LSF Goes to School, 400 Siswa di Bogor Diajak Jadi Penonton Cerdas

BOGOR – Sebanyak 400 siswa dan guru SMPIT Rahmaniyah Bogor mengikuti kegiatan Lembaga Sensor Film (LSF) Goes to School, Senin (26/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran pelajar untuk memilih tontonan yang sesuai dengan klasifikasi usia melalui Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM).

Program yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.30 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya LSF mengedukasi masyarakat, khususnya kalangan pelajar, agar lebih bijak dalam mengakses film di tengah perkembangan platform digital dan media sosial.

Ketua LSF RI, Dr. Naswardi, M.M., M.E., dalam sambutannya menegaskan bahwa LSF berkomitmen melindungi masyarakat dari dampak negatif film dan iklan film yang beredar di Indonesia.

Ia juga menyoroti perkembangan produksi film nasional yang terus meningkat, sehingga edukasi mengenai klasifikasi usia penonton menjadi semakin penting.

“LSF berkomitmen untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk film dan iklan film yang beredar di masyarakat. LSF juga konsisten melakukan sosialisasi tentang penggolongan usia yang dapat dijadikan panduan bagi penonton film untuk memilih film yang akan ditonton sehingga menjadi tontonan yang aman dan berkualitas,” ungkap Naswardi.

Ketua Subkomisi Apresiasi LSF RI, Gustav Aulia, menjelaskan bahwa klasifikasi usia perlu menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang memutuskan menonton sebuah film.

Menurutnya, pelajar masih membutuhkan pendampingan dalam memahami isi tontonan. Karena itu, pemilihan film berdasarkan klasifikasi usia diharapkan membantu mereka memperoleh pengalaman menonton yang sesuai dengan tingkat kedewasaan.

LSF menetapkan klasifikasi usia penonton, yakni Semua Umur (SU), 13+, 17+, dan 21+. Klasifikasi tersebut menjadi panduan bagi masyarakat untuk menentukan kesesuaian film dengan usia penontonnya.

“Penggolongan usia film adalah hal yang harus diketahui oleh masyarakat untuk dijadikan panduan dalam menentukan film yang akan ditonton. Apalagi anak-anak sekolah yang masih membutuhkan bimbingan untuk mencerna tontonan yang ada,” papar Gustav.

Dorong Budaya Sensor Mandiri di Era Digital

Sementara itu, Ketua Subkomisi Advokasi LSF RI, Saptari Novia Stri, menyampaikan bahwa GNBSM merupakan gerakan yang dicanangkan LSF sejak 2018 untuk mendorong masyarakat memilah dan memilih tontonan secara mandiri.

Menurutnya, kebiasaan menonton masyarakat kini semakin beragam seiring kemudahan akses film melalui internet, layanan digital, dan media sosial. Kondisi tersebut membuat literasi perfilman menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mempertimbangkan popularitas film, tetapi juga kesesuaiannya dengan usia penonton.

Melalui GNBSM, masyarakat diajak berperan aktif dalam menentukan tontonan yang tepat bagi diri sendiri maupun keluarga.

Edukasi tersebut juga menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam mendampingi anak ketika mengakses film, terutama konten yang tersedia melalui berbagai platform digital.

Tegar Berbagi Pengalaman di Dunia Perfilman

Kegiatan LSF Goes to School turut mendapat dukungan dari produsen film Teman Tegar: Maira. Dalam kesempatan tersebut, Tegar berbagi pengalaman selama proses produksi film sekaligus menceritakan perjalanan awalnya dalam menekuni dunia perfilman.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada para siswa untuk mengenal industri film lebih dekat, termasuk proses kreatif di balik sebuah karya.

Selain berbagi pengalaman, pesan mengenai pentingnya menonton film sesuai klasifikasi usia juga disampaikan kepada siswa dan guru yang hadir.

Melalui kegiatan ini, LSF berharap pelajar semakin memahami pentingnya menjadi penonton cerdas, mampu memilih tontonan yang sesuai usia, serta ikut membangun budaya menonton yang sehat dan bertanggung jawab di tengah perkembangan teknologi digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan