Ratusan Seniman, Budayawan dan Masyarakat Solo Gelar Kirab, Desak Pemerintah Segera Bangun Gedung Kesenian dan Kebudayaan di Solo.

SOLO – Sekitar 300 seniman, budayawan, pelaku seni, pegiat budaya, hingga masyarakat Kota Solo menggelar kirab budaya sebagai bentuk aspirasi kepada pemerintah agar segera membangun Gedung Kesenian dan Kebudayaan di Kota Solo. Aksi yang dipimpin Ketua Panitia Kirab, Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH, itu menjadi simbol keprihatinan atas belum tersedianya ruang representatif bagi aktivitas seni dan budaya di Kota Bengawan.

Ketua Panitia Kirab, Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH mengatakan, kirab tersebut bertujuan menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Kota Surakarta, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, DPRD, hingga pemerintah pusat agar memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan seni dan budaya di Kota Solo.

Menurutnya, sudah lebih dari 281 tahun Kota Solo berdiri, namun hingga kini belum memiliki Gedung Kesenian dan Kebudayaan yang representatif sebagai pusat aktivitas para seniman dan budayawan.

“Solo dikenal sebagai Kota Seni dan Budaya, bahkan Spirit of Java. Sangat ironis jika hingga hari ini belum memiliki gedung kesenian dan kebudayaan yang menjadi rumah bagi para seniman,” ujar Kusumo Putro.

Ia menegaskan, gedung tersebut dibutuhkan sebagai wadah bagi seniman tari, musik, lukis, patung, teater, kerajinan, hingga komunitas budaya untuk berlatih, berkarya, menggelar pameran maupun pertunjukan.

Menurutnya, pelestarian seni dan budaya merupakan amanat konstitusi sehingga pemerintah tidak seharusnya menjadikan persoalan anggaran sebagai alasan untuk menunda pembangunan fasilitas tersebut.

“Pelestarian seni dan budaya adalah kewajiban negara. Pemerintah harus hadir memberikan ruang bagi para pelaku seni agar budaya bangsa tetap lestari,” katanya.

Kusumo Putro menyebut aksi kirab yang diikuti sekitar 300 peserta itu bukan menjadi langkah terakhir. Jika aspirasi mereka belum mendapatkan tanggapan, pihaknya akan melanjutkan perjuangan melalui audiensi hingga aksi dengan jumlah massa yang lebih besar.

“Kami akan mengirim surat untuk melakukan hearing dengan Wali Kota Surakarta dan DPRD Kota Surakarta. Jika aspirasi ini belum direspons, kami akan menggelar gelombang aksi yang lebih besar,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengusulkan sejumlah lokasi yang dinilai layak dijadikan tempat pembangunan Gedung Kesenian dan Kebudayaan, di antaranya kawasan Lapangan Sumber, area sekitar SMP Negeri 9 Surakarta, kawasan Pajang, hingga lahan di Mojosongo yang dinilai memiliki luas memadai.

Menurutnya, gedung tersebut harus dibangun secara megah dan dilengkapi fasilitas yang memadai agar mampu menjadi pusat pengembangan seni dan budaya Kota Solo.

Kusumo Putro juga menyoroti kondisi para seniman yang selama ini kesulitan mendapatkan ruang berekspresi. Banyak sanggar tari yang berhenti beraktivitas karena keterbatasan tempat latihan, sementara musisi jalanan terpaksa tampil di trotoar, pelataran pertokoan, maupun ruang terbuka tanpa fasilitas yang layak.

Begitu pula seniman lukis, pematung, hingga komunitas seni tradisional yang harus berpindah-pindah tempat ketika ingin mengadakan pameran maupun pertunjukan.

Ia menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan predikat Solo sebagai kota yang selama ini dikenal sebagai pusat seni dan budaya Jawa.

Menanggapi keberadaan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kusumo Putro menjelaskan bahwa fasilitas tersebut merupakan aset Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan penggunaannya memiliki mekanisme tersendiri, sehingga belum sepenuhnya dapat menjadi ruang bersama yang mudah diakses seluruh komunitas seni di Kota Solo.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Kota Surakarta memiliki gedung kesenian sendiri yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dan komunitas seni.

“Solo memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa. Sudah saatnya kota ini memiliki gedung kesenian yang menjadi kebanggaan bersama sekaligus pusat pelestarian budaya bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan