Misteri Gajah Dekem hingga Jejak Gempa 2006, Ada Dua Sejarah Besar di Cepokosawit Boyolali

BOYOLALI – Di balik tenangnya kawasan pedesaan di Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tersimpan dua jejak sejarah dari masa yang berbeda.

Di satu sisi terdapat Situs Gajah Dekem atau Gajah Putih, yang oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali disebut sebagai salah satu cagar budaya yang berkaitan dengan peninggalan Mataram Kuno.

Di sisi lainnya berdiri Monumen Gempa Bumi 2006, yang menjadi pengingat tragedi gempa dahsyat yang mengguncang Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah pada 27 Mei 2006.

Dua peninggalan tersebut kini menjadi bagian dari kawasan yang menyimpan cerita tentang budaya, sejarah, sekaligus memori kebencanaan masyarakat Cepokosawit.

Jejak Gajah Dekem

Situs Gajah Dekem berada di Dukuh Senden, Desa Cepokosawit.

Literasi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali menyebut situs tersebut sebagai peninggalan yang berkaitan dengan Mataram Kuno. Sementara cerita yang berkembang di masyarakat memiliki beberapa versi mengenai asal-usul sosok gajah putih tersebut.

Ada pula sumber yang menyebut arca tersebut berada sekitar dua meter di bawah permukaan tanah dan bentuknya berbeda dari penggambaran Ganesha yang umum ditemukan pada situs-situs Hindu-Buddha.

Karena itulah, keberadaan Gajah Dekem hingga kini masih menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh sejarah kawasan Cepokosawit.

Menjadi Saksi Gempa 2006

Namun kawasan ini tidak hanya menyimpan cerita dari masa lampau.

Di tempat yang sama berdiri Monumen Gempa Bumi 2006.

Pada Sabtu, 27 Mei 2006, gempa berkekuatan sekitar 5,9 magnitudo mengguncang wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Cepokosawit menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Boyolali yang terdampak cukup parah. Data yang dipublikasikan menyebut 216 rumah mengalami kerusakan parah, sementara tiga warga meninggal dunia dan dua lainnya mengalami cacat akibat tertimpa bangunan.

Bagi masyarakat setempat, tragedi tersebut bukan sekadar catatan angka.

Gempa meninggalkan trauma, kehilangan, dan kenangan yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya melalui sebuah monumen.

Monumen tersebut dibangun secara swadaya masyarakat dan diresmikan pada 25 Mei 2016, bertepatan dengan peringatan 10 tahun gempa bumi 2006.


🎙️ INSERT WAWANCARA TOKOH MASYARAKAT.

Daliman Kepala Desa Cepokosawit 

“Awal mulanya Taman Gajah Putih ini kondisinya dulu mangkrak. Kemudian ada warga putra daerah Cepokosawit yang menggagas agar di sini didirikan Monumen Gempa Bumi 2006.”

“Karena wilayah Desa Cepokosawit ini termasuk wilayah yang cukup parah terdampak gempa. Namun waktu itu memang kurang terekspos. Bantuan-bantuan lebih banyak mengalir ke wilayah Klaten dan Yogyakarta.”

“Kemudian putra daerah yang ikut menggagas pembangunan ini antara lain Bapak Wimboh Santoso, Bapak Jenderal Mulyono, dan Bapak Sukoyo, SH.”


Monumen Bukan Sekadar Bangunan

Monumen Gempa Cepokosawit juga memiliki sejumlah simbol yang menggambarkan peristiwa gempa.

Literasi yang tersedia mencatat adanya simbol yang berkaitan dengan jumlah dukuh, wilayah yang paling terdampak, tanggal serta tahun terjadinya gempa. Monumen tersebut dirancang bukan hanya sebagai penanda sejarah, tetapi juga sebagai media edukasi agar masyarakat tidak melupakan peristiwa kebencanaan.

Di dalam kawasan monumen juga terdapat dokumentasi berupa foto serta berbagai benda dan puing yang berkaitan dengan dampak gempa.

Dua Masa, Satu Pesan

Gajah Dekem membawa kita menengok jauh ke masa lalu.

Sementara Monumen Gempa 2006 mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi dua dekade lalu.

Keduanya memang berasal dari zaman yang berbeda, tetapi memiliki satu pesan yang sama:

Sejarah tidak seharusnya hanya disimpan sebagai cerita. Sejarah harus dirawat, dipelajari, dan diwariskan.

Cepokosawit akhirnya bukan hanya sebuah tempat di peta Boyolali.

Di sana ada jejak kebudayaan masa lampau, ada ingatan tentang bencana, dan ada semangat masyarakat untuk menjaga cerita daerahnya.

Dari Gajah Dekem kita belajar tentang jejak peradaban. Dari Monumen Gempa kita belajar tentang ketangguhan manusia menghadapi bencana.

Dan setiap batu, setiap arca, setiap puing, serta setiap cerita yang tersimpan di dalamnya seolah mengingatkan kita:

Waktu boleh berjalan, tetapi sejarah jangan sampai hilang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan