JAKARTA–Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memperketat pengawalan proses restrukturisasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Salah satu fokus utama pembenahan adalah memastikan laporan keuangan perusahaan mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, membahas strategi restrukturisasi tersebut bersama jajaran direksi WIKA. Pertemuan tersebut menekankan pentingnya penggunaan data dan angka yang akurat sebagai dasar menentukan langkah penyelamatan perusahaan.
Menurut Dony, restrukturisasi harus dimulai dengan pemetaan kondisi perusahaan secara realistis. Dengan demikian, solusi yang dirancang tidak sekadar bersifat administratif, tetapi benar-benar mampu menjawab kebutuhan WIKA.
“Kita yang realistis aja, gak mau yang akal-akalan. Yang gak ada nanti caranya beda lagi,” ujar Dony, dikutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.
Ia menegaskan, Danantara perlu mengetahui secara pasti kebutuhan perusahaan, termasuk kewajiban yang harus diselesaikan serta kemampuan riil WIKA dalam memenuhi kewajibannya.
“Kita pingin tahu dulu realnya berapa yang harus diperbaiki. Kita mau tahu sebenarnya yang dibutuhkan, mampunya yang real (kondisi keuangan) yang immediately bisa kita collect,” katanya.
Laporan Keuangan Jadi Fondasi Restrukturisasi
Penataan laporan keuangan secara presisi menjadi salah satu fondasi penting dalam restrukturisasi WIKA. Data yang akurat diperlukan untuk menentukan skala persoalan sekaligus menyusun strategi pembenahan perusahaan secara tepat.
Dengan kondisi keuangan yang tergambar secara nyata, langkah restrukturisasi diharapkan dapat dilakukan secara terukur dan tidak hanya memperbaiki tampilan angka di atas kertas.
Selain pembenahan laporan keuangan, strategi restrukturisasi WIKA juga akan diarahkan pada optimalisasi aset perusahaan yang berpotensi untuk didivestasi.
Aset yang dapat dilepas secara strategis diharapkan mampu memberikan tambahan likuiditas untuk membantu mengurangi beban kewajiban sekaligus memperbaiki struktur keuangan perusahaan.
Danantara menekankan bahwa proses restrukturisasi WIKA harus berorientasi pada kondisi fundamental perusahaan. Pembenahan diarahkan untuk mengurangi beban kewajiban, memperkuat kondisi keuangan, serta memberikan ruang bagi WIKA untuk kembali meningkatkan kinerja dan menjaga keberlanjutan bisnis.
Dengan pendekatan realistis berbasis data, restrukturisasi diharapkan tidak berhenti pada penyelesaian persoalan administratif, tetapi mampu menghasilkan perbaikan nyata terhadap kesehatan dan prospek perusahaan.






