Mulat Sarira, Jalan Pulang dalam Falsafah Jawa

“Urip iku mung mampir ngombe.” Ungkapan sederhana ini bukan sekadar pengingat bahwa hidup di dunia bersifat sementara, tetapi juga mengandung pesan mendalam bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Sumber Kehidupan.

Dalam khazanah budaya Jawa, perjalanan hidup manusia dikenal melalui konsep Sangkan Paraning Dumadi, yaitu memahami dari mana manusia berasal dan ke mana akhirnya akan kembali. Falsafah ini mengajak manusia tidak hanya mengenal dunia luar, tetapi juga menempuh perjalanan ke dalam diri.

Orang Jawa mengenal laku Mulat Sarira Hangrasa Wani, yakni keberanian menengok batin sendiri. Bukan mencari kesalahan orang lain, melainkan memahami siapa diri yang sesungguhnya. Ketika pikiran menjadi hening dan hati menjadi bening, manusia diyakini lebih mudah mendengar suara nuraninya.

Keheningan dalam pandangan Jawa bukanlah sekadar diam tanpa suara, melainkan keadaan batin yang bersih dari hawa nafsu, amarah, kesombongan, dan rasa paling benar. Dari keadaan inilah seseorang belajar menyelaraskan diri dengan kehendak Gusti.

Leluhur Jawa juga mengajarkan keseimbangan antara lahir dan batin. Tubuh memiliki alat-alat lahir seperti mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, mulut untuk berkata, tangan untuk bertindak, kaki untuk melangkah, dan pikiran untuk berpikir. Namun seluruh anugerah itu seharusnya dipimpin oleh batin yang jernih.

Apabila sifat keduniawian menguasai batin, manusia mudah terjebak pada rasa memiliki, merasa benar, merasa paling suci, atau merasa paling layak. Padahal dalam falsafah Jawa, yang utama bukanlah kebanggaan diri, melainkan kesadaran akan keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.

Nilai ini tergambar dalam kisah Bima bertemu Dewa Ruci. Perjalanan Bima bukan sekadar petualangan fisik, melainkan perlambang perjalanan manusia mencari hakikat dirinya. Dewa Ruci yang berwujud menyerupai Bima mengisyaratkan bahwa jawaban sejati berada di dalam diri sendiri. Ketika manusia mengenali jati dirinya, ia mulai memahami asal-usul kehidupannya dan tujuan akhirnya.

Falsafah Jawa juga mengenal ungkapan:

“Mulat sarira hangrasa wani, wening cipta mandeng pucuke grana.”

Maknanya, keberanian melihat diri sendiri harus disertai kejernihan pikiran dan kesadaran batin. Dari situlah lahir kebijaksanaan, bukan sekadar pengetahuan.

Pada akhirnya, inti ajaran leluhur Jawa bukanlah memperdebatkan jalan yang berbeda-beda. Sebab istilah boleh beragam, bahasa boleh berbeda, namun nilai yang dituju tetap sama: manusia diajak hidup dengan eling, waspada, andhap asor, serta senantiasa berserah diri kepada Gusti.

Maka, perjalanan spiritual dalam budaya Jawa bukanlah perlombaan untuk merasa paling benar, melainkan laku seumur hidup untuk menjadi manusia yang semakin mengenal dirinya, menghormati sesama, menjaga harmoni dengan alam, dan selalu ingat kepada Sang Pencipta.

“Sapa kang wus weruh marang jatining dhiri, bakal luwih cedhak marang pangenalan marang Gusti.”

Itulah hakikat Sangkan Paraning Dumadi: perjalanan pulang menuju asal, melalui jalan kebeningan hati dan kebijaksanaan hidup.

(Goes Obie/r)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan