SURAKARTA – Peringatan haul ke-16 Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurachman Wahid (Gus Dur), diperingati secara sederhana namun sarat makna oleh Perjuangan Walisongo Indonesia–Laskar Sabilillah (PWI–LS) Kota Surakarta, Selasa (30/12/2025). Kesederhanaan acara tak mengurangi esensi utama: meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan universal yang selama hidupnya diperjuangkan Gus Dur.
Ketua PWI–LS Kota Surakarta, RT Sudrajat Kentas Pribadi Dwijodipuro, mengatakan haul ini tidak hanya menjadi ruang doa bagi almarhum Gus Dur, tetapi juga momentum refleksi perjuangan kemanusiaan lintas batas. Doa bersama turut dipanjatkan untuk para leluhur dan ahli kubur keluarga besar anggota PWI–LS Kota Surakarta.
Rangkaian doa dipimpin oleh KH Muhammad Tohir, pengasuh Pondok Pesantren As Siroj, Solo, sementara mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH Budi Santoso, pengasuh PP Khozinatul Asror, Boyolali.
Menurut Sudrajat, kegiatan ini juga merupakan tindak lanjut instruksi DPP PWI–LS kepada seluruh jajaran pengurus di daerah agar menyelenggarakan peringatan haul Gus Dur secara serentak.
“Gus Dur bukan hanya tokoh rujukan warga Nahdliyin, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia. Beliau konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, terutama dalam membela kelompok minoritas dan mereka yang terpinggirkan,” ujar Sudrajat.
Ia menegaskan, dari perspektif kemanusiaan, Gus Dur selalu menempatkan ajaran agama sebagai nilai yang harus diimplementasikan untuk seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Prinsip tersebut menjadi fondasi perjuangan Gus Dur di berbagai bidang agama, demokrasi, politik, sosial, ekonomi, hingga budaya.
“Bagi Gus Dur, kemanusiaan bersumber dari ketauhidan. Manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang diberi amanah untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan adalah cerminan sifat-sifat ketuhanan,” jelasnya.
Pandangan itu, lanjut Sudrajat, meniscayakan sikap saling menghargai dan menghormati antar manusia. Memuliakan manusia berarti memuliakan Sang Pencipta dan sebaliknya.
Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat, bukan melalui retorika yang membakar emosi, melainkan lewat kebijakan dan sikap yang memanusiakan. Dalam hal keadilan, Gus Dur berpandangan bahwa martabat manusia hanya dapat terwujud melalui keseimbangan dan kelayakan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Keadilan tidak hadir dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan. Perlindungan terhadap kelompok yang diperlakukan tidak adil adalah tanggung jawab moral kemanusiaan. Dan Gus Dur dengan sadar mengambil tanggung jawab itu,” tambahnya.
Nilai-nilai tersebut, menurut Sudrajat, menjadi pelajaran penting bagi seluruh anggota PWI–LS Kota Surakarta dalam mengemban visi dan misi organisasi.
Selain doa bersama, kegiatan haul juga diisi dengan sosialisasi kiprah PWI–LS Kota Surakarta yang selama ini konsisten pada isu pelurusan sejarah, edukasi publik, serta penguatan nilai-nilai kearifan masyarakat sejalan dengan semangat Islam Rahmatan lil ‘Alamin yang diwariskan Gus Dur.






