Dari Teater hingga Wayang Babad, Warisan Kartasura Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda

Dari Teater hingga Wayang Babad, Warisan Kartasura Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda(ist)

SUKOHARJO – Peringatan Ambal Warsa ke-346 Kartasura memasuki hari kelima pada Selasa (6/10/2026). Kegiatan di kawasan Petilasan Karaton Kartasura malam itu diisi pertunjukan teater bertajuk Jebole Beteng Kartasura.

Pertunjukan tersebut mengangkat kisah sejarah Kartasura sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal keberadaan Petilasan Karaton Kartasura sebagai bagian dari warisan budaya.

Di tengah pertunjukan teater, perhatian juga tertuju pada keberadaan para seniman muda dan pengembangan Wayang Babad Kartasura. Kesenian tersebut mengangkat cerita tentang tokoh, pemimpin dan perjuangan yang berkaitan dengan sejarah Kartasura.

Kartasura memiliki jejak sejarah panjang sebagai bekas pusat pemerintahan Mataram sebelum pusat kekuasaan kemudian berpindah ke Surakarta dan Yogyakarta. Jejak tersebut hingga kini masih menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Upaya menghidupkan kembali cerita sejarah melalui kesenian menjadi salah satu cara agar generasi muda tidak hanya mengenal Kartasura dari peninggalan fisiknya, tetapi juga memahami kisah dan nilai budaya yang menyertainya.

Salah satu tokoh yang selama ini disebut memberikan perhatian terhadap perkembangan seni dan budaya di Kartasura adalah KRA Dr. H. Djuyamto Rekso Adiningrat, S.H., M.H.

Perhatian tersebut antara lain diwujudkan melalui dukungan terhadap kegiatan kesenian, termasuk sarana gamelan, pembinaan pemain serta pengembangan karya yang mengangkat identitas dan sejarah Kartasura.

Salah satu bentuk kesenian yang berkembang adalah Wayang Babad Kartasura. Berbeda dengan cerita pewayangan yang mengangkat tokoh-tokoh umum dalam pakem pewayangan, Wayang Babad Kartasura membawa kisah yang berkaitan dengan tokoh dan peristiwa sejarah di wilayah Kartasura.

Kesenian tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan kembali sejarah lokal melalui medium pertunjukan.

Tidak hanya pemain senior, keterlibatan generasi muda juga mulai terlihat. Sejumlah dalang cilik dan dalang muda mendapat ruang untuk belajar serta tampil, sementara pemain karawitan berasal dari lingkungan masyarakat setempat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada keberadaan peninggalan sejarah, tetapi juga membutuhkan regenerasi pelaku seni.

Apresiasi untuk Pelestari Budaya

Dalam kegiatan tersebut, KRRA H. Kuncoro Adiningrat, pemerhati budaya dari Karaton Surakarta, turut hadir memberikan apresiasi terhadap upaya pelestarian seni dan budaya di Kartasura.

Ia menyampaikan penghargaan atas perhatian yang diberikan kepada para seniman, khususnya generasi muda.

Menurutnya, dukungan terhadap proses regenerasi penting agar para pelaku seni muda memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mengenal akar budaya daerahnya.

Regenerasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan kebudayaan Kartasura. Seni pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan cerita sejarah dan nilai-nilai budaya kepada masyarakat.

Rangkaian Ambal Warsa ke-346 Kartasura masih akan berlanjut hingga puncak acara berupa Kirab Budaya pada 11 Oktober 2026.

Kirab tersebut menjadi salah satu agenda penutup rangkaian peringatan Ambal Warsa ke-346 Kartasura sekaligus ruang bagi masyarakat untuk merayakan sejarah, budaya dan identitas daerah secara bersama-sama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan