Aryo Penangsang: Bukan Penguasa Kejam, Sosok Hebat Pembangun Jayakarta yang Terhapus Sejarah Pemenang

Solo – Narasi sejarah yang kita kenal selama ini sering kali hanya memuat versi para pemenang. Salah satu contoh paling nyata adalah kisah Aryo Penangsang, sosok yang dalam cerita tutur dan panggung ketoprak kerap digambarkan sebagai tokoh pemarah, berangasan, dan kejam. Namun, sebuah kajian mendalam berbasis naskah kuno membongkar fakta yang sangat berbeda: Aryo Penangsang sejatinya adalah pewaris sah takhta Demak, pembangun kejayaan Jayakarta, dan tokoh berkarakter luhur yang namanya tergerus kepentingan politik.

Berikut adalah ringkasan dan analisis bedah sejarah Aryo Penangsang yang dibahas dalam Forum Budaya Mataram (FBM), disampaikan oleh R. Surojo selaku Wakil Ketua FBM, dengan merujuk pada sumber utama Kitab Al Fatawi (Silsilatul Syar’i) karya KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma yang ditulis tahun 1910. Dokumen ini menawarkan perspektif historiografi alternatif yang bertolak belakang dengan Babad Jawa versi Mataram maupun Pajang yang menjadi acuan utama hingga kini.

Bacaan Lainnya

Dari Cap “Kejam” Menjadi Ahli Waris yang Sah

Selama berabad-abad, citra Aryo Penangsang dibentuk negatif oleh sejarah arus utama. Ia dicap sebagai sosok yang suka berperang dan memberontak terhadap kekuasaan Pajang. Namun, kajian ini menegaskan bahwa penilaian itu hanyalah konstruksi politik pihak pemenang untuk melemahkan posisinya.

Fakta sejarah yang sesungguhnya menyebutkan Aryo Penangsang adalah Sultan Demak V yang sah. Setelah Sunan Prawoto gugur, ia memindahkan pusat pemerintahan ke Jipang Panolan. Langkah ini sama sekali bukan bentuk pemberontakan, melainkan upaya menegakkan hak warisnya sebagai keturunan garis lurus dari Pangeran Sekar Seda Lepen, putra pendiri Kesultanan Demak, Raden Patah.

Berdasarkan sudut pandang geopolitik saat itu, justru Jipang berada di posisi bertahan. Sementara itu, Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya dari Pajanglah yang bergerak agresif untuk menguasai wilayah bekas kekuasaan Demak.

Kajian ini juga merehabilitasi nama baik Sunan Kudus, yang sering dianggap licik karena memihak Aryo Penangsang. Padahal, sebagai senopati dan hakim, sikap Sunan Kudus adalah bentuk penegakan hukum dan pembelaan terhadap kebenaran serta hak waris yang sah.

Jejak Tersembunyi: Aryo Penangsang Membangun Jayakarta (1540–1546)

Salah satu temuan terbesar dari Kitab Al Fatawi adalah peran besar Aryo Penangsang di wilayah pesisir barat yang tak tercatat dalam babad Jawa Tengah maupun Timur. Pada kurun waktu 1540 hingga 1546 Masehi, Aryo Penangsang yang dikenal juga sebagai Aria Jipang diutus oleh Majelis Walisongo dan Sultan Trenggono ke Jayakarta.

Tugas utamanya adalah mendampingi dua tokoh besar, Fatahillah dan Maulana Hasanuddin. Jayakarta yang baru saja berdiri saat itu membutuhkan sosok ahli militer sekaligus pemimpin yang paham tata pemerintahan. Di sinilah Aryo Penangsang menjabat sebagai Mangkubumi atau Perdana Menteri di bawah pemerintahan Hikmah Jumhuriah Jayakarta, saat Maulana Hasanuddin menjabat sebagai Pangeran Ratu Jayakarta I.

Bukti keberadaannya sangat nyata hingga kini. Wilayah seperti Jelambar dan Marunda di Jakarta masih memiliki catatan sejarah kepemilikan tanah atau Eigendom atas nama Tanah Aria Jipang. Di bawah kepemimpinannya, Jayakarta mengalami masa keemasan ekonomi sekaligus menjadi pusat penyebaran ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang damai, khas cara dakwah para Walisongo.

