Dolan Mbah Atemo: Generasi Muda Belajar Melestarikan Mainan Tradisional Anak Bersama Maestro

Bantul – Sebanyak 15 peserta dari kalangan generasi muda mengikuti kegiatan Dolan Mbah Atemo: Lokakarya Bersama Maestro Mainan Tradisional Anak yang diselenggarakan pada 4–5 Juli 2026 di Kalurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi ruang belajar lintas generasi untuk mengenalkan kembali pengetahuan, keterampilan, dan nilai budaya yang terkandung dalam mainan tradisional anak sebagai bagian dari upaya pelestarian Objek Pemajuan Kebudayaan.

.

Lokakarya menghadirkan Mbah Atemo sebagai maestro sekaligus pelestari mainan tradisional anak yang selama bertahun-tahun menekuni pembuatan berbagai jenis mainan berbahan sederhana, terutama dari kertas bekas. Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sejarah dan filosofi mainan tradisional, tetapi juga mempelajari proses kreatif dibalik pembuatannya secara langsung dari sang maestro.

.

Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam tiga sesi utama. Sesi pertama berupa diskusi bersama Mbah Atemo didampingi Tugiman, salah seorang anaknya, mengenai ragam mainan tradisional anak, proses pewarisan pengetahuan antargenerasi, serta tantangan dalam menjaga keberadaan permainan tradisional di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya bermain anak-anak. Diskusi berlangsung secara interaktif, sehingga peserta dapat berdialog langsung mengenai pengalaman, inspirasi, serta nilai-nilai budaya yang melekat pada setiap karya.

.

Sesi kedua merupakan workshop pembuatan mainan tradisional yang dilaksanakan selama dua hari. Dalam sesi ini, peserta mempraktikkan teknik pembuatan berbagai mainan tradisional, di antaranya kitiran, payung, wayang, dan manukan. Seluruh proses dilakukan menggunakan bahan-bahan sederhana, terutama kertas bekas, sehingga peserta tidak hanya belajar tentang keterampilan membuat mainan, tetapi juga memahami pentingnya memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna. Di bawah pendampingan Mbah Atemo, peserta mempelajari setiap tahapan pembuatan secara teliti, mulai dari membentuk pola, merakit bagian-bagian mainan, hingga menghasilkan karya yang dapat dimainkan.

.

Sebagai penutup, peserta mengikuti sesi penyusunan karya tulis bertema Mbah Atemo dan Mainan Tradisional Anak. Melalui tulisan tersebut, peserta diajak merefleksikan pengalaman selama mengikuti lokakarya sekaligus menuangkan gagasan mengenai pentingnya pelestarian mainan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat. Karya tulis ini diharapkan menjadi media dokumentasi sekaligus memperluas penyebaran pengetahuan mengenai warisan budaya yang dimiliki Indonesia.

.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ernawati Purwaningsih dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Dolan Mbah Atemo sebagai salah satu bentuk nyata pelestarian kebudayaan yang menempatkan maestro sebagai sumber utama pewarisan pengetahuan. Menurutnya, lokakarya semacam ini memiliki kontribusi penting dalam mendukung upaya pemajuan kebudayaan karena generasi muda dapat langsung memahami, mempraktikkan, dan meneruskan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

.

Ketua kegiatan, Septian Adira, menjelaskan bahwa lokakarya ini dirancang sebagai ruang belajar yang mempertemukan generasi muda dengan seorang maestro sebagai sumber pengetahuan. “Melalui lokakarya ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai sejarah, filosofi, dan fungsi sosial mainan tradisional, tetapi juga diajak untuk terlibat langsung dalam proses pembuatannya, khususnya yang berbahan kertas bekas,” jelasnya.

.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan kegiatan. Dita Vitria, peserta asal Bantul, mengaku mendapatkan pengalaman baru karena untuk pertama kalinya belajar membuat mainan tradisional secara langsung. “Saya baru tahu ternyata membuat mainan tradisional tidak semudah yang dibayangkan. Prosesnya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketelatenan agar hasilnya bisa dimainkan dengan baik,” ujarnya.

.

Hal serupa disampaikan Pradipta Anindya, peserta asal Magelang. Menurutnya, kegiatan ini membangkitkan kembali kenangan masa kecil ketika permainan tradisional masih akrab dimainkan di lingkungan tempat tinggalnya. “Selain mengingatkan pada masa kecil, kegiatan ini juga mengajarkan bahwa barang-barang bekas di sekitar kita masih dapat dimanfaatkan menjadi mainan yang menarik. Ini menjadi cara yang kreatif untuk melestarikan budaya sekaligus mengurangi limbah,” ungkapnya.

.

Melalui penyelenggaraan Dolan Mbah Atemo, diharapkan semakin banyak generasi muda yang mengenal, mempraktikkan, dan meneruskan tradisi pembuatan mainan tradisional anak. Kehadiran maestro sebagai sumber pengetahuan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya, sehingga nilai-nilai kreativitas, gotong royong, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan