Jakarta – Langit Jakarta siang itu memutih. Di halaman Istana Merdeka, ribuan pasang mata tertuju pada panggung sederhana yang berdiri di tengah upacara kenegaraan paling sakral: peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera merah putih berkibar gagah, pasukan upacara berseragam rapi, dan di antara prosesi yang serba resmi, sebuah suara merdu mengalun — lembut, namun berwibawa.
Itulah suara Endah Laras, pegiat seni asal Solo, yang membawakan lagu Tanah Airku. Namun kali ini berbeda. Lagu ciptaan Ibu Soed yang biasanya dilantunkan dengan nuansa melankolis, dipadukan Endah dengan irama keroncong. Petikan cak dan cuk berpadu dengan gesekan biola, menghadirkan kehangatan yang jarang terdengar di panggung kenegaraan.
“Bagi saya, ini bukan sekadar pentas. Ini cara saya ikut andil merayakan kemerdekaan. Dan bisa menyajikan keroncong di Istana, itu kebanggaan yang luar biasa,” ucap Endah usai tampil, matanya berbinar.
Jejak di Istana
Bagi Endah, Istana bukan panggung asing. Ia pernah dipercaya tampil pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, termasuk saat pelepasan Kabinet Indonesia Maju. Namun, peringatan kali ini terasa lain.
“Dulu saya tampil di dalam ruangan Istana. Kali ini di halaman, dengan penonton yang jauh lebih besar. Persiapannya pun luar biasa. Jadwal fitting, latihan, semua serba ketat. Tapi hasilnya sepadan,” tuturnya.
Ada satu detail yang membuat momen kali ini semakin berkesan: busana kebaya yang ia kenakan. Dirancang khusus oleh Didit Hediprasetyo, desainer sekaligus putra Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, kebaya itu melekat sempurna di tubuh Endah tanpa proses pengukuran.
“Saya hanya memberi contoh, lalu kebaya itu langsung jadi, pas sekali di badan. Rasanya seperti jodoh,” kata Endah sambil tertawa kecil.
Keroncong di Jantung Negara
Kehadiran keroncong di halaman Istana Merdeka memberi makna tersendiri. Musik yang lahir dari percampuran budaya ini sering kali dianggap kuno, kalah populer oleh musik pop dan digital. Namun di tangan Endah Laras, keroncong menemukan panggung baru — panggung negara.
“Biasanya Tanah Airku dinyanyikan dengan nuansa sendu. Saya ingin memberi warna lain, menunjukkan bahwa keroncong masih bisa bicara. Bahwa musik tradisi juga layak hadir di ruang-ruang kebangsaan,” ujarnya.
Keroncong memang menjadi napas bagi perjalanan seni Endah. Ia konsisten mempopulerkan genre ini, bukan hanya di panggung hiburan, tetapi juga di ruang edukasi. Baginya, musik tradisi harus terus diperdengarkan, agar generasi muda mengenal dan mencintainya.
Kolaborasi Harmoni
Tak hanya membawakan Tanah Airku, Endah juga berkolaborasi dengan dua nama besar musik Indonesia: Rossa dan Cakra Khan. Bersama mereka, ia melantunkan Berkibarlah Benderaku dengan sentuhan tradisi yang mengalir di sela aransemen modern.
“Kolaborasi itu menantang. Bagaimana caranya lagu pop bisa menyatu dengan nuansa tradisi, tanpa kehilangan jati diri masing-masing. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” katanya.
Penampilan itu tidak hanya mencuri perhatian tamu undangan, tetapi juga menjadi simbol kebinekaan musik Indonesia: pop, keroncong, dan tradisi, berpadu dalam satu harmoni.
Filosofi 8 dan 0
Tahun ini, Indonesia merayakan usia ke-80. Angka yang bagi sebagian orang hanyalah hitungan, namun bagi Endah, ia menyimpan filosofi.
“Angka 8 itu tidak pernah putus, begitu juga angka 0. Semoga semangat kita juga tidak pernah putus. Tidak putus berdoa, tidak putus berusaha, tidak putus berkarya untuk negeri ini,” ujarnya penuh harap.
Baginya, seni adalah bagian dari doa dan usaha itu. Melalui keroncong, ia menitipkan pesan tentang identitas, kebersamaan, dan cinta tanah air.
Lebih dari Sekadar Pertunjukan
Di balik senyum dan kebaya yang anggun, penampilan Endah Laras di Istana sesungguhnya adalah pernyataan: bahwa seni tradisi bukan sekadar nostalgia, melainkan energi hidup yang bisa memperkuat rasa kebangsaan.
Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, suara keroncong dari halaman Istana menjadi pengingat bahwa Indonesia berdiri bukan hanya di atas pembangunan dan teknologi, tetapi juga di atas warisan budaya yang harus terus dijaga.
Dan di hari ulang tahun ke-80 republik ini, Endah Laras telah menorehkan babak kecil dalam perjalanan panjang itu sebuah harmoni tradisi di jantung negara.






