PWKI Surakarta Gelar Seminar Self Care, Perempuan Diajak Tetap Kuat dan Peduli Diri

SURAKARTA, KabarJoglo.com – Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Cabang Surakarta menggelar seminar yang mengangkat tema self care atau kepedulian terhadap diri sendiri. Kegiatan ini menjadi ruang bagi perempuan untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah peran mereka dalam keluarga maupun masyarakat.

Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Rahayu Purwa Ningsih, SE, MSi, Direktur SpekHam, yang menyampaikan materi mengenai peta persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Surakarta.

Sementara itu, Anna Marsiana, STh, MA, konsultan Inspire, membawakan materi bertajuk “Self Care: Stay Life, Stay Strong and Stay Happy.”

Seksi Pendidikan PWKI Cabang Surakarta, Aniek Tri Maharani, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi kondisi perempuan yang kerap lebih banyak memberikan perhatian kepada persoalan orang lain, tetapi terkadang lupa memperhatikan kondisi dirinya sendiri.

“Perempuan itu sering kali begitu peduli dengan persoalan orang lain, tetapi lupa peduli dengan dirinya sendiri. Sampai capek, lelah, bahkan secara mental juga bisa terdampak,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman mengenai self care penting terutama bagi perempuan yang selama ini terlibat dalam pendampingan korban kekerasan, baik dalam lingkup keluarga maupun sebagai pendamping profesional.

Terlebih, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak saat ini memiliki bentuk yang beragam, termasuk kekerasan berbasis gender maupun kekerasan yang terjadi melalui ruang digital.

Aniek berharap seminar tersebut dapat memberikan bekal kepada peserta agar mampu menjaga kondisi diri sehingga tetap memiliki kekuatan ketika mendampingi orang lain.

“Harapannya peserta mendapatkan masukan bagaimana merawat diri supaya tetap sehat dan happy. Dengan begitu, ketika melakukan tugas pendampingan kepada korban kekerasan, kita punya kesegaran dan kekuatan lagi,” katanya.

Ia menjelaskan, seseorang yang terlalu larut dalam persoalan korban yang didampinginya juga dapat mengalami kelelahan emosional. Karena itu, diperlukan jejaring dukungan serta pendampingan dari pihak yang memiliki kompetensi, termasuk psikolog.

PWKI Surakarta, lanjut Aniek, juga berupaya membangun jejaring dengan berbagai lembaga agar para perempuan dapat saling berbagi pengalaman, melakukan refleksi, dan saling menguatkan ketika menghadapi persoalan.

“Ketika kita menghadapi persoalan dan merasakan kelelahan, ada ahlinya sehingga kita tidak salah dalam menangani,” jelasnya.

Selain seminar, PWKI Surakarta juga tengah melakukan sosialisasi organisasi dan regenerasi kepengurusan. Aniek menyebut PWKI telah berdiri sejak 28 Februari 1946, tidak lama setelah Indonesia merdeka, dan sejak awal memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan perempuan.

Di Surakarta, PWKI kembali menggeliat dalam sekitar satu tahun terakhir melalui regenerasi pengurus dan berbagai kegiatan yang menyentuh kebutuhan perempuan.

Ke depan, PWKI Surakarta juga merencanakan kegiatan pelatihan yang bersifat edukatif dan keterampilan, seperti bercocok tanam, membuat pupuk, memasak, membuat puding, merangkai bunga, hingga konseling pastoral dan konseling mental.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan bagi perempuan agar memiliki ruang untuk beraktivitas, belajar, berbagi pengalaman sekaligus menjaga keseimbangan diri.

Sementara itu, Pendeta Elisa, Gembala Sidang Gereja Baptis Penumping Surakarta, menyambut positif kegiatan tersebut.

Menurutnya, seminar self care menjadi kegiatan yang penting karena perempuan memiliki peran besar, baik di dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.

“Ini adalah acara yang luar biasa untuk memberkati semua kaum perempuan. PWKI mengadakan kegiatan seminar yang menarik dan sangat penting, yaitu self care,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan motivasi kepada perempuan untuk semakin memahami dan mendewasakan diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Kiranya melalui kegiatan hari ini banyak perempuan terberkati dan siap memberkati, khususnya keluarga dan lingkungan di mana perempuan berada,” katanya.

Seminar tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap orang lain perlu berjalan seimbang dengan kepedulian terhadap diri sendiri. Dengan kondisi fisik dan mental yang terjaga, perempuan diharapkan dapat menjalankan perannya secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan