Di Bawah Langit Bocor, Harapan Itu Datang: TMMD Bedah Atap Rumah Bu Parni di Kulon Progo

KULON PROGO – Di bawah atap yang lapuk dan nyaris runtuh, Bu Parni selama ini menjalani hari-harinya dengan rasa waswas. Setiap hujan turun, kekhawatiran ikut datang air merembes dari celah genteng, sementara rangka kayu yang rapuh mengancam keselamatan.

Namun, Kamis (30/4/2026) menjadi titik balik bagi warga Padukuhan Gentan, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah itu. Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Tahun Anggaran 2026, rumah sederhana miliknya mulai direnovasi lewat bantuan Aladin (Atap, Lantai, Dinding).

Bacaan Lainnya

Sejak pagi, Satgas TMMD bersama warga bergotong royong membongkar genteng dan rangka atap yang sudah tidak layak. Kayu-kayu yang lapuk dilepas satu per satu, membuka jalan bagi harapan baru: hunian yang lebih aman dan layak.

Bu Parni tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Selama ini, keinginan untuk memperbaiki rumah hanya bisa dipendam karena keterbatasan ekonomi.

“Kami sebenarnya ingin memperbaiki rumah, mengganti atap, memplester tembok, sampai pasang lantai supaya lebih nyaman. Tapi kemampuan kami terbatas,” tuturnya lirih.

Kini, harapan itu perlahan menjadi nyata.

“Kami sangat bersyukur. Bantuan Aladin dari program TMMD ini benar-benar mewujudkan impian kami. Rumah kami nanti bisa lebih aman untuk ditempati,” imbuhnya.

Babinsa Sidorejo, Sertu Pardi, menjelaskan bahwa proses renovasi saat ini masih pada tahap awal, yakni pembongkaran atap serta penyiapan material pengganti.

“Setelah ini akan dilanjutkan pemasangan rangka dan atap baru, agar rumah lebih kokoh dan aman bagi penghuninya,” jelasnya.

Program Aladin dalam TMMD bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan. Lebih dari itu, program ini menyentuh aspek mendasar kehidupan masyarakat: rasa aman, kenyamanan, dan martabat untuk tinggal di rumah yang layak.

Di balik bongkaran genteng yang berserakan, tersimpan cerita tentang kepedulian dan gotong royong. Tentang bagaimana negara hadir, tidak hanya melalui kebijakan, tetapi lewat aksi nyata di tengah masyarakat.

Bagi Bu Parni, atap baru nanti bukan hanya pelindung dari hujan dan panas. Ia adalah simbol harapan bahwa hidup yang lebih layak kini bukan lagi sekadar angan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan