60 Warga Cepoko Sawit Belajar Jualan Digital, UMKM Didorong Naik Kelas Lewat Media Sosial

BOYOLALI – Sebanyak 60 warga Desa Cepoko Sawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, mengikuti pelatihan optimalisasi media sosial untuk pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), Sabtu (8/8/2026).

Pelatihan tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Para peserta langsung diajak mempraktikkan cara memanfaatkan media sosial sebagai sarana memperkenalkan sekaligus memasarkan produk usaha mereka.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Cuat Consulting yang secara rutin memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM secara gratis.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mulai dari membuat fanpage Facebook, mengaktifkan WhatsApp Business, mengambil foto produk, membuat konten, hingga menyusun materi promosi untuk kebutuhan iklan.

Founder Cuat Consulting, Yan Subianto, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kebutuhan para pelaku UMKM di Desa Cepoko Sawit yang ingin mengembangkan pemasaran produknya melalui media digital.

“Ini merupakan CSR dari Cuat Consulting. Kami memang rutin melakukan pembinaan UMKM secara gratis. Setiap Senin dan Jumat ada diskusi, konsultasi, mentoring dan pendampingan,” kata Yan.

Menurutnya, pelatihan di Cepoko Sawit dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi bisa langsung menghasilkan materi yang dapat digunakan untuk memasarkan produk.

Peserta ditargetkan sudah mampu menayangkan konten di media sosial pada hari yang sama. Setidaknya, masing-masing fanpage diharapkan mulai diisi dengan beberapa konten sebagai langkah awal membangun kehadiran digital.

“Jadi hari ini mereka langsung praktik. Mulai membuat fanpage Facebook, WhatsApp Business, kemudian belajar foto produk, membuat iklan dan storytelling. Target kami, sebelum selesai pelatihan mereka sudah bisa tayang,” ujarnya.

Pendampingan juga tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurut Yan, peserta akan tetap tergabung dalam grup komunikasi untuk mendapatkan pemantauan dan pendampingan lanjutan.

“Minimal enam bulan akan kami pantau terus untuk pengembangan berikutnya. Jadi tidak berhenti setelah pelatihan selesai,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapat dukungan konsumsi dari Nuganfood. Program pendampingan UMKM tersebut, lanjut Yan, tidak hanya dilakukan di satu wilayah, tetapi telah menjadi bagian dari kegiatan sosial yang menyasar pelaku UMKM di berbagai daerah di Jawa Tengah.

“Kami memang berusaha mencari keuntungan sebagai perusahaan, tetapi kegiatan sosialnya juga kami alirkan untuk membantu UMKM, khususnya di Solo Raya,” ujarnya.

Sementara itu, Daliman Kepala Desa Cepoko Sawit mengatakan pelatihan digital tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah desa membantu warga meningkatkan kemampuan pemasaran produk lokal.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga berkaitan dengan persiapan Desa Cepoko Sawit dalam mengikuti lomba Kampung Mandiri yang mewakili Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali.

“Harapan kami setelah pelatihan ini warga bisa memasarkan produknya melalui digital. Sekarang hampir semua orang sudah terbiasa menggunakan media sosial. Kalau produk bisa dikenal, kemudian memiliki pasar, tentu diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan warga,” katanya.

Sejumlah produk UMKM warga Cepoko Sawit memiliki beragam jenis, mulai dari makanan ringan, makanan tradisional seperti utri, roti dan berbagai produk makanan lainnya.

Potensi tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas apabila pemasaran dilakukan secara konsisten dan memanfaatkan platform digital.

“Harapan kami ke depan Desa Cepoko Sawit bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lain, khususnya di Kecamatan Sawit, dalam mengembangkan potensi warga dan mengikuti berbagai program pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Pelatihan tersebut menjadi gambaran bahwa transformasi digital UMKM tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bagi pelaku usaha kecil di desa, langkah sederhana seperti memiliki katalog digital, foto produk yang menarik, WhatsApp Business dan rutin membuat konten bisa menjadi pintu awal untuk memperluas pasar.

Dari produk rumahan yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar, kini warga Cepoko Sawit mulai belajar memperkenalkannya kepada calon pembeli yang lebih luas melalui layar telepon genggam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan