Surakarta, Kabarjoglo.com – Upaya meningkatkan deteksi dini gangguan pendengaran terus diperkuat melalui gelaran SAC2 (Solo Audiology Course) 2026 bertajuk “Skrining dan Deteksi Dini Gangguan Pendengaran dengan Pemeriksaan Audiologi Komprehensif” yang berlangsung di The Sunan Hotel Surakarta, 7–8 Februari 2026.
Kegiatan ini menghadirkan sesi simposium dan workshop dengan menghadirkan para pakar THT-KL dan audiologi dari dalam maupun luar negeri. Tercatat sebanyak 193 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kegiatan ini, mulai dari Kupang, Tanjung Pinang, Banjarmasin, hingga berbagai kota lainnya.
Ketua Panitia, Dr. dr. Novi Primadewi, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp. NO (K), M.Kes, menjelaskan bahwa hari pertama diisi dengan simposium membahas skrining pendengaran pada bayi, anak usia sekolah, dewasa, hingga lansia. Sementara hari kedua difokuskan pada workshop praktik pemeriksaan audiologi untuk mendekatkan peserta pada penegakan diagnosis secara tepat.
“Harapannya setelah mengikuti simposium dan workshop ini, para peserta dapat melakukan pemeriksaan pendengaran secara benar di tempat praktik masing-masing, sehingga deteksi dini bisa dilakukan lebih optimal,” ujarnya.
Materi yang dibahas antara lain skrining pendengaran objektif pada bayi baru lahir, teknik dan interpretasi klinis OAE dan BERA pada anak, skrining berbasis kuesioner, hingga audiometri nada murni dan audiometri tutur pada dewasa. Sesi workshop terbagi dalam dua kelas, yakni Kelas BIMO untuk dokter umum dan tenaga kesehatan, serta Kelas SENO untuk PPDS dan dokter spesialis. Beberapa kelas bahkan dinyatakan sold out karena tingginya animo peserta.
Panitia juga menghadirkan narasumber internasional, Prof. Dr. Mohd. Normani Zakaria dari Universiti Sains Malaysia, yang membawakan materi mengenai pemeriksaan objektif seperti Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA). Ia menekankan pentingnya pemeriksaan objektif pada bayi dan anak yang belum mampu berkomunikasi.
“Dengan pemeriksaan seperti BERA, kita dapat menilai respons gelombang otak terhadap rangsangan suara sehingga bisa menentukan apakah pendengaran bayi normal atau bermasalah,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. dr. Hadi Sudrajad, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp. Oto (K), M.Si.Med, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen organisasi profesi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, sekaligus mendukung program pemerintah dan target global Sound Hearing 2030 dalam upaya pencegahan gangguan pendengaran.
“Deteksi dini sangat penting, terutama pada bayi baru lahir, agar tidak mengganggu perkembangan bicara dan komunikasi. Melalui pelatihan ini, kami ingin membekali tenaga kesehatan dengan keterampilan yang aplikatif,” ungkapnya.
Data menunjukkan gangguan pendengaran dapat terjadi sejak lahir akibat berbagai faktor, seperti infeksi saat kehamilan, komplikasi persalinan, maupun faktor bawaan. Pada bayi, prevalensinya diperkirakan sekitar 0,1 persen, sementara gangguan akibat infeksi pada populasi tertentu dapat mencapai 5 persen.
Melihat tingginya antusiasme peserta, panitia berkomitmen menjadikan Solo Audiology Course sebagai agenda rutin tahunan. Informasi kegiatan selanjutnya akan diumumkan melalui kanal resmi Perhati-KL Cabang Solo, baik melalui Instagram, YouTube, maupun website resmi organisasi.
Dengan terselenggaranya SAC2 Solo 2026, diharapkan skrining pendengaran dapat semakin masif diterapkan di berbagai fasilitas layanan kesehatan di Indonesia, sehingga gangguan pendengaran dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini.






