SURAKARTA – Harapan untuk kembali melihat jelas dirasakan 50 warga lanjut usia (lansia) melalui bakti sosial operasi katarak gratis yang digelar Korem 074/Warastratama bersama Solopeduli dan RST Slamet Riyadi Surakarta, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB di RST Slamet Riyadi Surakarta tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus upaya membantu masyarakat, khususnya warga kurang mampu yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.
Dari 100 warga yang mendaftar, sebanyak 85 orang lolos seleksi administrasi. Setelah menjalani pemeriksaan atau screening kesehatan, sebanyak 50 pasien dinyatakan memenuhi syarat dan menjalani operasi.
Operasi dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang pertama diikuti 31 pasien, terdiri atas tiga warga Klaten, tiga Boyolali, 10 Sragen, empat Wonogiri, dan 11 Surakarta. Sementara gelombang kedua diikuti 19 pasien, yakni 14 warga Sukoharjo dan lima Karanganyar.
Danrem 074/Warastratama Kolonel Inf M. Arry Yudistira mengatakan operasi katarak gratis tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian dan semangat gotong royong untuk membantu masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan.
“Atas nama keluarga besar Korem 074/Warastratama kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Solo Peduli, RST Slamet Riyadi, para dokter, tenaga medis, relawan yang mendukung kegiatan Operasi Katarak Gratis ini,” ujarnya.
Menurutnya, Korem 074/Warastratama akan terus berkomitmen hadir di tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menyebut layanan operasi katarak gratis ini telah lama dinantikan masyarakat.
“Terima kasih kepada Solo Peduli dan Korem 074/Warastratama. Ini hal yang sudah dinantikan masyarakat. Apalagi ini sudah tiga bulan menanti dan hari ini bisa terlaksana. Semoga benar-benar ini berdampak langsung kepada masyarakat,” katanya.
Respati juga menyampaikan bahwa masyarakat yang belum mendapatkan kesempatan operasi diharapkan dapat kembali memperoleh layanan serupa pada tahun berikutnya.
Sementara itu, Dewan Pembina Solopeduli Dani H. Soe’oed menilai operasi katarak bukan sekadar pelayanan kesehatan. Bagi warga yang bertahun-tahun mengalami gangguan penglihatan, operasi tersebut menjadi momentum untuk mendapatkan kembali kualitas hidup.
“Operasi katarak hari ini bisa saja dianggap sebagai kegiatan biasa, namun bagi saudara-saudara kita yang selama ini mengalami gangguan penglihatan karena katarak, hari ini mungkin waktu yang telah lama dinantikan. Waktu di mana sebuah kehidupan akan kembali terang,” ungkapnya.
Dani mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Korem 074/Warastratama dan jajarannya, RST Slamet Riyadi, para dokter, persatuan dokter mata hingga para donatur.
Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan operasi katarak serupa pernah digelar Korem 074/Warastratama pada 2008 dengan jumlah peserta lebih dari 300 orang.
Salah satu peserta, Endang, warga Kestalan, Banjarsari, Surakarta, mengaku sudah lama berharap dapat kembali melihat secara normal. Ia tidak mempermasalahkan rasa sakit selama proses operasi demi bisa beraktivitas lebih baik dan tidak merepotkan keluarga.
“Sakit sekedik mboten nopo-nopo dek, sing penting saget normal malih motone. Wong mpun dangu sing nduwe pengarep-arep pengen normal kersane mboten mbebani anak mantu dek,” ujar Endang.
Pelaksanaan operasi diawali dengan registrasi pasien, pemberian obat tetes mata praoperasi, kemudian tindakan operasi yang berlangsung sekitar 15 hingga 30 menit, tergantung tingkat kekeruhan mata.
Usai operasi, pasien mendapatkan edukasi mengenai penggunaan obat dan larangan yang harus diperhatikan selama masa pemulihan. Pasi Teritorial Mayor Inf Sriyono juga menyempatkan berbincang dengan sejumlah pasien yang telah menjalani operasi.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan simbolis sebagai bagian dari rangkaian bakti sosial.
Melalui kegiatan tersebut, Korem 074/Warastratama, Solopeduli dan RST Slamet Riyadi berharap semakin banyak masyarakat yang terbantu mendapatkan kembali penglihatan yang lebih baik. Lebih dari sekadar operasi, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi dan kepedulian dapat mengembalikan harapan bagi mereka yang membutuhkan.






