Dari TMMD untuk Negeri: Ketika Prajurit dan Rakyat Menyatukan Doa di Masjid Desa Sidorejo

Di tempat sederhana ini, prajurit dan rakyat menyatu—bukan hanya membangun masjid, tetapi juga merawat iman dan harapan bersama.

KULON PROGO – Di halaman Masjid Al Ma’ruf, jejak waktu tampak nyata. Retakan di pelataran, genangan saat hujan, dan debu saat kemarau menjadi bagian dari keseharian warga Padukuhan Senden. Namun di balik keterbatasan itu, satu hal tak pernah surut: semangat beribadah dan kebersamaan.

Pagi itu, suasana berbeda terasa. Kehadiran Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) TMMD Reguler ke-128 Tahun Anggaran 2026, Letkol Inf Dyan Niti Sukma, S.I.P., M.Han., membawa harapan baru bagi masyarakat Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Sabtu (2/5/2026).

Dengan langkah mantap, ia meninjau langsung sasaran fisik TMMD berupa rehabilitasi dua masjid Masjid Al Ma’ruf dan Masjid Baiturrahman. Bagi TNI, pembangunan ini bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan bagian dari pengabdian kepada rakyat.

“Kerjakan sesuai rencana, dengan penuh semangat dan keikhlasan. Niatkan sebagai ibadah. Utamakan kualitas agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat hingga jangka panjang,” tegasnya kepada prajurit dan warga yang terlibat.

Arahan tersebut mencerminkan nilai yang selalu dijunjung tinggi dalam setiap pelaksanaan TMMD: kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Program TMMD bukan hal baru, namun relevansinya terus terasa. Di tengah dinamika pembangunan nasional, TMMD hadir menjangkau wilayah pedesaan, menyentuh kebutuhan dasar masyarakat—termasuk tempat ibadah sebagai pusat kehidupan sosial dan spiritual.

Danramil 08/Lendah, Kapten Czi Eko Yuliantono, menjelaskan bahwa rehabilitasi difokuskan pada peningkatan fungsi dan kenyamanan masjid. Halaman Masjid Al Ma’ruf akan dilakukan pengecoran, sementara teras Masjid Baiturrahman akan diperbaiki agar lebih aman dan layak digunakan.

“Pelaksanaan segera dimulai dan kami pastikan berjalan sesuai target. Sinergi antara TNI dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan,” ujarnya.

Sinergi itu tampak nyata di lapangan.

Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga bagian dari proses pembangunan. Mereka bergotong royong bersama prajurit mengangkat material, membersihkan lokasi, hingga menyiapkan kebutuhan sederhana bagi para pekerja.

Sutrisno (56), salah satu warga, mengaku terharu dengan kehadiran TMMD di desanya.

“Kami merasa tidak sendiri. TNI hadir membantu kami, bukan hanya membangun, tapi juga ikut merasakan apa yang kami rasakan,” ungkapnya.

Bagi Sutrisno dan warga lainnya, masjid bukan sekadar bangunan. Ia adalah pusat kehidupan tempat anak-anak belajar mengaji, tempat warga bermusyawarah, dan tempat doa-doa dipanjatkan untuk kehidupan yang lebih baik.

Melalui TMMD, nilai-nilai itu diperkuat.

Pembangunan masjid menjadi simbol bahwa TNI tidak hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga hadir di tengah rakyat, membangun kehidupan dari akar paling dasar: desa.

Lebih dari itu, TMMD menjadi ruang pembelajaran bersama tentang gotong royong, kepedulian, dan semangat kebangsaan.

Di Sidorejo, prajurit dan rakyat bekerja tanpa sekat. Seragam loreng berpadu dengan pakaian warga, menyatu dalam satu tujuan: membangun untuk masa depan bersama.

Ketika pekerjaan ini selesai nanti, yang tersisa bukan hanya bangunan yang lebih layak. Tetapi juga ikatan yang semakin kuat antara TNI dan rakyat.

Sebuah kemanunggalan yang tidak hanya terlihat dalam kerja, tetapi juga terasa dalam setiap doa yang dipanjatkan di dalam masjid.

Karena sejatinya, kekuatan bangsa tidak hanya dibangun dari senjata…

tetapi dari kebersamaan.
Dari pengabdian.
Dan dari hati yang menyatu untuk negeri.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan