SUKOHARJO – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Sukoharjo mulai menyusun struktur kepengurusan periode 2025–2029 melalui rapat Tim Formatur yang digelar pada Rabu (31/12/2025) siang, di Ruang Rapat Wijaya 4, Gedung Menara Wijaya lantai 9, Sukoharjo. Agenda ini menjadi titik awal konsolidasi besar IPSI Sukoharjo dalam menghadapi tantangan prestasi olahraga sekaligus persoalan sosial yang menyertai dinamika dunia persilatan.
Rapat dipimpin Ketua Tim Formatur IPSI Kabupaten Sukoharjo, Marjono, ST, MT, MM, dan dihadiri perwakilan 21 perguruan pencak silat yang berada di bawah naungan IPSI, unsur senior, serta tokoh persilatan daerah. Forum tersebut sekaligus menandai langkah awal kepemimpinan IPSI Sukoharjo pasca musyawarah yang menetapkan ketua umum secara aklamasi untuk empat tahun ke depan.
Dalam sambutannya, Marjono menegaskan bahwa pembentukan kepengurusan baru bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan bentuk komitmen bersama untuk membenahi arah pembinaan pencak silat di Sukoharjo. Ia mengapresiasi kehadiran seluruh undangan di tengah waktu istirahat siang, yang menurutnya mencerminkan kesungguhan membangun IPSI ke depan.
“Ini bukan sekadar rapat struktural, tetapi komitmen moral kita untuk kemajuan IPSI Sukoharjo empat tahun ke depan. Kehadiran panjenengan semua menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab bersama,” ujar Marjono.
Namun di balik pesatnya pertumbuhan pencak silat di Sukoharjo, Marjono tak menutup mata terhadap persoalan serius yang membayangi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Kesbangpol dan kepolisian, sekitar 60 persen kasus gesekan sosial di Sukoharjo berkaitan dengan aktivitas perguruan pencak silat. Dari total 21 perguruan aktif, terdapat beberapa yang kerap terlibat konflik horizontal.
“Ini fakta yang memprihatinkan dan menjadi bahan introspeksi kita bersama. Keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga tanggung jawab IPSI sebagai induk organisasi pencak silat,” tegasnya.
Marjono menekankan bahwa kepengurusan baru harus mampu menekan potensi konflik tanpa mengorbankan semangat prestasi. Ia menyebut IPSI Sukoharjo telah mulai membangun komunikasi intensif dengan TNI dan Polri untuk menyusun pola pembinaan yang lebih komprehensif, tidak hanya berorientasi pada kejuaraan.
Di sisi lain, pencak silat dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung visi Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, khususnya misi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter, berintegritas, dan unggul sebagaimana tertuang dalam RPJMD.
“Nilai kejujuran, sportivitas, disiplin, tanggung jawab, dan integritas itu semua ada dalam pencak silat. Tugas kita adalah memastikan nilai-nilai itu benar-benar tertanam pada generasi muda, terutama menyongsong Generasi Emas 2045,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan H. Wiyono, SH, MM, M.Kn, Ketua IPSI Kabupaten Sukoharjo periode 2021–2025. Ia mengingatkan bahwa pengurus IPSI harus bekerja atas nama organisasi, bukan membawa kepentingan perguruan masing-masing.
“Kalau sudah menjadi pengurus, maka yang dibawa adalah nama IPSI, bukan perguruan. Pengurus itu pengabdian. Harus mau dan mampu bekerja. IPSI bukan ujung tombak, tapi ujung tombok,” kata Wiyono.
Menurutnya, selama ini IPSI terlalu fokus pada prestasi olahraga, sementara fungsi sosial, persaudaraan, dan kemasyarakatan belum tergarap maksimal. Ia berharap kepengurusan mendatang mampu menghadirkan program silaturahmi lintas perguruan guna memperkuat persaudaraan dan meredam potensi konflik.
Usai rapat formatur, Marjono menjelaskan bahwa agenda terdekat IPSI Sukoharjo adalah menyampaikan susunan pengurus ke KONI Sukoharjo dan IPSI Jawa Tengah, dilanjutkan pelantikan serta Rapat Kerja Cabang (Rakercab). IPSI juga bersiap menghadapi agenda besar Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026 di Semarang Raya, di mana Sukoharjo telah meloloskan sejumlah atlet.
Selain itu, IPSI Sukoharjo merancang berbagai program strategis, mulai dari peningkatan kapasitas pelatih dan wasit juri, penguatan soliditas pengurus melalui forum diskusi dan retreat, hingga rencana open turnamen atau festival pencak silat yang ditargetkan berlangsung pertengahan 2026, bertepatan dengan HUT RI dan Hari Jadi Kabupaten Sukoharjo.
Menjelang pergantian tahun, Marjono juga mengimbau seluruh insan pencak silat di Sukoharjo untuk menjaga kondusivitas wilayah. Ia mengajak perguruan silat merayakan tahun baru dengan tertib dan penuh empati, termasuk dengan menunjukkan kepedulian sosial terhadap korban bencana.
“Pencak silat harus hadir sebagai solusi, bukan sumber masalah. Kita ingin IPSI Sukoharjo dikenal karena prestasinya, karakter atletnya, dan kontribusinya bagi masyarakat,” pungkasnya.






