Board Game Land Solo 2025: Ketika Keluarga Berkumpul, Gawai Ditinggal, Tawa Bersama Dirayakan

SURAKARTA – Minggu pagi tadi (20/7/), suasana halaman terbuka Taman Cerdas Jebres pusat kota Surakarta terasa berbeda. Tak ada keramaian khas pasar atau denting notifikasi ponsel yang biasa menemani akhir pekan. Sebaliknya, suara tawa anak-anak, sorakan ibu-ayah, dan derap langkah kecil menyambut sesi permainan mencairkan udara. Inilah Board Game Land (BORDGAMELAND) Solo 2025, sebuah gerakan nasional untuk membangun ekosistem keluarga yang lebih hangat dan komunikatif di era digital yang serba individualistik.

Diselenggarakan oleh Komunitas Ibu Profesional Solo Raya bersama mitra edukasi, kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye nasional yang berlangsung di 32 kota. Solo mendapat giliran menjadi tuan rumah, menghadirkan ratusan keluarga dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Salatiga, hingga Klaten yang tumpah ruah bersama anak-anak mereka di akhir pekan yang penuh makna.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, dalam sambutan pembukaannya, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif komunitas yang dinilainya tidak hanya kreatif, tetapi juga sangat relevan dengan tantangan zaman.

“Saya melihat antusiasme luar biasa dari keluarga di sini. Anak-anak tertawa, orang tua hadir sepenuhnya. Inilah bentuk pendidikan sejati. Bukan hanya soal nilai akademik, tapi membangun kedekatan emosional dan karakter lewat waktu berkualitas,” ujar beliau, seraya mengenakan kaos tema acara berwarna kuning lebah, sama seperti ratusan peserta lainnya.

Bukan Sekadar Bermain

Mengusung tema “Solo Bermain, Jelajah Rasa Lewat Papan dan Cerita”, kegiatan ini tak sekadar ajang hiburan, tetapi juga alat restorasi hubungan keluarga. Di tengah maraknya penggunaan gawai, BORDGAMELAND hadir sebagai alternatif sehat dan menyenangkan.

“Kita sering lihat keluarga makan bersama, tapi masing-masing sibuk dengan HP-nya. Hari ini, kami ingin membalik keadaan. Anak-anak dan orang tua bukan hanya hadir secara fisik, tapi benar-benar terhubung secara emosi,” tegas Septi Peni Wulandani, founder Board Game Land dan Komunitas Ibu Profesional.

Peni menambahkan bahwa kecanduan game online yang banyak dikeluhkan masyarakat sebenarnya bukan persoalan anak, tapi absennya kehadiran emosional orang tua.

“Game online selalu update, sementara orang tua sering tidak. Maka anak memilih yang paling ‘hadir’. Dengan board game, kita bangun kebiasaan baru: kecanduan interaksi nyata,” jelasnya.

Dari Bau-Bau ke Karawang, 32 Kota Bergerak

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Solo. Board Game Land telah digelar secara serentak di 32 kota dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara hingga Karawang, Jawa Barat. Formatnya sederhana: orang tua hadir, anak bermain, dan interaksi menjadi pusat kegiatan. Tapi dampaknya luar biasa.

Di Solo, acara ini dikemas dengan pendekatan lokal yang kental. Anak-anak tidak hanya bermain, tapi juga diajak mengenali rasa, cerita, dan nilai-nilai sosial budaya. Konsep ini sejalan dengan misi Kota Surakarta sebagai Kota Ramah Anak sekaligus Kota Budaya.

“Solo sudah meraih status kota layak anak hampir paripurna. Harapan kami, ini terus meningkat. Fasilitas publik, ruang bermain, dan ekosistem pembelajaran keluarga seperti ini harus menjadi standar internasional,” ujar Wakil Wali Kota dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan peserta.

Gerakan yang Perlu Dilanjutkan

Kegiatan seperti BORDGAMESLAND diyakini bukan hanya sekadar proyek satu hari, tapi bisa menjadi gerakan sosial berkelanjutan. Wali Kota bahkan menjanjikan dukungan penuh agar acara serupa bisa diselenggarakan rutin tiap tahun.

“Saya ingin tahun depan acara ini lebih besar lagi. Pemerintah Kota siap mendukung karena ini bagian dari pembangunan karakter dan mentalitas keluarga Surakarta. Kita ingin anak-anak tumbuh dengan cinta, komunikasi yang hangat, dan lingkungan bermain yang sehat,” tegasnya.

Lebah-lebah Kecil yang Bahagia

Sore itu, anak-anak dengan kostum kuning khas tema “lebah bahagia” berlarian sambil membawa pion-pion besar. Orang tua menyusul di belakang, tertawa, berdiskusi, bahkan ikut bermain. Tak ada layar kaca, tak ada notifikasi. Hanya ruang bermain yang sesungguhnya: dunia nyata, bersama keluarga.

Sebuah momentum langka yang mungkin hanya terjadi sesekali dalam kehidupan anak-anak kita. Tapi justru dari sinilah kenangan dan karakter mereka bertumbuh bukan dari layar, tapi dari tangan yang menggenggam, mata yang memandang, dan hati yang hadir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan