Tradisi Ramadhan–Paskah di Sukoharjo: Ketika Takjil Menjadi Jembatan Persaudaraan Lintas Iman

Sukoharjo – Harmoni dan toleransi antarumat beragama kembali nyata di Kabupaten Sukoharjo melalui sebuah tradisi tahunan yang terus dirawat sejak 2022. Di bulan suci Ramadhan, umat Islam dan Katolik di Sukoharjo kembali meneguhkan persaudaraan lintas iman melalui aksi berbagi takjil yang sarat makna kemanusiaan.

Tradisi ini bermula pada tahun 2022, ketika sekelompok pemuda Muslim yang dikoordinir oleh Danar dan rekan-rekan menggelar kegiatan Jumat Berkah dengan membagikan takjil berupa sego berkat. Momentum tersebut bertepatan dengan pelaksanaan Ibadah Jumat Agung umat Katolik di Gereja Hati Kudus Yesus Sukoharjo. Tanpa sekat perbedaan, takjil dibagikan sebagai simbol kebersamaan, di saat umat Islam menjalani puasa Ramadhan dan umat Katolik menjalani puasa Paskah.

Danar menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata semangat persaudaraan lintas iman yang tumbuh dari akar umat.

“Kami umat Muslim jamaah Masjid Agung Sukoharjo dipimpin oleh Bapak Haji Chairul Anwar selaku Ketua Takmir Masjid Agung Sukoharjo dan didampingi oleh para remaja masjid, berkomitmen untuk terus merawat semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama melalui kegiatan berbagi ini,” ujar Danar.

Aksi sederhana namun penuh makna tersebut menjadi penanda kuat bahwa perbedaan iman tidak menghalangi persatuan sebagai sesama anak bangsa.

Beberapa hari berselang, semangat toleransi itu dijawab dengan penuh sukacita. Umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo melakukan kunjungan balasan ke Masjid Agung Sukoharjo, dengan mengantarkan takjil sebagai ungkapan persaudaraan dan rasa saling menghormati.

Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, Rama Petrus Dwi Purnomo Adi, Pr, serta diinisiasi oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Paroki Hati Kudus Yesus. Rombongan turut dimeriahkan oleh ibu-ibu WKRI dan Orang Muda Katolik (OMK), menghadirkan wajah Gereja yang terbuka, bersahabat, dan hadir di tengah masyarakat.

Dalam suasana penuh kehangatan, perjumpaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata dialog kehidupan dialog yang lahir dari kepedulian, kesediaan berbagi, dan komitmen merawat persaudaraan.

Tradisi lintas iman di Sukoharjo ini menjadi teladan bahwa toleransi tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi perlu dihidupi melalui tindakan nyata. Di tengah perbedaan keyakinan, umat beragama di Sukoharjo membuktikan bahwa kasih, empati, dan persaudaraan adalah bahasa universal yang mampu menyatukan..

.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan