Pareso 2025 : Ruang Inklusif Bagi Disabilitas untuk Hidupkan Warisan Budaya dan Pangan Lokal

Solo – Sebanyak 87 peserta turut ambil bagian dalam rangkaian acara Amerta Samskara Warisan Budaya Abadi
Future Food & Welness; Mengolah Fermentasi. Rempah herbal untuk Gaya Hidup Sehat by kampung rempah PARESO ( Pawon Rempah Solo) yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB di kompleks heritage nDalem Djojokoesoeman, Solo. Jumat (17/10/2025). Kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan kembali masyarakat dengan akar tradisi, sekaligus membuka akses partisipasi bagi kalangan disabilitas agar dapat tampil dan berdaya melalui medium budaya.

“Acara tahun ini bukan sekadar pameran, tapi wadah untuk belajar dan berekspresi bersama. Kami ingin membuktikan bahwa disabilitas juga punya peran penting dalam melestarikan budaya dan pangan Nusantara,” ujar salah satu panitia acara.

Bacaan Lainnya

Beragam agenda tersaji dalam acara ini, mulai dari Pameran Budaya, Workshop Batik dan Sorgum, Sarasehan Budaya, hingga Bazar UMKM Rempah dan Kuliner Lokal. Salah satu kegiatan yang mencuri perhatian adalah workshop “Warisan Pangan Nusantara Berbasis Sorgum” yang digelar oleh Iswara Food. Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta lintas usia anak-anak, ibu rumah tangga, hingga penyandang disabilitas  yang antusias belajar mengolah sorgum menjadi pangan sehat dan bernilai ekonomi.

Menurut Dewi Aminah, pemilik Iswara Food, sorgum merupakan simbol kemandirian pangan bangsa. “Kami ingin mengenalkan sorgum mulai dari dapur keluarga, dari ibu-ibu PKK hingga posyandu lansia. Gerakan pangan sehat harus lahir dari rumah,” ujarnya.

Ia menambahkan, sorgum tidak hanya kaya manfaat, tetapi juga mampu menjadi alternatif beras yang lebih hemat dan bergizi. “Satu kilogram sorgum bisa jadi 22 porsi makanan, hampir dua kali lipat dari beras biasa,” jelasnya.

Sementara itu, Imam, salah satu penggerak kegiatan, menyebutkan bahwa keterlibatan peserta disabilitas dalam workshop menjadi wujud nyata inklusivitas di ruang budaya.

“Kami ingin menunjukkan bahwa budaya itu milik semua, termasuk saudara-saudara disabilitas. Mereka punya potensi besar dalam seni, kuliner, dan kerajinan, asal diberi ruang yang layak,” katanya.

Selain workshop, Iswara Food juga menampilkan lomba mincok (mengolah bahan alami) untuk generasi muda, pementasan seni tradisi, serta diskusi tentang pelestarian nilai-nilai budaya Jawa di era modern. Kegiatan ini menjadi ajang lintas generasi yang menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kemandirian.

“Budaya bukan hanya soal masa lalu, tapi juga arah masa depan. Melalui kegiatan ini, kita belajar bagaimana menjaga tradisi, menghargai alam, dan menumbuhkan ekonomi rakyat,” tambah Dewi.

Dengan atmosfer heritage di nDalem Djojokoesoeman, Acara Amerta Samskara   menjadi contoh nyata bagaimana warisan budaya dapat dihadirkan secara adaptif dan inklusif. Dari rempah hingga sorgum, dari dapur hingga panggung budaya, semangat Solo untuk hidup mandiri dan berkeadilan terus menyala.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan