Orang Muda Tantang Calon Walikota Solo untuk Ciptakan Kebijakan Kesehatan Anti-Rokok

Solo – Sebanyak 120 orang muda memadati Taman Cerdas Soekarno-Hatta, Jebres, Surakarta, dalam rangka membahas kebijakan publik yang bermakna di Kota Surakarta. Acara ini digagas oleh Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), berkolaborasi dengan Yayasan KAKAK, Pemuda Penggerak, Generasi Anti Rokok, dan International Youth Tobacco Control (IYTC). Diskusi publik ini bertema “Cegah Solo Jadi Rungkad: Saatnya Buat Kebijakan yang Sehat”, dengan fokus utama pengendalian konsumsi rokok.

 

Shoim Sahriyati, ketua Yayasan KAKAK, dalam paparannya menjelaskan bahwa masalah rokok semakin mengkhawatirkan, dengan prevalensi perokok anak yang terus meningkat. Padahal, Undang-Undang Perlindungan Anak mewajibkan negara hadir dan menjamin perlindungan khusus terhadap anak dari bahaya zat adiktif seperti rokok. Kota Solo berambisi mendapatkan predikat Kota Layak Anak Paripurna, namun masih menghadapi tantangan, termasuk dalam hal kawasan tanpa rokok dan pelarangan iklan, promosi, serta sponsorship rokok.

 

“Kami berupaya melibatkan orang muda dalam perumusan kebijakan yang partisipatif dan bermakna. Isu kesehatan adalah fokus utama kami dalam mengarusutamakan aspek sehat dalam setiap kebijakan publik, dan momentum Pilkada harus dimanfaatkan oleh orang muda,” kata Ketua Umum IYCTC, Manik Marganamahendra.

 

Manik menambahkan, acara ini bertujuan menjembatani komunikasi antara pemangku kebijakan dan kaum muda, sehingga suara mereka dapat lebih didengarkan dalam merancang kebijakan yang efektif dan inklusif. “Kegiatan ini juga merupakan bagian dari gerakan kolektif Save Our Surroundings (SOS) dengan tagar #LindungiKiniNanti, yang bertujuan membangun kesadaran dan tindakan kolektif untuk melindungi anak dari bahaya rokok dan vape,” ujar Manik.

 

Pemuda Penggerak, melalui Wakil Ketua Aprilia Dian, berbagi pengalaman tentang advokasi yang telah dilakukan untuk mendorong kebijakan pengendalian rokok yang lebih kuat di Kota Surakarta, termasuk monitoring iklan rokok dan pendampingan dalam pembuatan Peraturan Daerah terkait Kawasan Tanpa Rokok dan pelarangan iklan rokok.

 

Lisa Lu, Chief Executive Officer (CEO) International Youth Tobacco Control (IYTC), menyampaikan praktik-praktik baik yang telah dilakukan di Amerika Serikat, termasuk edukasi tentang bahaya rokok dan lobbying untuk kebijakan pelarangan peredaran rokok beraroma di California.

 

Diskusi publik ini juga dihadiri oleh Tulus Widjajat, Ketua Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Surakarta; Sugeng Riyanto, Wakil DPRD Kota Surakarta; dan Her Suprabu, Bakal Calon Walikota Surakarta. Tulus menekankan pentingnya kebijakan untuk mencegah anak menjadi perokok, sementara Sugeng mendorong publik memanfaatkan momentum Pilkada untuk membuat perjanjian dengan calon walikota terkait kebijakan Solo Layak Anak Paripurna 2025. Her Suprabu setuju dengan pelarangan iklan rokok dan berkomitmen mencari pemimpin yang tidak merokok dan mau mewujudkan kebijakan kesehatan yang lebih baik.

 

Acara ini ditutup dengan pelatihan sosial media oleh Generasi Anti Rokok. Dwi Ardini Pratiwi, Program Manager Generasi Anti Rokok, menyampaikan bahwa orang muda harus tegas menolak rokok dan berperan dalam advokasi melalui sosial media, termasuk melaporkan iklan rokok yang tersebar di media sosial. “Saat ini, teman-teman dapat menandatangani petisi untuk mendorong pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Kesehatan sebagai turunan dari Undang-Undang nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan, untuk memperkuat kebijakan pengendalian konsumsi rokok di Indonesia,” tutup Ardini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan