Dari Balik Jeruji, Merajut Harapan: Seminar Kebangsaan di Rutan Surakarta Dorong Warga Binaan Berdaya dan Berkarya

SURAKARTA – Pembinaan warga binaan tidak cukup hanya berorientasi pada penyelesaian masa pidana. Proses tersebut juga perlu membuka kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri, menumbuhkan kembali kepercayaan diri, serta mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.

Gagasan itu mengemuka dalam Seminar Nasional bertema “Merajut Asa Menumbuhkan Semangat Kebangsaan: Warga Binaan Berdaya dan Berkarya untuk Indonesia” yang diselenggarakan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surakarta.

Bacaan Lainnya

Kegiatan tersebut melibatkan Dewan Pengurus Angkatan ToT PPNK Angkatan ke-39 Lemhannas RI, jajaran Rutan Kelas I Surakarta, akademisi, praktisi, serta warga binaan. Forum ini menjadi ruang untuk membicarakan wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, dan pentingnya pembinaan yang memberi kesempatan kepada warga binaan untuk berkembang.

Kepala Rutan Kelas I Surakarta, Bhanad Shofa Kurniawan, A.Md., IP., S.H., M.M., menekankan bahwa warga binaan tetap memiliki peluang untuk memperbaiki masa depan. Menurutnya, keterbatasan ruang fisik selama menjalani masa pidana tidak seharusnya mematikan daya pikir, kreativitas, dan kemauan untuk berkarya.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah tantangan pemasyarakatan yang tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan pidana, tetapi juga bagaimana menyiapkan seseorang agar dapat kembali menjalani kehidupan sosial secara bertanggung jawab.

Mengubah Cara Pandang terhadap Warga Binaan

Dalam sambutannya, Bhanad mengajak peserta melihat pembinaan sebagai proses perubahan, bukan semata-mata bentuk pembatasan kebebasan.

Ia menyampaikan bahwa warga binaan memiliki kesempatan kedua untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Karena itu, proses pembinaan perlu diarahkan pada pengembangan karakter, keterampilan, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, serta masyarakat.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan pemasyarakatan yang menempatkan pemulihan dan reintegrasi sosial sebagai bagian penting dari proses pembinaan.

Warga binaan tidak semestinya terus-menerus dilekatkan pada kesalahan masa lalu. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar, memperbaiki perilaku, serta membangun kemampuan yang dapat digunakan setelah menyelesaikan masa pidana.

Namun, kesempatan tersebut juga memerlukan komitmen pribadi. Perubahan tidak berhenti pada pemahaman yang diperoleh selama seminar, melainkan perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari dan kesungguhan mengikuti program pembinaan.

Bhanad juga mengungkapkan bahwa Rutan Kelas I Surakarta menghadapi persoalan kelebihan kapasitas. Dalam sambutannya, ia menyebut jumlah penghuni sekitar 619 orang, sedangkan kapasitas yang tersedia sebanyak 298 orang.

Angka tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemasyarakatan. Meski demikian, kondisi itu tidak boleh menghilangkan perhatian terhadap kualitas pembinaan, kebutuhan individual warga binaan, dan persiapan mereka untuk kembali ke masyarakat.

Alumni Lemhannas Dorong Warga Binaan Tetap Produktif

Ketua Angkatan ToT PPNK Angkatan ke-39 sekaligus akademisi Universitas Bung Karno, Dr. (c) Harsen Roy Tampomuri, S.IP., M.A., menjelaskan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi antara alumni Lemhannas dan jajaran pemasyarakatan.

Dalam wawancara setelah kegiatan, Harsen menyampaikan bahwa seminar itu diarahkan untuk membuka ruang pembinaan kebangsaan bagi warga binaan. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi dapat dilanjutkan melalui kerja sama dengan pihak-pihak terkait.

Menurut Harsen, warga binaan termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian agar tetap mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi secara produktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menilai warga binaan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai beban sosial. Dengan dukungan pembinaan dan kesempatan yang tepat, mereka dapat mengembangkan kemampuan, menghasilkan karya, dan berkontribusi bagi Indonesia.

“Harapannya ke depan, ini bisa kita tindak lanjuti melalui kerja sama dan kolaborasi dengan pihak terkait,” demikian inti pesan Harsen mengenai keberlanjutan kegiatan tersebut.

Gagasan ini menempatkan wawasan kebangsaan dalam konteks yang lebih luas. Cinta tanah air tidak hanya dimaknai melalui simbol atau slogan, tetapi juga melalui kesediaan memperbaiki diri, menghormati sesama, menaati hukum, dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial secara bertanggung jawab.

Bagi warga binaan, proses tersebut dapat dimulai dari lingkungan pembinaan, melalui kebiasaan positif, pengembangan keterampilan, dan kesediaan membangun kembali hubungan dengan keluarga serta masyarakat.

Pancasila sebagai Landasan Perubahan Perilaku

Seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, yakni Dr. (c) Harsen Roy Tampomuri, S.IP., M.A.; Pranjani Harianto Lbn Radja, S.H., M.H., Direktur Pusat Sosialisasi dan Literasi Kebangsaan; serta Dr. (c) Winyono Iman Santoso, S.Sos., M.Ikom., profesional bidang media dan penyiaran.

juga hadir Ketua Panitia Indarto Riyan Saputro, S.E., M.M. Pengusaha dan Akademisi Undha AUB Surakarta, Kordinator Wilayah Jawa Dr (c) Drajat Jati Prakoso,S.E., M.M. Akademisi Undha AUB Surakarta, Dr. Anggoro Panji Nugroho, SE, MM sebagai Ketua Yayasan Karya Darma Pancasila (YKDP) yang menaungi perguruan tinggi AUB Surakarta (termasuk STIE AUB dan Universitas Dharma AUB / UNDHA)

Materi dan diskusi diarahkan pada penguatan nilai kebangsaan, pembentukan karakter, serta pentingnya menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata.

Dalam penyampaiannya, para narasumber mengingatkan bahwa proses belajar tidak cukup berhenti pada pemahaman secara teoritis. Nilai yang diperoleh perlu tercermin dalam sikap, keputusan, dan perilaku sehari-hari.

Pranjani menekankan pentingnya menjadikan ilmu sebagai dasar tindakan. Wawasan yang didapat dari pendidikan, bacaan, maupun pengalaman orang lain diharapkan dapat mendorong seseorang untuk melakukan perubahan positif dan saling menguatkan.

Sementara itu, Winyono mengajak warga binaan untuk tetap memiliki semangat dan bekerja keras. Ia menekankan bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri dan berkontribusi bagi bangsa tetap terbuka.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan kebangsaan di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya berbicara tentang pemahaman terhadap Pancasila dan identitas nasional. Lebih jauh, pendidikan itu diharapkan membantu membangun kesadaran mengenai tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, serta pentingnya menjalani kehidupan yang lebih baik.

Seni, Budaya, dan Ekonomi Kreatif sebagai Peluang

Salah satu hal yang menarik dari sambutan Kepala Rutan adalah perhatian terhadap potensi kreativitas warga binaan.

Bhanad menyampaikan bahwa seni, budaya, dan kegiatan ekonomi kreatif dapat menjadi sarana untuk mendukung perubahan perilaku. Melalui kegiatan produktif, warga binaan berpeluang mempelajari keterampilan baru sekaligus membangun rasa percaya diri.

Ia menyinggung pengalaman pengembangan produk kreatif di lingkungan Rutan Surakarta, termasuk produk yang disebutnya telah masuk ke Lokananta. Ia juga menyebut adanya permintaan produk dalam jumlah tertentu.

Informasi tersebut menunjukkan peluang yang dapat dikembangkan melalui keterhubungan antara program pembinaan dan kebutuhan pasar. Namun, rincian mengenai nama produk, bentuk kerja sama, volume pesanan, serta mekanisme pemasarannya perlu dikonfirmasi agar dapat memberikan gambaran yang utuh kepada publik.

Secara prinsip, kegiatan ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu jalur untuk mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas. Keterampilan membuat produk, bekerja dalam tim, menjaga mutu, dan memahami kebutuhan konsumen merupakan bekal yang berpotensi digunakan untuk mencari pekerjaan atau membangun usaha.

Meski demikian, produktivitas warga binaan perlu dibangun melalui pembinaan yang terarah. Aspek keselamatan, penghargaan terhadap hasil kerja, perlindungan hak, dan keberlanjutan program juga penting diperhatikan agar kegiatan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi peserta.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan pembinaan tidak semata-mata dilihat dari banyaknya produk yang dihasilkan, tetapi juga dari peningkatan kemampuan, kemandirian, serta kesiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat.

Dari Seminar Menuju Pembinaan yang Berkelanjutan

Dalam penutupan kegiatan, Harsen menyampaikan pesan agar warga binaan tidak kehilangan harapan. Ia mengingatkan bahwa masa pidana bukan berarti seluruh kesempatan untuk membangun masa depan telah berakhir.

Pesan serupa disampaikan Bhanad. Ia berharap proses pembinaan menjadi bagian dari perjalanan perubahan, sehingga warga binaan dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu bertanggung jawab setelah kembali ke lingkungan sosialnya.

Seminar ini sekaligus membuka ruang refleksi mengenai pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam proses pemasyarakatan. Petugas membutuhkan dukungan masyarakat, akademisi dapat berkontribusi melalui pendidikan dan pengembangan wawasan, sedangkan pelaku usaha berpotensi membuka akses keterampilan serta peluang kerja.

Kolaborasi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam program yang terukur, memiliki tindak lanjut, dan dapat dievaluasi manfaatnya. Tanpa kesinambungan, seminar berisiko berhenti sebagai kegiatan sesaat yang hanya meninggalkan pesan inspiratif.

Karena itu, harapan terbesar dari kegiatan ini bukan hanya tumbuhnya semangat selama seminar berlangsung, melainkan munculnya perubahan yang dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Warga binaan tetap memiliki tanggung jawab atas perbuatannya. Pada saat yang sama, mereka juga berhak mendapatkan proses pembinaan yang manusiawi dan kesempatan untuk memperbaiki diri sesuai ketentuan hukum.

Pada akhirnya, merajut asa berarti membuka jalan bagi perubahan. Menumbuhkan semangat kebangsaan berarti mendorong setiap orang untuk menghargai kehidupan, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan berkontribusi sesuai kemampuannya.

Dari Rutan Surakarta, pesan yang ingin dibangun cukup jelas: masa lalu merupakan bagian dari perjalanan, tetapi masa depan masih dapat diperjuangkan melalui tindakan nyata, kesempatan yang adil, dan pembinaan yang berkelanjutan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan