SOLO – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, ajaran tentang pengendalian diri, persaudaraan, dan kebersihan hati dinilai semakin relevan. Nilai-nilai tersebut menjadi inti wejangan yang disampaikan Sesepuh Setia Hati, Eyang Kresno Budoyo, dalam sebuah forum pembinaan warga persaudaraan.
Di kalangan insan pencak silat, Eyang Kresno Budoyo dikenal sebagai salah satu sesepuh yang telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia Setia Hati. Kiprahnya tidak hanya dikenal sebagai pendekar, tetapi juga sebagai sosok yang konsisten mengajarkan nilai-nilai budi pekerti, pengendalian diri, dan filosofi kehidupan.
Riwayat perjalanan tersebut diungkapkan Kangmas Adrianus Agus Santosa dalam diskusi di grup WhatsApp Forum Komunikasi Persaudaraan Setia Hati (Forkom PSHP). Menurut Adrianus, dirinya mengenal Kresno Budoyo sejak sama-sama menjalani latihan pada era 1970-an.
“Mas Kresno Budoyo sekarang di PRSH. Dulu teman latihan dengan saya. Mulai tahun 1972 sampai 1975 disahkan. Beliau lebih senior dari saya. Ketika saya masih polos, beliau sudah hijau. Saat itu masih belajar jurus baru,” ungkap Adrianus Agus Santosa.
Adrianus menuturkan, setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA), Kresno Budoyo melanjutkan pendalaman ilmu pencak silat di Boyolali kepada almarhum Hasan. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga pernah mengemban amanah sebagai lurah sebelum melanjutkan pengabdiannya di dunia persaudaraan.
“Terakhir saya mengikuti kabar beliau bersama Mas Imron, dan sekarang tinggal di padepokan PRSH,” tambahnya.
Menurut Adrianus, setiap pendekar memiliki perjalanan hidup, guru, dan jalan pengabdian yang berbeda. Perbedaan itu justru menjadi bagian dari kekayaan nilai dalam dunia persaudaraan.
Pandangan senada disampaikan kangmas Rangga Bintik, yang menilai perjalanan panjang Eyang Kresno Budoyo menjadi bukti konsistensinya dalam menjaga nilai-nilai luhur pencak silat.
“Dari cerita tersebut terlihat bahwa Mas Kresno Budoyo telah lama menekuni dunia pencak silat sejak era awal, menimba ilmu dari beberapa guru, hingga akhirnya mengabdikan diri di PRSH. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, keberkahan, dan tetap menjadi teladan dalam melestarikan nilai-nilai luhur persaudaraan, budi pekerti, serta budaya pencak silat,” ujar Rangga Bintik.
Bagi Eyang Kresno Budoyo sendiri, Setia Hati bukan sekadar identitas sebuah organisasi pencak silat maupun paguyuban. Setia Hati merupakan jalan pendidikan karakter yang menempatkan manusia agar mampu mengenal dirinya sendiri, menghormati sesama, serta mendekatkan diri kepada Tuhan melalui laku kehidupan.
“Ilmu itu tidak berhenti pada hafalan. Dalam falsafah Jawa dikenal istilah kelakone kanthi laku, artinya ilmu baru memiliki makna ketika dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,” terang Eyang Kresno Budoyo.
Pandangan tersebut kemudian diterjemahkan dalam tujuh pondasi penghayatan yang menurutnya harus dipahami secara utuh, bukan sekadar dihafalkan.
Persaudaraan, Bukan Sekadar Ikatan Keanggotaan
Pondasi pertama adalah persaudaraan.
Menurut Eyang Kresno Budoyo, banyak orang memahami persaudaraan hanya sebatas hubungan antarsesama anggota. Padahal makna yang sesungguhnya jauh lebih luas.
Persaudaraan merupakan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Tuhan. Karena itu, seseorang tidak boleh merasa lebih tinggi, lebih suci, atau lebih hebat dibanding orang lain.
Persaudaraan juga menuntut sikap saling membantu tanpa memandang suku, agama, status sosial maupun latar belakang.
“Kalau persaudaraan hanya berhenti di lingkungan sendiri, berarti belum menemukan makna seduluran yang sebenarnya,” ujarnya.
Welas Asih sebagai Dasar Kehidupan
Pondasi kedua adalah welas atau kasih sayang.
Dalam pandangan Eyang Kresno Budoyo, seluruh tindakan manusia semestinya dilandasi rasa welas asih.
Kasih sayang bukan hanya kepada keluarga, melainkan kepada siapa pun, termasuk mereka yang berbeda pendapat sekalipun. Orang yang memiliki welas asih tidak mudah membalas kebencian dengan kebencian, tetapi memilih jalan memaafkan dan mengedepankan kebijaksanaan.
Dharma Berarti Mengabdi
Pondasi ketiga adalah darmane laku.
Eyang Kresno Budoyo menjelaskan bahwa dharma berarti pengabdian. Pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui hal besar. Menolong sesama, bekerja dengan jujur, menghormati orang tua, menjaga lingkungan, hingga bersedekah sesuai kemampuan merupakan bentuk pengabdian yang nyata.
Baginya, ukuran seseorang bukan terletak pada seberapa tinggi ilmu yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama.
Simbol Tradisi Mengandung Falsafah
Pada pondasi keempat, Eyang Kresno Budoyo mengajak warga memahami tegese ubarampe, yaitu makna di balik simbol-simbol tradisi.
Ia mencontohkan penggunaan kain mori putih yang sering dijumpai dalam berbagai tradisi Jawa. Warna putih melambangkan kesucian hati, kejujuran, dan kesiapan manusia untuk kembali kepada Sang Pencipta.
Menurutnya, simbol-simbol budaya bukan sekadar perlengkapan ritual, melainkan media pembelajaran agar manusia senantiasa mengingat hakikat kehidupan.
Pepatuh sebagai Batas Moral
Pondasi kelima adalah tidak melanggar pepatuh.
Pepatuh dipahami sebagai larangan atau aturan moral yang menjaga seseorang agar tidak keluar dari jalan kebaikan.
Larangan tersebut mencakup kejujuran, kesetiaan kepada pasangan, tidak mengambil hak orang lain, tidak memfitnah, tidak menyakiti sesama, serta menjauhi kesombongan.
“Pepatuh bukan dibuat untuk membatasi manusia, tetapi menjaga manusia agar tidak terjerumus oleh hawa nafsunya sendiri,” jelasnya.
Menjaga Kebersihan Hati
Pondasi keenam menjadi inti seluruh ajaran, yakni mengesakan hati sendiri.
Dalam bahasa Jawa, Eyang Kresno Budoyo berulang kali mengingatkan,
“Ojo nganti ati iki reget.”
Menurutnya, hati merupakan pusat dari seluruh perilaku manusia. Bila hati dipenuhi iri, dendam, dan kebencian, maka tindakan manusia pun akan dipengaruhi oleh kegelapan tersebut.
Sebaliknya, hati yang bersih akan melahirkan ketenangan, kebijaksanaan, serta kemampuan melihat persoalan dengan jernih.
Tujuan Akhir: Selamat Dunia dan Akhirat
Seluruh pondasi tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni keselamatan dunia dan akhirat.
Bagi Eyang Kresno Budoyo, keselamatan bukan semata berkecukupan secara materi, tetapi juga memperoleh ketenangan batin, menjaga hubungan harmonis dengan sesama, dan semakin dekat kepada Tuhan.
Ia menilai orang yang mampu menghayati ketujuh pondasi tersebut akan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan tanpa kehilangan arah.
Setia Hati sebagai Pendidikan Karakter
Di akhir wejangan, Eyang Kresno Budoyo menegaskan bahwa Setia Hati sejatinya merupakan sekolah kehidupan.
Ilmu yang diwariskan para leluhur tidak dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan, melainkan membentuk manusia berbudi pekerti luhur.
Seseorang yang matang secara spiritual tidak gemar merendahkan orang lain, menyebarkan kebencian, ataupun merasa dirinya paling benar. Sebaliknya, ia akan lebih banyak memperbaiki diri, menjaga ucapan, serta menghadirkan ketenangan bagi lingkungan sekitarnya.
“Perjalanan manusia bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mampu menjaga hati tetap bersih hingga akhir kehidupan,” tutup Eyang Kresno Budoyo.
Catatan Redaksi: Riwayat perjalanan Eyang Kresno Budoyo dalam artikel ini merupakan keterangan yang disampaikan Kangmas Adrianus Agus Santosa dan Kangmas Rangga Bintik dalam diskusi Forum Komunikasi Persaudaraan Setia Hati (Forkom PSHP). Sementara itu, pemaparan mengenai tujuh pondasi laku merupakan pandangan dan wejangan Eyang Kresno Budoyo sebagai narasumber. Artikel ini disusun sebagai feature yang mengulas nilai-nilai budaya dan filosofi persaudaraan, serta tidak dimaksudkan sebagai representasi resmi dari seluruh organisasi atau perguruan yang menggunakan nama Setia Hati.






