KABARJOGLO.COM – Usia bukanlah penghalang untuk mengenal dunia lebih luas. Semangat itulah yang tercermin dari sosok SW, seorang pria berusia 80 tahun yang masih aktif melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia dengan mengandalkan transportasi umum dan berjalan kaki.
Kisah perjalanan Seri SW sampai ke meja redaksi KabarJoglo melalui informasi Romy Tan Bebek Solo. Ia menceritakan pertemuannya dengan pria lanjut usia tersebut yang memiliki kegemaran menjelajah berbagai wilayah Tanah Air dengan cara yang sederhana, tetapi penuh perhitungan.
Menariknya, SW tidak sekadar melakukan perjalanan untuk menikmati keindahan alam dan mengenal kehidupan masyarakat di berbagai daerah. Setiap perjalanan juga didokumentasikan secara sistematis dalam sebuah buku.
Catatannya terbilang lengkap. Mulai dari rute perjalanan, peta jalur yang dilalui, pilihan transportasi, hingga rincian biaya yang harus dikeluarkan. Termasuk ongkos kendaraan, penginapan, serta kebutuhan akomodasi selama berada di suatu daerah.
Dokumentasi tersebut menjadi sesuatu yang bernilai, terutama bagi generasi muda yang ingin mengenal Indonesia melalui perjalanan mandiri atau backpacking dengan anggaran terukur.
Menempuh 200 Kilometer dengan Berganti Tujuh Kendaraan
Salah satu pengalaman perjalanan SW yang cukup mengesankan terjadi pada medio Agustus 2026, ketika menjelajahi sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Dalam perjalanan dari Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menuju Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, ia menghadapi tantangan keterbatasan transportasi umum.
Secara geografis, jarak kedua wilayah tersebut sekitar 154 kilometer berdasarkan informasi yang diperolehnya melalui Google. Namun, karena terbatasnya jalur angkutan umum di kawasan selatan Kabupaten Sukabumi, SW harus menempuh perjalanan memutar hingga sekitar 200 kilometer.
Perjalanan yang semestinya terlihat sederhana di atas peta itu ternyata membutuhkan waktu dua hari dan satu malam untuk mencapai tujuan.
Selama perjalanan, SW harus berganti kendaraan sebanyak tujuh kali. Ia menggunakan angkutan kota (angkot) dua kali, mobil Elf tiga kali, bus perintis DAMRI satu kali, serta ojek satu kali.
Ada pengalaman menarik sekaligus cukup menguras biaya. Salah satu perjalanan menggunakan angkot sejauh 35 kilometer hanya diisi SW seorang diri sebagai penumpang. Ia bahkan sempat merasa kasihan kepada sopir angkot yang tetap melayani perjalanan tersebut.
Tantangan lainnya muncul ketika kendaraan Elf yang biasa menghubungkan dua wilayah tidak beroperasi pada 17 Agustus. Diduga sopirnya mengikuti kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan di daerahnya.
Akibatnya, SW harus menggunakan jasa ojek dengan ongkos mencapai Rp110.000. Biaya tersebut menjadi pengeluaran transportasi paling mahal dalam perjalanan itu, bahkan mencapai sekitar 35 persen dari total ongkos transportasi yang dikeluarkan.
Perjalanan Panjang Mengajarkan Kesabaran
Tantangan perjalanan tidak berhenti pada pergantian kendaraan. Kondisi jalan di sejumlah wilayah yang dilalui juga menjadi ujian tersendiri.
Sebagian besar jalur melewati kawasan perbukitan dengan medan naik turun, jalan sempit, serta kondisi permukaan jalan yang rusak. Ketika dua kendaraan berpapasan, salah satunya terkadang harus berhenti untuk memberikan jalan.
Bahkan, perjalanan menggunakan bus perintis DAMRI sejauh sekitar 60 kilometer membutuhkan waktu hingga empat jam.
Di tengah kondisi tersebut, SW memilih menikmati perjalanan dengan penuh kesabaran. Ia tidak ingin terlalu banyak mengeluh, melainkan berusaha bersyukur karena dapat mencapai tujuan dengan kondisi fisik dan mental yang baik.
Di balik perjalanan yang melelahkan, tersaji panorama alam yang tidak mudah dilupakan. Hamparan perbukitan, kawasan hutan, perkebunan karet, perkebunan teh, hingga ngarai yang luas dan menghijau menjadi pemandangan yang menemani sepanjang perjalanan.
Bagi SW, pengalaman tersebut menjadi bagian berharga dari perjalanan. Ada pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur yang tidak selalu ditemukan ketika seseorang hanya melihat perjalanan sebagai kegiatan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Menikmati Keindahan Jalur Lintas Selatan
Setelah tiba di Sindangbarang, perjalanan SW berlanjut menyusuri jalur lintas selatan menuju Pangandaran.
Kali ini, suasana perjalanan terasa berbeda. Jalur yang dilalui relatif lebih lebar, mulus, dan lengang. Ia menggunakan bus perintis DAMRI yang dinilai nyaman dan bersih.
Sepanjang perjalanan lebih dari 200 kilometer, SW disuguhi panorama pesisir selatan Jawa Barat. Sesekali jalur perjalanan berada dekat pantai dengan air laut berwarna biru jernih dan deburan ombak yang terdengar sepanjang perjalanan.
Pemandangan tersebut menjadi penutup yang mengesankan setelah sebelumnya harus melewati jalur perbukitan dengan kondisi jalan yang cukup menantang.
Catatan Perjalanan yang Bisa Menjadi Inspirasi Generasi Muda
Kisah SW memberikan perspektif berbeda tentang kegiatan backpacking. Menjelajah Indonesia tidak selalu harus menggunakan kendaraan pribadi, mengikuti paket wisata, ataupun mengeluarkan biaya besar.
Dengan perencanaan yang matang, informasi rute, pemilihan transportasi umum, serta pengelolaan anggaran, perjalanan dapat menjadi pengalaman belajar yang berharga.
Apa yang dilakukan SW melalui dokumentasi perjalanan juga memiliki nilai edukasi. Catatan mengenai peta, jalur transportasi, ongkos kendaraan, dan biaya penginapan dapat menjadi referensi bagi orang lain yang ingin menempuh perjalanan serupa.
Terlebih, saat ini minat generasi muda terhadap perjalanan mandiri atau backpacking semakin menarik untuk dikembangkan sebagai sarana mengenal kekayaan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
SW sendiri diketahui pernah bekerja di lingkungan Departemen Kesehatan di Jakarta dan kini tinggal di Karangpandan. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, kegemarannya menjelajah menjadi gambaran bahwa semangat belajar dan mengenal lingkungan tidak harus berhenti karena faktor usia.
Kisah ini bukan semata-mata tentang seberapa jauh seseorang mampu melangkah, melainkan tentang bagaimana setiap perjalanan memberikan pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran kehidupan.
Sebab, Indonesia bukan hanya untuk dilihat melalui layar, tetapi juga untuk dikenal melalui perjalanan, perjumpaan, dan pengalaman nyata.
Usia boleh bertambah, langkah mungkin melambat, tetapi semangat menjelajah dan rasa ingin tahu tidak seharusnya ikut berhenti.






