SURAKARTA – Ratusan pelajar dari berbagai SMP di Indonesia berkumpul di Hotel Dana Surakarta (22/10/2025) selama tiga hari untuk mengikuti Jambore Sekolah Ekologis Nasional 2025, sebuah forum pembelajaran lintas daerah yang mengusung misi besar: mencetak generasi muda yang sadar lingkungan dan tangguh menghadapi krisis iklim.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Aliansi Zero Waste Indonesia (Alians Zerowis) bersama sejumlah lembaga pemerhati lingkungan ini melibatkan peserta dari tiga provinsi, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, dan PPLH Bali. Dari Jawa Tengah, perwakilan datang melalui komunitas Gita Pertiwi; dari Jawa Timur hadir Ecoton, sementara dari Bali turut serta sejumlah sekolah dampingan dari Denpasar.
“Jambore ini menjadi ruang bersama bagi anak-anak untuk mendapatkan hak mereka hak untuk sehat, bahagia, dan hidup di lingkungan yang lestari,” ujar Alvian Kal Mustawa, perwakilan Gita Pertiwi Solo sekaligus salah satu inisiator kegiatan ini.
Menurut Alvian, kegiatan jambore ini merupakan bagian dari upaya membangun jejaring Sekolah Ekologis Nasional, di mana setiap sekolah diajak menumbuhkan kesadaran dan praktik nyata dalam empat tema utama: pangan sehat, pengelolaan sampah, konservasi air dan energi, serta energi terbarukan.
Selama kegiatan, peserta tidak hanya mengikuti sesi diskusi dan lokakarya, tetapi juga menampilkan hasil karya dan inovasi lingkungan mereka melalui pameran.
Belajar dari Sekolah, Menanam Kepedulian Sejak Dini
Salah satu peserta yang mencuri perhatian datang dari SMP Negeri 4 Surabaya, diantaranya Padizha Nikeisyandria Aisyzarra, Janeeta Qausquza Sakha,
Abdullah Hafidz Al Kautsar yang telah melaksanakan program Lingkungan sejak tahun Juni 2024 melalui pendampingan Sulastri.
“Kami membawa sekolah-sekolah dampingan yang sudah bertahun-tahun berproses. Bahkan kini, tak hanya sekolah negeri, tapi juga madrasah mulai aktif bergerak di bidang lingkungan,” ungkap Wawan, Direktur Napa Surabaya.
Wawan menambahkan, kegiatan jambore ini menjadi ajang saling belajar lintas daerah. Banyak inovasi yang bisa ditiru, mulai dari pengelolaan sampah organik di Bawean hingga konservasi air di Lombok. Ia menegaskan bahwa jambore ini bukan kegiatan seremonial semata, tetapi akan berlanjut dengan pendampingan berkelanjutan bagi sekolah-sekolah yang ingin bergabung dalam jaringan Sekolah Ekologis Indonesia.

Dari Magot hingga Sabun Jelantah: Kreativitas yang Bernilai Ekologis
Dari deretan stan pameran, tampak sejumlah inovasi siswa yang memadukan kreativitas, sains, dan kepedulian terhadap bumi. Dua siswi SMPN 4 Surabaya,Janeeta Qausquza Sakha dan Padizha Nikeisyandria Aisyzarra memperkenalkan sederet produk hasil karya sekolah mereka.
Di antara produk unggulan yang mereka bawa adalah Sabun Ekoenzim “SAKERA” : Sabun Eco – Enzim “SAKERA’’ yang diolah dari cairan serbaguna yang dibuat dari fermentasi sisa sampah organik (buah & sayuran) dengan gula dan air.
Sirup Belimbing Wuluh Spenfora “SI – BULURA’’ Yang diolah dari Belimbing Wuluh yang ada dilingkungan sekolah diolah menggunakan rempah rempah tanpa bahan pengawet.Pewangi alami yang diolah dari wangi alami bunga dan kulit buah
Namun yang paling menarik perhatian adalah proyek budidaya magot yang diinisiasi oleh Padizha Nikeisyandria Aisyzarra, sebagai bagian dari program “Putri Lingkungan Hidup”.
Magot Larva dari lalat Black Soldier Fly mereka kelola untuk mengurai limbah organik rumah tangga menjadi produk inovasi yaitu Pupuk Kasgot dan Dry Magot yang dapat dijual kembali sebagai pakan ternak bernilai tinggi.
“Dari sisa makanan yang biasanya dibuang, kami ubah jadi pupuk dan pakan. Ini cara sederhana tapi efektif mengurangi sampah dan mendukung ekonomi sirkular,” ujar Janeta penuh semangat.
Pendamping sekolah, Sulastri, menambahkan bahwa program seperti ini tidak hanya melatih siswa berinovasi, tetapi juga mengajarkan nilai ekonomi sirkular, di mana limbah bukan lagi akhir dari proses, melainkan awal dari manfaat baru bagi lingkungan dan masyarakat.
Dari Solo untuk Indonesia yang Lebih Hijau
Gelaran Jambore Sekolah Ekologis Nasional 2025 di Solo menjadi bukti bahwa kesadaran lingkungan dapat tumbuh dari ruang-ruang pendidikan, bahkan di usia belia. Para siswa datang bukan sekadar membawa karya, tetapi membawa pesan kuat: bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di sekolah.
“Kami ingin membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan kepedulian ekologis sejak dini. Bukan hanya teori, tapi aksi nyata,” tutup Alvian.
Selama tiga hari, kegiatan ini menjadi laboratorium sosial dan ekologis yang hidup di mana ide, inovasi, dan semangat muda bersatu demi satu tujuan: menyelamatkan bumi, menjaga kehidupan.






