SOLO – Potensi seni budaya yang tumbuh di tengah masyarakat dinilai dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan kampung budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Pandangan tersebut mengemuka saat Ketua Forum Budaya Mataram (FBM) sekaligus Ketua Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), Dr. BRM Kusumo Putro, S.H., M.H., menghadiri kegiatan jalan sehat dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kampung Debegan, Mojosongo, Solo.
Kampung Debegan dinilai memiliki potensi seni yang cukup kuat, salah satunya melalui keberadaan kelompok kesenian reog Ponorogo. Menariknya, sebagian penari dan penabuh gamelan dalam kelompok tersebut merupakan kalangan anak muda.
Kondisi itu dinilai menjadi modal sosial yang penting karena keberlangsungan kesenian tradisional tidak hanya bergantung pada pelestarian, tetapi juga keterlibatan generasi penerus.
Kusumo Putro mendorong Pemerintah Kota Solo untuk memberi ruang lebih besar kepada kampung-kampung yang memiliki potensi seni dan budaya agar dapat dikembangkan menjadi kampung budaya.
Menurutnya, pengembangan tersebut sejalan dengan identitas Solo sebagai kota budaya. Pelibatan masyarakat secara langsung menjadi salah satu aspek penting agar program tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi warga.
Potensi Debegan juga bukan sekadar wacana. Kelompok reog setempat disebut pernah meraih juara pertama dalam festival kesenian reog se-Soloraya.
Keberadaan anak-anak muda yang aktif dalam kesenian tradisional menjadi salah satu alasan penting agar potensi tersebut terus dikembangkan.
Selain menjaga keberlangsungan warisan budaya, aktivitas seni juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkreasi, membangun kepercayaan diri, sekaligus memperkuat identitas lokal.
Kusumo menilai konsep kampung budaya seharusnya tidak hanya dilihat sebagai upaya mempertahankan kesenian tradisional. Lebih jauh, kampung budaya dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi sekaligus melahirkan kreativitas baru.
Jika dikelola secara konsisten, pengembangan kampung budaya juga berpotensi memberi dampak terhadap perekonomian masyarakat melalui pariwisata berbasis komunitas, UMKM, kuliner, hingga peluang kerja baru.
Konsep tersebut sekaligus dapat menghadirkan destinasi wisata yang tumbuh dari kekuatan masyarakat tanpa menghilangkan karakter dan tatanan sosial kampung.
Sekretaris Jenderal DPPSBI, Wisnu Tri Pamungkas, S.H., turut mengapresiasi inisiatif warga Debegan yang menginginkan wilayahnya dikembangkan sebagai kampung budaya.
Menurutnya, aspirasi tersebut penting mendapat perhatian pemerintah agar potensi seni budaya yang sudah tumbuh di masyarakat dapat memperoleh dukungan pengembangan.
Sementara itu, Ketua RW 2 Debegan, M. Imam Zazuli, mengatakan dukungan terhadap aktivitas seni yang melibatkan generasi muda perlu terus diperkuat.
Ia menilai keterlibatan anak muda dalam pengembangan budaya dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kreativitas, kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat jati diri mereka di tengah derasnya arus informasi digital.
Bagi warga Debegan, gagasan kampung budaya bukan hanya tentang menjadikan sebuah wilayah sebagai destinasi. Lebih dari itu, pengembangan tersebut diharapkan mampu menjadikan budaya sebagai kekuatan masyarakat sekaligus ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dan berkarya.
Kini, tantangannya adalah bagaimana potensi yang telah tumbuh dari masyarakat tersebut mendapatkan ruang, pendampingan, dan dukungan berkelanjutan sehingga Kampung Debegan tidak hanya dikenal karena keseniannya, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi warga.