Warisan Budi Pekerti: Sosok Lembut yang Menjauhi Pertengkaran

Berbanding terbalik dengan citra pemarah yang melekat, naskah kuno ini mencatat Aryo Penangsang sebagai sosok berakhlak mulia yang meninggalkan banyak wasiat berharga bagi rakyat Jayakarta. Berikut gambaran asli karakter dan ajarannya:

Sifat Pribadi:
✅ Tidak pemarah dan mengedepankan ketenangan
✅ Tidak banyak bicara, lebih memilih bekerja dan bertindak nyata
✅ Adil, bijaksana, dan selalu menebarkan kebaikan
✅ Memiliki budi pekerti terpuji, jujur, dan teguh pendirian
✅ Menghindari pertengkaran yang tidak mendasar atau tidak prinsipil
✅ Berani membela kebenaran dan pihak yang tertindas

Ajaran Sosial & Keagamaan:

– Mewajibkan pengamalan ajaran Nabi Muhammad SAW dan meneladani laku prihatin Walisongo, misalnya berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsu.
– Mengutamakan prinsip Guru Ratu Pangatur Akur, yakni menjaga kedamaian dan persatuan.
– Menjunjung tinggi perlindungan terhadap hak-hak rakyat kecil serta mengajarkan kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup.

Jejak Keturunan: Trah Pejuang dan Ulama di Tanah Betawi

Silsilah Aryo Penangsang tercatat luhur, bersambung hingga Rasulullah SAW melalui jalur Imam Husain bin Ali. Nama lahirnya sendiri adalah Sayyid Husein. Di tanah Jayakarta atau yang kelak dikenal sebagai Batavia, keturunannya tumbuh menjadi tokoh-tokoh penting yang membela tanah air dan agama, antara lain:

– Raden Ateng Kertadria, pahlawan dalam Perang Pecah Kulit
– Aria Wiratanudatar, cikal bakal Adipati Cianjur
– Datuk Kidam Kayu Putih, pendiri pesantren besar di Jakarta Timur
– Syekh Junaid Al Batawi, ulama besar Betawi yang menjadi Maha Guru di Mekkah
– Guru Mansur Sawah Lio, ahli falak dan rujukan agama
– Komunitas pendekar yang melahirkan legenda rakyat Pitung

Benang Merah Demak, Jayakarta, dan Mataram

Dokumen ini juga mengungkap fakta mengejutkan mengenai Ki Juru Mertani, tokoh Mangkubumi legendaris Mataram. Dalam catatan sejarah Mataram, disebutkan ia tak memiliki keturunan di Jawa Tengah. Namun, catatan Jayakarta menyebutkan Ki Juru Mertani yang bernama asli Ki Mas Wisesa Adimerta pernah menjabat sebagai Mangkubumi di Jayakarta dan memiliki putra bernama Pangeran Kawisadimerta. Putranya ini kelak dikenal sebagai Pangeran Jayakarta IV atau Wijayakrama III.

Hal ini membuktikan adanya ikatan darah dan kerja sama erat antara keturunan Demak, Banten, Jayakarta, dan Mataram. Persekutuan ini terbentuk untuk menghadapi musuh bersama: kolonialisme Portugis dan VOC yang mulai merongrong kedaulatan nusantara.

Kesimpulan

Sejarah adalah interpretasi dari siapa yang menuliskannya. Melalui Kitab Al Fatawi, kita disadarkan bahwa Aryo Penangsang bukanlah sosok yang selama ini digambarkan. Ia adalah Sultan yang sah, diplomat militer ulung yang meletakkan dasar kota Jayakarta, serta pemimpin bijak yang melahirkan generasi pejuang dan ulama.

Kisah Aryo Penangsang adalah bukti nyata bahwa sejarah para pemenang sering kali menghapus jasa para tokoh besar, namun jejak kebenaran akan tetap tersimpan dan terungkap kembali untuk melengkapi memori kolektif bangsa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan