Doa Bersama dan Bancakan di Sriwedari: Warga Solo Satukan Doa untuk Menjaga Marwah Kota Budaya

SURAKARTA – Kamis sore, 11 September 2025, ratusan warga Solo berkumpul di Plaza Sriwedari. Di bawah rindangnya pepohonan tua yang menjadi saksi perjalanan sejarah kota ini, digelar Doa Bersama dan Bancakan yang diprakarsai Persatuan Anak Bangsa Surakarta (PABS). Acara itu sederhana: doa bersama, sambutan para tokoh, lalu makan tumpeng beralas daun pisang. Namun di balik kesederhanaan, tersimpan pesan besar: Solo ingin tetap dikenal sebagai kota budaya, damai, dan beradab.

Sriwedari, Ruang Bersejarah

Sriwedari bukan sekadar plaza di jantung kota. Sejak abad ke-19, tempat ini telah menjadi panggung kesenian rakyat, dari wayang orang hingga ketoprak, sekaligus ruang egaliter di mana rakyat dan penguasa bisa berbaur.

Budayawan UNS, Dr. Raden Widodo, menegaskan pemilihan lokasi ini sarat makna.

“Sriwedari adalah ruang persaudaraan. Doa bersama di sini mengingatkan kita bahwa Solo bukan hanya kota budaya, tapi juga kota kebersamaan. Di sinilah rakyat merasa setara,” ujarnya.

Ritual Bancakan: Filosofi Kesetaraan

Acara berlangsung runtut: menyanyikan Indonesia Raya, doa oleh Gus Drajat, sambutan Ketua Umum PABS Dosy Marta, sambutan perwakilan warga Dr. Brm. Kusumo Putro, SH., MH., serta Wali Kota Surakarta. Setelah itu, digelar umbul donga lalu pembagian tumpeng.

Tradisi bancakan atau makan bersama nasi tumpeng memakai pincuk daun pisang mengandung filosofi kesetaraan. Semua duduk sama rendah, tak ada sekat antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat kecil.

Ketua PABS, Dosy Marta, menyampaikan kritik terbuka terkait absennya pejabat dalam acara tersebut.

“Saya sudah undang DPRD, wali kota, semua pemangku kepentingan. Harapannya duduk bareng dengan rakyat. Sayangnya, tidak ada yang hadir. Padahal wong cilik hanya ingin aman, nyaman, gampang golek rezeki. Pemerintah harus mendengar suara rakyat, jangan asal bicara,” katanya.

Sambutan Dr. Brm. Kusumo Putro: Menolak Anarkisme, Menjaga Solo

Salah satu sambutan paling menggugah datang dari Dr. Brm. Kusumo Putro, SH., MH., yang mewakili masyarakat Solo Raya. Dengan suara tegas, ia mengingatkan warga agar menjaga Solo dari kekerasan dan anarkisme.

“Hari ini kita makan bancakan sebagai puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita patut bersyukur karena Solo tidak sempat hancur meski diguncang persoalan. Marilah kita sepakat, Solo kota yang dikenal dengan adat istiadat dan kearifan lokalnya. Kota ini sudah ada sebelum republik lahir, sudah punya aturan dan tatanan,” ucapnya.

Ia menegaskan Solo harus tetap menjadi kota yang aman, tentram, dan nyaman.

“Solo tidak kenal anarkisme. Solo tidak kenal kekerasan. Mari kita jaga agar kota ini tidak koyak, agar warganya tetap rukun. Kasihan pedagang kecil, tukang becak, pekerja kasar mereka yang paling merasakan dampak kalau kota ini ricuh. Hari ini bukti kecintaan kita pada Solo, sekaligus pada Republik Indonesia,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Kusumo Putro juga meminta aparat hukum bertindak tegas.

“Siapapun yang membuat resah, menakut-nakuti, atau merugikan masyarakat harus ditindak tegas. Tidak boleh pandang bulu. Karena keamanan adalah fondasi ekonomi dan budaya,” tambahnya.

Luka Lama: Bayang-bayang Kerusuhan 1998

Pesan itu lahir dari sejarah panjang Solo. Kota ini pernah menjadi episentrum kerusuhan Mei 1998. Pasar terbakar, toko dijarah, ribuan warga trauma. Peristiwa itu meninggalkan luka sosial yang masih membekas hingga kini.

Sejarawan lokal, Bambang Haryanto, menyebut kerusuhan 1998 membuat warga Solo lebih sensitif terhadap potensi gejolak.

“Trauma itu jadi semacam alarm sosial. Warga cepat bersatu jika muncul tanda-tanda kericuhan. Doa bersama seperti ini jadi pagar budaya untuk mencegah sejarah kelam terulang,” ujarnya.

Dimensi Ekonomi-Budaya

Selain sebagai ritual spiritual, bancakan juga memberi dampak ekonomi. Dari petani penyedia beras, pedagang sayur, hingga penjual lauk, semua ikut terlibat dalam rantai penyelenggaraan tradisi ini.

Ekonom budaya, Dr. Lestari Prabowo, menilai acara ini sebagai “modal sosial” yang berharga.

“Bancakan memperkuat solidaritas sekaligus menghidupi ekonomi rakyat. Budaya semacam ini relevan di era modern karena menumbuhkan kepercayaan dan kebersamaan,” katanya.

Refleksi Kolektif

Bagi banyak warga, doa bersama ini bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi. Solo yang dikenal santun dan berbudaya sempat diguncang masalah sosial. Melalui doa, masyarakat meneguhkan kembali jati dirinya.

Sriyanto (47), seorang pedagang kaki lima yang ikut hadir, mengaku merasakan kedamaian.

“Makan bareng di tikar ini bikin hati adem. Harapannya Solo tetap tentram, biar kami bisa jualan dengan tenang,” ujarnya.

Pesan Penutup: Solo Kota Budaya

Acara berakhir menjelang senja. Warga beranjak dengan hati yang lebih teduh, membawa pesan bahwa budaya adalah benteng, doa adalah ikatan moral, dan solidaritas adalah kekuatan menghadapi zaman.

Dari Sriwedari, suara rakyat Solo bergema: Solo adalah kota budaya, dan rakyatnya siap menjaganya. Dengan doa, persaudaraan, dan kearifan lokal, Solo menolak anarkisme, merawat tradisi, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan