PADANGKARA, Paguyuban Dalang Bhayangkara yang Lahir dari Kepedulian Sosialisasi Prokes dan Harkamtibmas di Tengah Pandemi.

Jakarta – Di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19, sekelompok anggota Polri yang juga dalang wayang kulit justru menemukan cara kreatif untuk tetap mengabdi kepada masyarakat. Mereka membentuk Paguyuban Dalang Bhayangkara atau PADANGKARA, sebuah wadah yang memanfaatkan kesenian wayang sebagai sarana sosialisasi protokol kesehatan (prokes) dan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas).

Pembentukan PADANGKARA bermula dari diskusi kecil di antara tiga personel Polri: IPDA Sutrisno, IPDA Susilo (Densus 88), dan AIPDA Indro (Polda Metro Jaya). Dalam perbincangan itu, mereka merasa terpanggil untuk tetap menyuarakan edukasi publik melalui media budaya.
“Kami sadar masyarakat rindu hiburan, tapi juga perlu edukasi. Jadi kami berpikir, kenapa tidak wayang kulit yang digunakan untuk itu?” ujar IPDA Sutrisno.

IPDA Susilo menambahkan bahwa pembatasan kegiatan masyarakat saat pandemi memicu mereka untuk berinovasi. “Wayang bukan hanya seni, tapi juga bisa menjadi alat komunikasi yang kuat. Maka dari itu, kami wujudkan PADANGKARA sebagai bentuk tanggung jawab sosial kami sebagai anggota Polri,” tuturnya.

Sejak resmi dibentuk, PADANGKARA mengalami perkembangan pesat. Banyak personel Polri yang turut bergabung sebagai dalang maupun sinden. Keberadaan paguyuban ini bahkan sudah dilaporkan secara langsung kepada Kapolri, saat pentas wayang digelar dalam rangka Hari Bhayangkara ke-76 pada 2022 di Mabes Polri.

AIPDA Indro menyebut, dukungan dari pimpinan akan menjadi semangat tambahan bagi anggota. “Kami berharap, dengan perhatian dan dukungan dari pimpinan, PADANGKARA bisa semakin besar manfaatnya untuk masyarakat. Ini bukan hanya hiburan, tapi juga edukasi dan pendekatan budaya,” jelasnya.

Kini, PADANGKARA tak hanya menjadi ruang ekspresi bagi para anggota Polri yang memiliki bakat seni, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan-pesan Polri kepada masyarakat secara lebih humanis dan menyenangkan.

“Kami ingin Polri hadir di tengah masyarakat dengan pendekatan yang lebih lembut, lewat budaya dan kesenian,” ujar IPDA Sutrisno.

Dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial, PADANGKARA bertekad menjadi garda terdepan dalam upaya membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran Polri melalui pendekatan budaya tradisional yang membumi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan