JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan hak pendidikan anak-anak di wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap menjadi perhatian. Berbagai langkah telah disiapkan agar proses pembelajaran tetap dapat berlangsung dengan menyesuaikan kondisi darurat di lapangan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keselamatan murid, guru, dan tenaga kependidikan menjadi prioritas utama dalam penanganan satuan pendidikan yang terdampak bencana.
Menurutnya, pelaksanaan pembelajaran di wilayah terdampak tidak dapat disamakan dengan kondisi normal. Sistem pendidikan harus disesuaikan dengan situasi yang dihadapi masyarakat dan sekolah.
“Prioritas dan komitmen Kemendikdasmen adalah keselamatan guru dan murid di wilayah bencana. Karena itu, pembelajaran yang dilakukan juga mempertimbangkan keselamatan guru dan murid. Salah satunya menggunakan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat,” kata Abdul Mu’ti, Rabu (19/8/2026).

Ribuan Warga Sekolah Terdampak
Berdasarkan data Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026, sebanyak 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak bencana di NTT.
Dampak tersebut melibatkan 94.452 murid serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan.
Selain itu, sebanyak 52.268 murid dari 276 satuan pendidikan mengalami gangguan proses belajar karena sekolah diliburkan. Dalam kondisi tersebut, kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah maupun di sejumlah titik pengungsian.
Untuk mendukung keberlangsungan pendidikan, Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak. Tim Kemendikdasmen yang telah tiba di Labuan Bajo membawa berbagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan belajar selama masa darurat.
Bantuan tersebut terdiri atas 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, serta 70 family kit.
Pembelajaran Disesuaikan dengan Kondisi Lapangan
Selain bantuan logistik, Kemendikdasmen melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) juga menyiapkan panduan pembelajaran bagi satuan pendidikan terdampak bencana.
Panduan tersebut dirancang agar sekolah tetap dapat memenuhi hak belajar murid meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan.
Kepala BKPDM Toni Toharudin mengatakan, satuan pendidikan, guru, dan murid yang terdampak bencana tetap menjadi perhatian pemerintah.
“Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, sekolah diberikan fleksibilitas untuk menentukan pola pembelajaran sesuai kondisi masing-masing.
Penyesuaian dapat dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi murid dan tenaga pendidik, serta situasi lingkungan sekitar.
Materi pembelajaran yang diberikan dapat difokuskan pada kebutuhan paling esensial dan relevan dengan kondisi peserta didik. Selain pembelajaran akademik, aspek keselamatan diri, literasi dan numerasi dasar, pemulihan rutinitas belajar, serta dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di masa darurat.
Metode pembelajaran juga dapat dilaksanakan secara fleksibel, mulai dari tatap muka terbatas, pembelajaran mandiri, hingga metode lain yang memungkinkan diterapkan sesuai kondisi dan sumber daya yang tersedia.
Pemulihan Psikososial Jadi Perhatian
Kemendikdasmen juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis murid, guru, dan tenaga kependidikan yang terdampak bencana.
Sekolah diharapkan dapat kembali menjadi ruang yang aman bagi warga sekolah sekaligus mendukung proses pemulihan secara bertahap.
Melalui lingkungan belajar yang aman dan suportif, murid diharapkan dapat membangun kembali rasa percaya diri serta kembali menjalankan aktivitas belajar setelah mengalami situasi darurat.
Untuk mendukung penerapan pembelajaran di lapangan, Kemendikdasmen turut menyediakan contoh kegiatan dan materi pembelajaran yang dapat dijadikan inspirasi oleh sekolah dalam menyusun kegiatan belajar sesuai kondisi pascabencana.
Kemendikdasmen mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan di NTT untuk memperkuat kolaborasi.
Keselamatan warga sekolah, fleksibilitas pembelajaran, dan kebutuhan murid diharapkan tetap menjadi perhatian utama agar bencana tidak menghentikan hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan.
Dengan dukungan dan kerja sama seluruh pihak, proses pembelajaran bagi murid terdampak diharapkan dapat terus berjalan sambil menunggu kondisi di wilayah bencana kembali pulih.






