Mendes Yandri Dorong Kerja Sama Indonesia-Tiongkok Perkuat Pembangunan Desa

JAKARTA – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong penguatan kerja sama Indonesia dan Tiongkok dalam pembangunan perdesaan, khususnya melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi desa, hingga pemanfaatan teknologi.

Hal tersebut disampaikan Yandri saat menerima delegasi Tiongkok yang dipimpin Wakil Menteri Kementerian Pertanian dan Urusan Perdesaan Republik Rakyat Tiongkok, Zhang Zhili, di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Yandri mengatakan, pembangunan desa masih menghadapi sejumlah tantangan. Tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan tercatat sekitar 11,34 persen atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan wilayah perkotaan. Selain itu, sekitar 10.000 desa masih belum memiliki akses listrik dan sekitar 45 persen desa dinilai rentan terhadap bencana alam.

Menghadapi persoalan tersebut, Kemendes PDT mendorong pendekatan Octahelix Collaboration, yakni kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Olehnya, kami mendorong pendekatan Octahelix Collaboration, yaitu kolaborasi multipihak yang melibatkan berbagai aktor untuk mendukung inovasi, pembangunan berkelanjutan, dan penyelesaian berbagai persoalan pembangunan desa,” ujar Yandri.

Pemuda Didorong Belajar ke Tiongkok

Selain pembangunan infrastruktur dan ekonomi, Kemendes PDT memberikan perhatian besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa.

Yandri menilai program kerja sama seperti Benchmarking Study dan seminar dengan pihak Tiongkok dapat memberikan pengetahuan serta pengalaman baru bagi kepala desa untuk kemudian diterapkan di wilayah masing-masing.

Ia bahkan mengusulkan agar program tersebut diperluas dengan melibatkan generasi muda melalui program Pemuda Bangun Desa.

Menurut Yandri, para pemuda desa juga perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar sekaligus memperoleh pengalaman kerja di Tiongkok sehingga dapat membawa pengetahuan dan inovasi baru ketika kembali ke Indonesia.

“Kami berharap kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok di bidang pembangunan perdesaan dapat terus ditingkatkan, tidak hanya melalui pertukaran pengetahuan dan peningkatan kapasitas, tetapi juga melalui kerja sama yang lebih konkret dalam pengembangan ekonomi perdesaan,” katanya.

Kemendes PDT juga membuka peluang investasi dan keterlibatan sektor swasta dalam mengembangkan potensi ekonomi desa, termasuk pengolahan dan hilirisasi produk unggulan, peningkatan produktivitas, pengembangan rantai nilai, serta pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan masyarakat desa.

MoU Indonesia-Tiongkok Segera Difinalisasi

Dalam pertemuan tersebut, Kemendes PDT menyambut baik perkembangan rancangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Ministry of Agriculture and Rural Affairs Republik Rakyat Tiongkok.

Yandri berharap kesepakatan tersebut segera difinalisasi sehingga dapat menjadi landasan kerja sama yang lebih konkret dan memberikan manfaat bagi kedua negara.

Indonesia juga memandang penting penguatan kerja sama melalui Global Poverty Alleviation and Rural Development Partnership (GPPAD) sebagai wadah pertukaran pengalaman dan kolaborasi antarnegara dalam pengentasan kemiskinan serta pembangunan perdesaan.

Sementara itu, Zhang Zhili menyatakan dukungan terhadap penguatan kerja sama Indonesia-Tiongkok di berbagai tingkatan, mulai dari pemerintah, aparatur daerah, hingga akademisi dan para ahli.

“Kami berharap dapat menggunakan langkah-langkah yang nyata dan pragmatis untuk melaksanakan berbagai kesepahaman penting yang telah dicapai oleh para pemimpin kedua negara,” ujar Zhang.

Ia juga menyampaikan dukungan Tiongkok terhadap sejumlah komitmen Presiden Prabowo Subianto, termasuk target penghapusan kemiskinan sebelum 2029.

Zhang berharap semakin banyak perusahaan Tiongkok yang berinvestasi dan melakukan kegiatan produksi di sektor pertanian Indonesia. Untuk itu, ia berharap pemerintah Indonesia terus menciptakan iklim usaha yang kondusif agar investasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan Indonesia-Tiongkok di sektor pembangunan perdesaan, sekaligus membuka peluang kolaborasi baru dalam peningkatan kapasitas masyarakat, investasi, teknologi, dan pengembangan ekonomi desa.

Teks: Firman/Humas Kemendes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan