SEMARANG – Puncak Gunung Bulusan yang terkenal dengan medan terjal dan berbatu ternyata tidak menyurutkan semangat warga senior dari RT 4 RW 5. Dalam kegiatan tracking akhir pekan ini, puluhan lansia berusia 60 hingga 73 tahun sukses menaklukkan jalur pendakian ikonik di Semarang Selatan tersebut.
Medan Tracking Bulusan yang dikenal ekstrem dengan tanjakan tajam dan bebatuan licin menjadi tantangan utama. Namun, bagi para peserta senior, rintangan ini justru menjadi bukti bahwa usia hanyalah angka.
“Sangat ekstrem dan terjal ya medannya di Bulusan ini. Untung saya masih kuat, usia saya sudah 60 tahun demi warga RT 4 RW 5 yang semakin kompak gini,” ujar salah satu peserta senior usai mencapai pos istirahat.
Nostalgia Gerak Jalan Masa Muda
Bagi seorang peserta berusia 72 tahun, mendaki Bulusan membawa kenangan masa muda. Ia mengenang pengalaman lomba gerak jalan sejauh 28 km dari Karangjati ke balik kota saat masih berusia 17 tahun.
“Kan menjadi nostalgia bagi saya… Makanya saya pengin tahu tantangannya seperti apa di Bulusan ini,” tuturnya sambil tersenyum. Ia juga menekankan pentingnya menggunakan sepatu hiking khusus untuk menghadapi karakteristik tanah dan batu di jalur Bulusan agar terhindar dari cedera.
Momen Menegangkan di Jalur Licin
Nur Aini (73), peserta wanita tertua, membagikan cerita paling menegangkan. Ia hampir terjatuh saat melintasi area berbatu yang tertutup daun dan akar pohon besar—karakteristik khas jalur hutan di Bulusan.
“Di situ mulai seram, mulai berosot… Rasanya kayak berpengalaman banget kayak di gunung asli,” kenangnya. Meski sempat kesulitan, ia berhasil menyelesaikan perjalanan dengan selamat dan menyebut kegiatan ini sebagai “olahraga sambil hiburan pemandangan”.
Kegiatan tracking di Gunung Bulusan ini bukan sekadar uji fisik, melainkan perayaan kebersamaan warga RT 4 RW 5 yang membuktikan bahwa semangat gotong royong dan kebugaran bisa bertahan hingga usia senja.






