Dari Iseng di Facebook, Pria Ini Raup Untung Jutaan dari Bisnis Bonsai hingga Dilirik Pembeli Italia

SUKOHARJO – Bisnis bonsai ternyata tidak sekadar hobi mempercantik halaman rumah. Di tangan para pegiatnya, tanaman mini bernilai seni itu mampu menjadi ladang cuan dengan keuntungan berlipat. Bahkan, salah satu pebisnis bonsai di Sukoharjo mengaku pernah menerima penawaran hingga Rp132 juta dari calon pembeli asal Italia.

Awalnya, pria tersebut mengaku hanya iseng melihat unggahan bonsai di Facebook. Dari rasa penasaran itu, ia mulai mencoba membeli dua bonsai dengan modal sekitar Rp3 juta.

Bacaan Lainnya

“Awalnya cuma iseng lihat postingan bonsai di Facebook. Saya lihat kok kelihatannya menjanjikan, lalu coba beli dua bonsai seharga sekitar Rp3 juta,” ujarnya.

Tak disangka, salah satu bonsai yang dibelinya berhasil terjual kembali dengan harga lebih tinggi melalui pemasaran online. Dari situ, ia mulai serius menekuni bisnis bonsai.

Menurutnya, bisnis bonsai memiliki pasar tersendiri. Tidak semua orang tertarik, sehingga penjual dituntut sabar dalam proses pemasaran.

“Penggemarnya memang orang-orang tertentu, jadi harus sabar saat menjual,” katanya.

Ia mengaku sebagian besar penjualan dilakukan secara online melalui Facebook dan platform jual beli daring seperti OLX. Pembeli datang dari berbagai daerah seperti Bekasi, Jakarta, Tangerang, Demak, Boyolali hingga Wonogiri.

“Saya biasanya foto dan video bonsai lalu dipasarkan online. Banyak grup bonsai di Facebook dari Jawa sampai Kalimantan dan Lampung yang saya ikuti,” jelasnya.

Tak hanya menjual, ia juga kerap membeli bahan bonsai dari berbagai daerah, termasuk Madura, karena dinilai memiliki harga lebih murah.

Dalam menjalankan usahanya, ia memilih membeli bonsai dari petani atau pencari bahan bonsai di alam. Setelah dibentuk dan memiliki karakter menarik, bonsai tersebut kembali dijual dengan nilai lebih tinggi.

“Kadang beli Rp500 ribu bisa laku Rp2,5 juta. Ada juga beli Rp2 juta lalu terjual Rp4 juta,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengakui tidak semua bonsai mudah terjual. Harga bonsai sangat bergantung pada karakter, keunikan, dan kesepakatan antara penjual dan pembeli.

Menurutnya, bonsai memiliki nilai eksklusif karena tidak dapat diduplikasi persis seperti barang produksi pabrik.

“Kalau bonsai itu unik. Satu pohon punya karakter sendiri dan tidak bisa dibuat sama persis,” katanya.

Ia juga menyoroti tingginya minat pasar internasional terhadap bonsai Indonesia. Namun, menurutnya, regulasi karantina tanaman masih menjadi kendala utama ekspor.

“Saya pernah ditawar pembeli dari Italia sampai Rp132 juta. Tapi setelah tahu harus karantina dua bulan, akhirnya pembelinya mundur,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah dapat mempermudah akses ekspor bonsai agar para pegiat bonsai lokal mampu menembus pasar internasional lebih luas.

“Harapannya akses ke luar negeri dipermudah supaya bonsai Indonesia bisa lebih berkembang,” katanya.

Dalam dunia bonsai, beberapa jenis tanaman saat ini sedang populer di kalangan kolektor, seperti sancang, serut, ficus atau beringin, ulmus mikro, hingga asem. Namun, menurutnya, serut masih menjadi primadona karena karakter batang dan daya tahannya yang baik.

Selain bernilai ekonomi, ia menilai bonsai juga memberi manfaat estetika dan investasi jangka panjang.

“Bonsai itu seperti menabung, tapi dalam bentuk tanaman. Semakin langka bahan bonsainya, biasanya harga juga semakin naik,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan