Kartasura, Sukoharjo – Malam itu, langit di atas alun-alun Kartasura diterangi letupan kembang api. Ratusan warga berkumpul, dari anak-anak hingga orang tua, menyaksikan pesta rakyat yang menandai peringatan Hari Jadi Kartasura ke-345. Namun di balik gemerlap hiburan, terdapat narasi lebih dalam: sebuah kota kecil yang pernah menjadi pusat peradaban Jawa, kini mencari cara agar sejarah panjangnya tetap relevan di era modern.
Dari Hutan ke Pusat Kekuasaan
Kartasura bukanlah kota biasa. Tiga setengah abad silam, wilayah ini hanyalah hutan lebat bernama Wanakerta. Pada akhir abad ke-17, Amangkurat II memindahkan pusat Mataram Islam ke sini, menjadikannya episentrum politik dan kebudayaan Jawa.
Namun sejarah tidak selalu ramah. Konflik internal, pemberontakan, hingga perang besar melibatkan VOC Belanda akhirnya membuat Kartasura kehilangan statusnya sebagai ibu kota. Takhta bergeser ke Surakarta, lalu Yogyakarta. Kartasura yang dulu pusat kerajaan, perlahan berubah menjadi kota satelit dengan identitas yang kerap dipinggirkan.
Tradisi yang Bertahan
Peringatan tahun ini dibuka dengan Umbul Donga ritual doa bersama yang dipimpin KH Al Umam S.Ag. Kirab tumpeng melintasi jalan utama, dikawal prajurit Karaton dalam balutan busana Jawa klasik. Para pejabat sipil, tokoh agama, hingga juru kunci Karaton hadir di panggung utama.
Bagi masyarakat, ini bukan sekadar prosesi simbolis. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. “Hari Jadi Kartasura harus jadi ruang kebersamaan, bukan hanya perayaan. Di sini kita merajut sejarah dengan masa depan,” ujar Dr. KRA Suratno Pradotodiningrat, S.H., M.H., Ketua Panitia.
UMKM sebagai Nadi Ekonomi Baru
Di sela-sela ritual budaya, puluhan stan UMKM lokal berjajar. Dari sambal khas Bantul, batik, hingga kerajinan tangan, semuanya dipamerkan dengan harapan bisa menembus pasar lebih luas.
Kartasura hari ini memang tak lagi memegang kekuasaan politik Jawa. Tetapi lewat UMKM, ia berupaya membangun kekuatan ekonomi rakyat. “Bazar ini bukan pelengkap acara. Inilah cara kami memastikan perayaan punya dampak langsung bagi warga,” tambah Suratno.
Simbol Kuasa dan Spiritualitas
Uniknya, panggung peringatan juga mempertemukan tiga elemen penting Jawa: pemerintahan modern, kekuatan militer, dan spiritualitas budaya. Hadir Camat Kartasura, Kapolsek, Danramil, hingga Komandan Grup 2 Kopassus, duduk berdampingan dengan tokoh adat dan ulama.
Kehadiran ini menunjukkan bahwa Kartasura berusaha menyeimbangkan tradisi dengan modernitas. Bagi sebagian warga, momentum ini adalah “rekonsiliasi sejarah” menghadirkan kembali aura kebesaran masa lalu tanpa menafikan tuntutan zaman.
Merawat Identitas di Tengah Perubahan
Generasi muda menikmati konser musik dan pesta kembang api. Generasi tua larut dalam doa dan prosesi adat. Kontras ini justru memperlihatkan kekuatan Kartasura: kemampuan merangkul masa depan tanpa tercerabut dari akar budaya.
Namun ada pertanyaan yang lebih besar: apakah perayaan tahunan ini cukup untuk menghidupkan kembali identitas Kartasura? Ataukah ia hanya sekadar nostalgia kolektif tanpa arah strategis?
Lebih dari Seremoni
Dengan rangkaian acara hingga 12 Oktober, perayaan ini diposisikan sebagai festival budaya sekaligus motor penggerak ekonomi. Tetapi bagi banyak pengamat, tantangan sesungguhnya ada di luar panggung. Bagaimana Kartasura memanfaatkan momentum sejarah untuk mendorong pendidikan, pariwisata, dan pembangunan berkelanjutan?
Seorang sejarawan lokal mengatakan, “Kartasura bukan hanya halaman yang dilupakan dalam buku sejarah Jawa. Ia adalah ruang belajar, bagaimana kejayaan bisa runtuh, dan bagaimana masyarakat bangkit dengan caranya sendiri.”
Refleksi Tiga Abad
Pada akhirnya, Hari Jadi Kartasura ke-345 bukan sekadar pesta rakyat. Ia adalah panggung refleksi. Sebuah pertanyaan terbuka:
Apakah sebuah kota kecil dengan warisan kerajaan besar bisa menemukan relevansinya di abad ke-21?
Di antara dentuman musik modern, aroma kuliner lokal, dan doa-doa yang terlantun lirih, masyarakat Kartasura menjawabnya dengan sederhana: dengan merawat masa lalu, mereka menenun masa depan.








