Jakarta – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Jakarta Pusat menghadirkan sebuah karya sinematik bertajuk “SINTAS”, sebuah film pendek yang mengangkat perjalanan nyata warga binaan dalam menata kembali kehidupan mereka. Gala premiere film tersebut digelar pada Jumat (3/7/2026) di Gedung II Rutan Kelas I Jakarta Pusat sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Move It, Spirit of Reintegration, Creativity, and Education.
Film ini merupakan hasil kolaborasi Rutan Kelas I Jakarta Pusat bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Melalui karya tersebut, pihak penyelenggara ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa proses pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek pengamanan, tetapi juga membuka ruang bagi warga binaan untuk berkembang, berkarya, dan mempersiapkan diri kembali ke tengah kehidupan sosial.
Acara gala premiere dihadiri Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kadiyono, jajaran pejabat struktural, pegawai Rutan Kelas I Jakarta Pusat, keluarga warga binaan, para warga binaan, serta tamu undangan dari berbagai kalangan.
Keunikan film “SINTAS” terletak pada proses pembuatannya. Film tersebut disutradarai oleh Reza Bukan, mantan warga binaan yang kini aktif berkarya di industri kreatif. Pengalaman pribadi yang pernah dijalaninya menjadi fondasi utama dalam menyusun cerita sehingga menghadirkan gambaran yang lebih autentik mengenai kehidupan di balik tembok rumah tahanan sekaligus proses pembinaan yang berlangsung di dalamnya.
Melalui kisah yang dekat dengan realitas, film ini mencoba mengubah cara pandang masyarakat terhadap rumah tahanan. “SINTAS” menampilkan berbagai program pembinaan yang dijalankan, mulai dari pendidikan, pelatihan keterampilan, pembinaan karakter, hingga upaya menjaga kesehatan fisik dan mental warga binaan sebagai bekal untuk kembali berperan di lingkungan masyarakat.
Selain mengangkat tema perubahan, film tersebut juga menonjolkan nilai-nilai kemanusiaan seperti kepedulian, kebersamaan, serta pentingnya memberikan kesempatan kedua bagi seseorang yang ingin memperbaiki kehidupannya.
Dalam sambutannya, Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan, Kadiyono, mengapresiasi inovasi yang dilakukan Rutan Kelas I Jakarta Pusat dengan memanfaatkan film sebagai media edukasi sekaligus sarana komunikasi publik. Menurutnya, “SINTAS” mampu menggambarkan kondisi nyata di lingkungan pemasyarakatan sehingga masyarakat dapat melihat secara lebih utuh proses pembinaan yang selama ini berjalan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan reintegrasi sosial tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas pemasyarakatan. Perubahan warga binaan memerlukan kemauan dari individu itu sendiri, dukungan keluarga, penerimaan masyarakat, serta sinergi pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Kadiyono juga menilai keterbukaan informasi mengenai berbagai program pembinaan penting dilakukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang objektif mengenai sistem pemasyarakatan di Indonesia. Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap proses pembinaan yang dijalankan diharapkan semakin meningkat.
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas I Jakarta Pusat, Wahyu Trah Utomo, mengatakan bahwa “SINTAS” bukan sekadar karya perfilman, melainkan media yang merekam perjalanan perubahan para warga binaan.
“Film ini kami hadirkan sebagai sarana untuk menunjukkan bahwa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan benar-benar berlangsung. Di balik tembok rumah tahanan terdapat proses belajar, pembentukan karakter, dan harapan agar warga binaan siap kembali menjalankan perannya sebagai bagian dari masyarakat,” ujar Wahyu.
Melalui penayangan perdana film tersebut, Rutan Kelas I Jakarta Pusat berharap masyarakat dapat memandang lembaga pemasyarakatan secara lebih humanis dan objektif. Pihak rutan menilai pembinaan tidak berhenti pada aspek keamanan, melainkan juga menjadi investasi kemanusiaan yang berorientasi pada pemberdayaan, perubahan perilaku, serta keberhasilan reintegrasi sosial bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidananya.






