

Kemudian saya membuat keputusan lain.

Uang Rp650 ribu yang tadinya akan menjadi cicilan, saya sisihkan setiap bulan.

Bukan untuk membayar utang.

Tetapi untuk membangun aset.

Dalam perjalanan waktu, uang tersebut berkembang menjadi modal yang kemudian bisa saya gunakan untuk usaha kecil.

Dua tahun kemudian, saya akhirnya membeli motor baru.

Kali ini secara tunai.

Dan ada perasaan yang berbeda.

Bukan lagi perasaan:

“Akhirnya saya bisa terlihat keren.”

Melainkan:

“Sekarang saya memang sudah mampu.”

Perbedaannya ternyata besar.

Yang pertama lahir dari gengsi.

Yang kedua lahir dari kemampuan.

Cicilan bukan musuh

Cerita ini bukan berarti semua cicilan buruk.

Tidak.

Cicilan bisa menjadi alat keuangan yang berguna jika digunakan dengan perhitungan matang.

Kendaraan yang benar-benar dibutuhkan untuk bekerja, misalnya, bisa memiliki nilai produktif.

Tetapi persoalannya berbeda ketika seseorang mengambil cicilan panjang untuk barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, sementara alasan terbesarnya adalah gengsi.

Karena yang dibeli bukan hanya barang.

Yang ikut dibeli adalah kewajiban.

Setiap bulan ada tanggal jatuh tempo.

Ada uang yang harus disisihkan.

Ada ruang keuangan yang menjadi lebih sempit.

Dan selama 30 bulan, keputusan yang dibuat dalam satu sore akan terus mengikuti kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya saya sekarang punya aturan sederhana.

Saya menunda tujuh hari setiap kali ingin membeli barang mahal.

Kalau ada barang di atas Rp1 juta yang ingin saya beli, saya tidak langsung membayar.

Saya tunggu tujuh hari.

Selama tujuh hari itu saya bertanya:

Saya benar-benar membutuhkan ini atau hanya sedang menginginkannya?

Ternyata cukup banyak keinginan yang mati dengan sendirinya setelah diberi waktu.

Yang masih bertahan setelah tujuh hari baru saya pertimbangkan lagi.

Bukan berarti semua pembelian harus ditolak.

Tetapi keputusan yang melewati masa impulsif biasanya lebih rasional.

Sebab persoalannya bukan motor.

Bukan pula soal motor listrik atau motor bensin.

Persoalannya adalah kemampuan kita membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan gengsi.

Kita hidup di zaman ketika barang baru terus datang.

Ponsel baru.

Motor baru.

Mobil baru.

Rumah baru.

Gawai baru.

Promosi cicilan membuat semuanya terlihat mudah.

“Cuma sekian ratus ribu per bulan.”

Padahal hidup kita tidak berjalan dalam hitungan satu bulan.

Ada 12 bulan.

Ada 24 bulan.

Ada 30 bulan.

Dan keputusan kecil yang terasa ringan hari ini bisa berubah menjadi beban panjang ketika terlalu banyak keputusan serupa dilakukan bersamaan.

Karena itu, sebelum menandatangani cicilan, mungkin ada baiknya berhenti sebentar.

Tarik napas.

Letakkan pulpen.

Kemudian tanyakan lima hal:

1. Barang lama saya masih berfungsi atau tidak?

2. Apa manfaat barang baru yang benar-benar saya butuhkan?

3. Kalau membeli cash, apakah dana darurat saya tetap aman?

4. Berapa total uang yang akan saya keluarkan sampai cicilan lunas?

5. Saya membeli barang ini untuk kebutuhan saya, atau untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain?

Pertanyaan terakhir mungkin yang paling tidak nyaman.

Tetapi terkadang pertanyaan yang paling tidak nyaman justru yang paling menyelamatkan.

Sebab utang tidak selalu dimulai dari kebutuhan besar.

Kadang ia dimulai dari satu kalimat sederhana:

“Biar nggak kalah sama orang lain.”

Dan saya hampir membayar kalimat itu selama 30 bulan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan