Menjaga Api Warisan Setia Hati: Jejak Persaudaraan Setia Hati Pilangbango dari Pilangbango hingga Belanda

MADIUN – Di tengah derasnya perkembangan pencak silat modern, sejumlah perguruan masih memilih berjalan dengan cara berbeda: kembali menengok akar sejarah.

Bagi Persaudaraan Setia Hati Pilangbango, pencak silat bukan sekadar rangkaian jurus untuk menghadapi lawan. Di balik gerakan tubuh, terdapat sejarah panjang, nilai seni, disiplin, pengendalian diri, hingga tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya.

Bacaan Lainnya

Organisasi ini berdiri pada 22 September 2013. Dalam waktu sekitar 13 tahun, Persaudaraan Setia Hati Pilangbango mengklaim telah berkembang menjadi sekitar 41 cabang di berbagai provinsi di Indonesia, serta memiliki Tiga komisariat di Belanda.

Pertumbuhan tersebut menjadi menarik karena organisasi ini sejak awal membawa misi yang cukup spesifik: mempertahankan ajaran Setia Hati yang mereka yakini sebagai warisan dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo, sekaligus menjaga keberadaan jurus-jurus lama yang menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Dari Pilangbango, Sebuah Nama yang Menyimpan Sejarah

Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Pilangbango, Bambang Dwi Tunggal, menjelaskan bahwa pemilihan nama Pilangbango bukan tanpa alasan.

Nama tersebut digunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan keterkaitannya dengan kawasan Pilangbango, Kota Madiun.

Bagi organisasi ini, nama bukan sekadar identitas. Ia menjadi pengingat tentang dari mana sebuah ajaran berasal dan mengapa ajaran tersebut perlu dijaga.

Persaudaraan Setia Hati Pilangbango lahir dengan latar belakang keprihatinan terhadap perubahan dan perkembangan ajaran pencak silat yang terjadi dari waktu ke waktu.

Mereka kemudian memilih untuk menghidupkan kembali apa yang mereka pahami sebagai pakem lama, termasuk jurus-jurus yang dikaitkan dengan tradisi awal Setia Hati.

Di sinilah perjalanan organisasi tersebut menjadi berbeda.

Mereka tidak sekadar mendirikan organisasi baru, tetapi mencoba membangun identitas melalui upaya mengembalikan perhatian kepada akar tradisi.

Ketika Pencak Silat Dicurigai sebagai Gerakan Perlawanan

Untuk memahami alasan pentingnya pelestarian sejarah bagi Persaudaraan Setia Hati Pilangbango, perlu melihat konteks perjalanan pencak silat pada masa kolonial.

Menurut penuturan Bambang, pada masa perjuangan kemerdekaan, perkumpulan yang melibatkan banyak pemuda sering mendapat perhatian dari pemerintah kolonial Belanda.

Istilah “pencak” bahkan disebut pernah menimbulkan kecurigaan karena aktivitas bela diri dan perkumpulan pemuda dianggap berpotensi menjadi sarana konsolidasi massa.

Dalam situasi tersebut, nama organisasi mengalami perubahan. Istilah yang berkaitan dengan pencak kemudian dihilangkan dan berkembang menjadi Pemuda Sport Club.

Meski nama berubah, aktivitas olahraga dan pembinaan pemuda tetap berjalan.

Dari perjalanan itulah kemudian berkembang dinamika organisasi Setia Hati hingga muncul berbagai perubahan dalam materi latihan dan jurus.

Bagi Persaudaraan Setia Hati Pilangbango, perubahan tersebut menjadi salah satu alasan untuk kembali mempelajari dan mempertahankan tradisi lama.

Jurus Lama dan Jurus Baru: Bukan Sekadar Perbedaan Gerakan

Perbedaan antara jurus lama dan jurus baru, menurut Bambang, bukan hanya persoalan bentuk gerakan.

Ada filosofi yang melekat di dalamnya.

Jurus lama yang mereka lestarikan dinilai memiliki unsur seni yang kuat. Gerakannya tidak hanya diarahkan untuk menghadapi lawan, tetapi juga memiliki nilai estetika dan pengendalian diri.

“Jurus itu bukan hanya dilihat dari gerakannya. Ada unsur seni di dalamnya,” kata Bambang.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pencak silat dalam perspektif Persaudaraan Setia Hati Pilangbango memiliki dimensi yang lebih luas dibanding sekadar kemampuan fisik.

Pencak silat menjadi ruang untuk membangun keseimbangan antara tubuh, pikiran, sikap, dan karakter.

Karena itu, kemampuan seorang pesilat tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat ia dapat menjatuhkan lawan.

Justru kemampuan mengendalikan diri menjadi bagian penting.

Dalam situasi konflik, prinsip yang dikedepankan adalah menghentikan ancaman secara proporsional, bukan mencari kemenangan dengan mencederai.

Pengesahan Bukan Garis Akhir

Ada anggapan bahwa setelah seorang pesilat menjalani pengesahan, proses belajar telah selesai.

Bagi Persaudaraan Setia Hati Pilangbango, justru sebaliknya.

Pengesahan dipandang sebagai pintu awal menuju proses pembelajaran yang lebih luas.

Seorang anggota tidak hanya dituntut memahami jurus, tetapi juga memperdalam nilai kerohanian, etika, kedisiplinan dan tanggung jawab.

Dalam pembinaan calon anggota, proses tersebut dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing.

Bambang menyebut kemampuan setiap calon tidak sama. Ada yang dapat berkembang relatif cepat, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Faktor fisik, mental, kedisiplinan dan kemampuan memahami gerakan menjadi bagian dari proses tersebut.

Karena itu, latihan tidak dipandang sebagai perlombaan siapa yang paling cepat.

Yang lebih penting adalah kesiapan seseorang memahami tanggung jawab di balik kemampuan yang dimilikinya.

Dari Madiun Menembus Batas Indonesia

Perjalanan Persaudaraan Setia Hati Pilangbango juga memperlihatkan bagaimana sebuah organisasi berbasis tradisi lokal dapat berkembang melampaui wilayah asalnya.

Sekitar 30 cabang disebut telah terbentuk di berbagai provinsi Indonesia.

Yang lebih menarik, organisasi tersebut juga memiliki dua komisariat di Belanda.

Kehadiran di luar negeri menunjukkan bahwa pencak silat tidak lagi hanya menjadi budaya yang hidup di lingkungan asalnya.

Ia telah menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia yang dapat diterima dan dipelajari masyarakat internasional.

Namun, ekspansi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru.

Semakin luas sebuah organisasi berkembang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga konsistensi nilai dan ajaran.

Jangan sampai pertumbuhan jumlah anggota justru membuat akar tradisi semakin kabur.

Karena itu, regenerasi menjadi salah satu pekerjaan penting bagi Persaudaraan Setia Hati Pilangbango.

21 Calon Anggota dan Harapan Regenerasi

Dalam salah satu kegiatan pembinaan di Desa Sukorejo, terdapat sekitar 21 calon anggota yang mengikuti proses latihan, termasuk peserta dari Semarang.

Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil dibandingkan dengan jumlah cabang organisasi.

Namun, bagi sebuah perguruan pencak silat, setiap calon anggota merupakan bagian dari proses regenerasi.

Mereka kelak bukan hanya menjadi pesilat, tetapi diharapkan mampu menjadi pelatih dan penjaga nilai organisasi.

Bambang menilai generasi muda memiliki posisi strategis karena merekalah yang nantinya akan mengambil alih estafet kepemimpinan dari generasi yang lebih tua.

“Setelah disahkan bukan berarti selesai latihan. Itu baru tahap awal. Masih banyak yang harus didalami,” ujarnya.

Ketika Tradisi Harus Berhadapan dengan Zaman

Tantangan terbesar pelestarian budaya bukan selalu hilangnya minat masyarakat.

Sering kali tantangannya justru bagaimana mempertahankan identitas ketika sebuah tradisi berkembang semakin luas.

Pencak silat kini memiliki ruang yang beragam: olahraga prestasi, seni pertunjukan, bela diri, pendidikan karakter hingga identitas budaya.

Masing-masing memiliki orientasi berbeda.

Persaudaraan Setia Hati Pilangbango memilih menempatkan seni, tradisi, nilai dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari perjalanan perguruan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara pencak silat sebagai olahraga pertandingan dengan pencak silat sebagai warisan tradisi.

Dalam pertandingan, orientasi utama adalah kompetisi dan pencapaian prestasi.

Sementara dalam tradisi perguruan, terdapat nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Namun, menurut Bambang, identitas tradisi tetap perlu dijaga agar tidak hilang ketika pencak silat berkembang menjadi olahraga modern.

Merawat Warisan, Menyiapkan Pewaris

Pada akhirnya, perjalanan Persaudaraan Setia Hati Pilangbango bukan semata-mata tentang jumlah cabang atau banyaknya anggota.

Angka 30 cabang dan dua komisariat di Belanda memang menunjukkan perkembangan organisasi.

Namun, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah generasi berikutnya masih memahami alasan mengapa sebuah jurus diwariskan, mengapa etika harus dijaga, dan mengapa kemampuan bela diri tidak boleh digunakan sembarangan.

Di titik inilah regenerasi menjadi penting.

Generasi muda bukan sekadar penerus gerakan, tetapi juga penerus nilai.

Mereka yang hari ini berdiri di barisan latihan kelak akan menjadi pelatih, pengurus, bahkan penjaga sejarah organisasi.

Bambang berharap estafet tersebut dapat berjalan dengan baik sehingga Persaudaraan Setia Hati Pilangbango tidak hanya semakin besar secara organisasi, tetapi juga semakin kuat dalam mempertahankan identitasnya.

Sebab pada akhirnya, melestarikan pencak silat bukan hanya mempertahankan jurus, tetapi menjaga ingatan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan