Sedekah Budaya Plosokerep 2026: Filosofi Laku Alon, Penanaman Pohon Ploso hingga Launching Batik Lokal Warnai Perayaan Budaya di Karanganyar

KARANGANYAR – Masyarakat Dusun Plosokerep, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar kembali menggelar Sedekah Budaya Plosokerep 2026 pada 13–14 Juni 2026. Mengusung tema “Menelisik Masa Lalu, Merajut Masa Depan”, kegiatan ini menjadi wujud nyata pelestarian budaya leluhur yang dipadukan dengan upaya menjaga kelestarian alam dan memperkuat kebersamaan masyarakat.

Kegiatan yang didukung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X dan Yayasan Omah Pitu Art Culture tersebut menghadirkan beragam agenda budaya, mulai dari ritual adat, penanaman pohon ploso, sarasehan budaya, peluncuran Batik Ploso, hingga pertunjukan seni tradisional yang melibatkan masyarakat lintas generasi.

Bacaan Lainnya

Rangkaian acara diawali dengan Klotekan Lesung, dilanjutkan Solah Bowo, doa bersama para sesepuh dusun, pemotongan tumpeng, serta prosesi utama berupa penanaman pohon ploso yang menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Usai penanaman pohon, warga melaksanakan peletakan sesaji di empat penjuru dusun sebagai bagian dari tradisi penghormatan terhadap alam dan leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus.

Ketua RW 01 Suwardi menjelaskan, Sedekah Budaya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan media untuk memperkuat semangat gotong royong sekaligus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

“Tradisi ini menjadi pengingat bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan alam. Apa yang diwariskan leluhur bukan hanya budaya, tetapi juga pesan tentang keseimbangan kehidupan,” ujarnya.

Pentas Seni Tradisi Meriahkan Malam Sedekah Budaya

Memasuki malam hari, suasana Lapangan Dusun Plosokerep semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni tradisional. Acara dibuka dengan penampilan tari Pitik Walik, tari Merak, pemutaran dokumentasi Sedekah Budaya Plosokerep, serta sambutan dari sejumlah tokoh dan pegiat budaya.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian pengunjung adalah pertunjukan Plasan dengan lakon Joko Sudro. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Plasan dikemas sebagai rangkaian pertunjukan budaya yang memadukan bunyi lesung, sandiwara rakyat, tarian tradisional, hingga ekspresi seni masyarakat dalam satu alur pementasan.

Selain Plasan, masyarakat juga disuguhi berbagai penampilan budaya lainnya, seperti Wayang Alasan Ki Nanang Bey dari Solo, Lesung Kitir Sumilir Plosokerep, Sintren Tani Sanggar Sekar Jagad Sukoharjo, Santi Swaran, Musik Bambu Plosokerep, kolaborasi seni Otniel Tasman X Seblaka Banyumas, hingga penampilan spesial Yuliana Mexico.

Kegiatan malam juga diisi dengan Sarasehan Budaya yang menghadirkan tokoh budaya, pegiat seni, yayasan pelestari budaya, serta perwakilan pemerintah untuk membahas pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Launching Batik Ploso Perkuat Identitas Budaya Lokal

Sedekah Budaya Plosokerep 2026 juga menjadi momentum peluncuran Batik Ploso, motif batik khas yang terinspirasi dari sejarah, filosofi, dan kekayaan alam Dusun Plosokerep.

Peluncuran batik tersebut diharapkan mampu menjadi identitas budaya lokal sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal bagi masyarakat setempat.

Berbagai pertunjukan yang ditampilkan selama kegiatan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar lebih mengenal akar tradisinya.

Filosofi Laku Alon, Refleksi Menjaga Keseimbangan Alam

Salah satu pesan utama yang diangkat dalam Sedekah Budaya tahun ini adalah filosofi Laku Alon, yakni ajaran untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran, tidak tergesa-gesa, dan menghargai setiap proses.

Menurut sesepuh dan tokoh budaya setempat Agung Wibowo, perkembangan zaman telah mendorong manusia untuk mengejar segala sesuatu secara instan. Pola hidup serba cepat tersebut kerap berujung pada eksploitasi alam yang berlebihan dan mengabaikan keseimbangan lingkungan.

“Menanam pohon mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan proses. Pohon tumbuh perlahan, tidak instan. Filosofi Laku Alon mengajak manusia mengendalikan diri agar tidak selalu mengejar kecepatan dan tetap menjaga keseimbangan dengan alam,” jelasnya.

Ia menambahkan, berbagai persoalan lingkungan seperti banjir, kerusakan hutan, hingga perubahan iklim menjadi pengingat bahwa manusia perlu kembali belajar dari nilai-nilai yang diwariskan leluhur.

“Budaya yang diwariskan nenek moyang sejatinya mengandung ajaran tentang bagaimana manusia hidup selaras dengan alam. Nilai-nilai itu tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang,” tambahnya.

Workshop Membatik dan Reog Singo Yogo Tutup Rangkaian Acara

Pada hari kedua, Minggu (14/6/2026), kegiatan dilanjutkan dengan workshop membatik yang menghadirkan para perajin sebagai narasumber. Peserta mendapatkan pengenalan alat dan bahan membatik, praktik langsung, hingga sesi diskusi dan tanya jawab.

Kegiatan tersebut diselingi berbagai hiburan budaya seperti Tari Pitik Walik, Tari Merak, dan penampilan Musik Bambu Plosokerep yang melibatkan generasi muda.

Sebagai penutup, masyarakat disuguhkan pertunjukan Reog Singo Yogo yang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga maupun pengunjung.

Melalui semangat gotong royong dan filosofi Laku Alon, Sedekah Budaya Plosokerep 2026 tidak hanya menjadi perayaan tradisi tahunan, tetapi juga upaya merawat memori kolektif masyarakat, memperkuat identitas budaya lokal, serta menanamkan kesadaran bahwa masa depan harus dibangun selaras dengan pelestarian alam dan warisan leluhur.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan