Dua Kali Raih Rekor MURI, Shifu Odi Purwanto Dedikasikan 40 Tahun untuk Seni Bela Diri

WONOSOBO – Nama Odi Purwanto, atau yang akrab disapa Shifu Odi, menjadi salah satu sosok yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia seni bela diri. Seniman bela diri asal Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, itu telah menekuni berbagai aliran bela diri selama puluhan tahun.

Lahir pada Februari 1979, kecintaan Shifu Odi terhadap seni bela diri telah tumbuh sejak usia dini. Ia pertama kali mengenal bela diri melalui pencak silat yang diajarkan ayahnya, almarhum Sultoni, dan pamannya, almarhum Bambang Budi Utomo.

Ketertarikannya kemudian berkembang ketika Odi kecil mulai mengenal seni bela diri kungfu melalui film-film laga yang populer pada masanya. Sejumlah aktor bela diri seperti Bruce Lee, Jackie Chan, Jet Li, Gordon Liu, Ti Lung, David Chiang, Chen Kuan Tai hingga Liu Chia Liang turut menjadi inspirasi dalam perjalanan awalnya mempelajari kungfu.

“Karena kungfu bagi saya merupakan seni bela diri yang paling unik, artistik, indah, filosofis, lengkap dan menarik untuk dipelajari. Apalagi jurusnya ada bermacam-macam aliran, termasuk seni senjatanya. Bisa dikatakan kungfu merupakan seni bela diri dengan beragam senjata terbanyak di antara seni bela diri lainnya,” jelas Odi.

Seiring perjalanan waktu, ketertarikan tersebut berkembang menjadi dedikasi. Shifu Odi tidak hanya mempelajari satu aliran, tetapi berguru kepada sejumlah praktisi, master, guru besar dan tokoh dari berbagai tradisi bela diri.

Pengalamannya mencakup sejumlah aliran seni bela diri dari Tiongkok, Jepang, Korea hingga Indonesia.

Dua Kali Mendapat Pengakuan MURI

Salah satu catatan penting dalam perjalanan Shifu Odi adalah diperolehnya dua penghargaan Rekor MURI pada 2022.

Penghargaan pertama diterimanya pada 27 Juli 2022 di Galeri MURI, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan, Shifu Odi memperoleh sertifikat MURI Nomor 10450/R.MURI/VII/2022 dengan kategori “Seniman & atlet seni beladiri yang paling banyak belajar berbagai aliran seni beladiri.”

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Prof. Dr. (HC) Jaya Suprana, pendiri MURI.

Tidak berselang lama, Shifu Odi kembali mendapatkan penghargaan MURI.

Pada 28 November 2022, ia memperoleh sertifikat MURI Nomor 10716/R.MURI/XI/2022 dengan kategori “Seniman beladiri yang mengkoleksi sekaligus mempelajari seni senjata dari gaya/aliran kungfu terbanyak.”

Penghargaan kedua tersebut juga diserahkan langsung oleh Jaya Suprana.

Dua penghargaan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Shifu Odi dalam menekuni seni bela diri sekaligus menjadi bentuk pengakuan atas aktivitasnya dalam mempelajari berbagai aliran dan senjata bela diri.

Mendirikan Museum Seni Bela Diri Kungfu di Wonosobo

Dedikasi Shifu Odi terhadap dunia bela diri tidak berhenti pada latihan dan kompetisi.

Ia juga merintis Museum atau Galeri Seni Bela Diri Kungfu Wonosobo sejak 2004. Tempat tersebut menjadi ruang untuk menyimpan sekaligus memperkenalkan berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan perkembangan seni bela diri kungfu.

Koleksi yang disebut berada di museum tersebut antara lain beragam senjata kungfu, buku-buku dan video bela diri, koleksi video kungfu lawas, serta berbagai pernak-pernik kungfu.

Selain itu, terdapat pula karya seni berupa lukisan yang dibuat oleh Shifu Odi.

Museum atau galeri tersebut menjadi salah satu bentuk upayanya dalam menjaga dokumentasi dan pengetahuan mengenai seni bela diri agar tidak hanya berhenti sebagai aktivitas olahraga atau pertarungan, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari seni, budaya dan sejarah.

Dari Atlet hingga Pelatih

Perjalanan panjang Shifu Odi juga diwarnai dengan pengalaman sebagai atlet, pelatih dan narasumber.

Ia menyebut pernah meraih berbagai prestasi dalam kejuaraan wushu taolu dan kungfu tradisional, serta prestasi di tingkat daerah dalam wushu sanda, Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) dan kempo.

Menurut keterangannya, sepanjang perjalanan tersebut ia telah mengumpulkan sekitar 100 medali, piala dan penghargaan lainnya.

Ia juga mengembangkan metode yang disebut WJJ (Wingchun-Jiujitsu), yang menggabungkan unsur Wing Chun dan Jiujitsu, termasuk Brazilian Jiujitsu maupun Jiujitsu tradisional Jepang, dengan pengetahuan bela diri lain yang pernah dipelajarinya.

Di bidang pembinaan, Shifu Odi mengaku telah melatih sejumlah atlet, pelatih, artis, figur publik serta personel dari sejumlah kesatuan.

Pengalamannya tersebut, berdasarkan keterangan yang disampaikan, antara lain berkaitan dengan pelatihan bagi personel Kopassus, Kostrad, Brimob, Komando Armada Barat, hingga satuan pengamanan.

Ia juga aktif menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan seminar, pelatihan dan workshop seni bela diri.

Belajar dari Banyak Guru

Salah satu prinsip yang dibawa Shifu Odi dalam perjalanan beladirinya adalah keterbukaan untuk terus belajar.

Ia mengaku pernah berguru kepada lebih dari 30 orang guru dari berbagai aliran bela diri.

Baginya, perbedaan aliran bukan menjadi batas untuk mempelajari ilmu. Sebaliknya, setiap perguruan dan guru memiliki karakteristik, filosofi serta metode yang dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Shifu Odi juga pernah terlibat dalam kepengurusan pusat sejumlah organisasi kungfu di Indonesia, di antaranya Aliansi Kungfu Tradisional Indonesia (AKTI), Federasi Kung Fu Indonesia (FKFI), dan Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI).

Perjalanan tersebut membuat kiprahnya tidak hanya berada di arena latihan dan pertandingan, tetapi juga bersentuhan dengan aspek organisasi, pembinaan atlet dan pengembangan seni bela diri.

Bela Diri sebagai Seni, Tradisi dan Filosofi

Bagi Shifu Odi, bela diri tidak semata-mata berbicara mengenai kemampuan bertarung.

Kecintaannya terhadap wayang dan filosofinya, sastra, puisi, filsafat serta seni rupa turut membentuk cara pandangnya terhadap bela diri.

Ia melihat bela diri sebagai perpaduan antara kemampuan fisik, seni, disiplin, filosofi dan proses mengenali diri.

Kini, setelah sekitar empat dekade menjalani perjalanan di dunia bela diri, Shifu Odi masih menempatkan proses belajar sebagai bagian penting dalam kehidupannya.

Dua penghargaan MURI yang diraihnya pada 2022 menjadi salah satu catatan dari perjalanan tersebut. Namun bagi dirinya, pencapaian itu bukanlah akhir.

Dedikasi melalui latihan, pembinaan generasi berikutnya, dokumentasi koleksi bela diri serta upaya memperkenalkan filosofi seni bela diri menjadi bagian dari perjalanan yang terus dilanjutkan.

Pada akhirnya, perjalanan Shifu Odi dapat dirangkum dalam sebuah kalimat yang ia pegang:

“One day, you will just be a memory to some people. Do your best to be a good one.”

Sebuah pesan tentang bagaimana seseorang meninggalkan jejak—bukan hanya melalui prestasi, tetapi juga melalui ilmu, karya dan manfaat yang diberikan kepada generasi berikutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan