RT Sudrajat Dwijodipura: Krisis Multidimensi Bangsa Berawal dari Lunturnya Ideologi dan Hilangnya Gotong Royong

Solo – Indonesia tengah menghadapi masa sulit yang disebut banyak pihak sebagai krisis multidimensi. Persoalan sosial, ekonomi, budaya, hingga politik saling berkelindan, memperlihatkan gejala ketidakstabilan dalam hampir semua aspek kehidupan berbangsa. Ketidakpercayaan publik terhadap sistem pemerintahan pun semakin meningkat, sementara semangat gotong royong yang dahulu menjadi ciri khas bangsa, kini kian memudar.

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) asal Solo, RT Sudrajat Dwijodipura, menilai bahwa akar persoalan tersebut bukan semata karena faktor ekonomi atau politik, tetapi karena melemahnya ideologi bangsa dan hilangnya nilai-nilai kebersamaan.

“Krisis multidimensi yang kita hadapi adalah akibat krisis kepercayaan terhadap tata kelola sistem. Ini bukan persoalan baru, tapi warisan dari masa lalu yang belum selesai, dan semakin parah akibat derasnya arus informasi di media sosial atas nama kebebasan berpendapat,” ujarnya.

Pemimpin dan Arah Bangsa

Menurut Sudrajat, perjalanan bangsa dapat diibaratkan seperti kereta api: pemimpin adalah masinisnya, pemerintah sebagai lokomotif, dan rakyat adalah gerbong-gerbongnya.

“Masinis harus kuat dan berprinsip, karena dorongan dari belakang bisa membuat kereta keluar jalur. Begitu pula dengan pemimpin. Jika tidak teguh, bangsa akan kehilangan arah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa aparat keamanan juga harus netral dan profesional dalam menjalankan tugas, sementara seluruh elemen bangsa mesti kembali berpegang pada nilai dasar yang menyatukan: Pancasila.

“Pancasila adalah ideologi yang menjadi rel perjalanan bangsa. Tanpa itu, persatuan akan rapuh dan krisis tak kunjung usai,” tambahnya.

Hilangnya Arah Ideologi

Sudrajat menyoroti lemahnya peran partai politik dalam menanamkan ideologi kebangsaan. Menurutnya, banyak partai hanya menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai formalitas dalam AD/ART, tanpa menjadi pijakan nyata dalam membuat kebijakan.

“Seharusnya partai politik menjadi pilar ideologi, bukan sekadar alat perebutan kekuasaan. Bila semua partai berjalan searah dengan nilai Pancasila, arah bangsa akan menuju kesejahteraan,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika ada “gerbong” yang tidak sejalan dengan lokomotif perjuangan bangsa, maka gerbong itu sebaiknya dilepas agar tidak membebani laju perjalanan Indonesia menuju kemakmuran.

Korupsi dan Individualisme

Lebih jauh, Sudrajat menyoroti maraknya praktik korupsi dan pungli yang kini sudah dianggap hal biasa. Ia menyebut, budaya tersebut tumbuh karena hilangnya hati nurani dan meningkatnya sikap individualisme di masyarakat.

“Dulu, orang tua kita menanam pohon bukan untuk dirinya sendiri, tapi demi anak cucunya. Sekarang, banyak yang hanya memikirkan diri sendiri. Ini tanda hilangnya semangat gotong royong,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, derasnya pengaruh ideologi transnasional telah membuat sebagian masyarakat kehilangan jati diri bangsa.

“Kita lebih mudah kagum pada budaya asing daripada menggali kebijaksanaan leluhur sendiri,” katanya.

Belajar dari Sejarah Nusantara

Sudrajat mencontohkan kemajuan peradaban Nusantara di masa lalu, seperti pembangunan Candi Borobudur yang memakan waktu lebih dari setengah abad dan melibatkan banyak generasi kepemimpinan.

“Konsistensi kebijakan saat itu menunjukkan betapa bangsa Nusantara sudah maju dalam peradaban. Kita perlu meniru semangat itu  konsistensi arah kebijakan yang berpihak pada kemakmuran rakyat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya haluan negara yang selaras dengan Pancasila dan UUD 1945, agar pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan politik berjalan dengan arah yang jelas dan konsisten.

Pendidikan sebagai Kunci

Untuk memperbaiki kondisi bangsa, Sudrajat menilai pendidikan adalah kunci utama. Kurikulum nasional, katanya, harus diarahkan untuk membangun moral, karakter, dan ideologi Pancasila sejak dini.

“Dunia pendidikan harus memiliki haluan jangka panjang. Pemerintah perlu melakukan kontrol penuh agar kurikulum sejalan dengan arah pembangunan bangsa,” paparnya.

Ia mengapresiasi inisiatif pemerintah dalam membangun Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, namun menilai kebijakan tersebut perlu diperkuat dengan pendidikan usia dini yang berkelanjutan dan berbasis karakter.

“Jika sejak kecil anak-anak kita ditempa dengan nilai Pancasila, gotong royong, dan spiritualitas, maka generasi emas Indonesia bukan lagi sekadar mimpi,” katanya.

Kembali pada Jati Diri Bangsa

Sudrajat menegaskan bahwa solusi dari krisis multidimensi bukan hanya melalui pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi juga pemulihan moral dan jati diri bangsa.

“Kita harus mengembalikan ingatan sejarah anak bangsa. Banyak kepentingan asing berupaya mengaburkan sejarah Nusantara. Padahal, dari sejarah itulah kita belajar tentang harmoni, keselarasan, dan hubungan manusia dengan Tuhan,” ujarnya.

Menutup perbincangan, ia mengutip ajaran dari pujangga Jawa seperti Jayabaya dan Ronggowarsito, yang pernah meramalkan masa kejayaan Nusantara.

“Masa keemasan itu hanya akan datang bila kita berupaya keras membangunnya. Kuncinya adalah kembali pada moral, sejarah, dan Pancasila,” pungkasnya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan