IKSPI dan PSH Pilangbango Tunjukkan Persaudaraan dalam Sarasehan Silat Lintas Jaman Kartasura

SUKOHARJO – Persaudaraan, pelestarian budaya, dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi pesan utama dalam sarasehan Silat Lintas Jaman yang digelar pada rangkaian Ambal Warsa ke-346 Kartasura, Jumat malam (9/10/2026). Pertemuan yang menghadirkan perwakilan tujuh perguruan pencak silat tersebut mempertemukan para pelaku pencak silat dalam satu forum dialog mengenai sejarah, filosofi, serta tantangan menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah keakraban antara perwakilan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti Ranting Kartasura dan PSH Pilangbango Damar Kurung Sumunar Kartasura, Sukoharjo. Interaksi keduanya memperlihatkan bagaimana perbedaan identitas perguruan dapat berjalan beriringan dengan sikap saling menghormati dan semangat menjaga kerukunan.

Bacaan Lainnya

Kegiatan berlangsung di panggung utama Pagelaran Budaya Ambal Warsa, kawasan depan Benteng Kartasura. Agenda tersebut menjadi bagian dari Festival Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif Kartasura (FESTRA) 2026 yang mengusung tema “Nyawiji ing Rasa, Guyub ing Karsa, Kuncara ing Nuswantara.”

Menghadirkan tujuh perguruan dalam satu panggung

Sarasehan Silat Lintas Jaman menghadirkan tujuh perguruan pencak silat, perwakilan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sukoharjo, serta seorang penanggap.

Ketujuh perguruan yang tercantum dalam agenda kegiatan tersebut meliputi:

  1. Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Kartasura, diwakili Wahyono.
  2. Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting Kartasura, diwakili KRT. Suripto.
  3. Tapak Suci Putera Muhammadiyah Cabang Kartasura, diwakili Feri Akhyar, S.Pd.I., M.Pd.K.Ua.
  4. PSH Pilangbango Damar Kurung Sumunar Kartasura, diwakili Bobi Jatmiko, S.E.
  5. IKSPI Kera Sakti Ranting Kartasura, diwakili Tulus Joko W.
  6. Pagar Nusa UIN Raden Mas Said Surakarta, diwakili Sholih Nur Wahid.
  7. Persaudaraan Rumpun Setia Hati (PRSH), diwakili Sugeng.

IPSI Sukoharjo diwakili Punjung, sedangkan penanggap dalam forum tersebut adalah H. Bagus Sigit Setiawan, M.M. Jalannya acara dipandu Arif dan Aswin.

Kehadiran para perwakilan itu membuka ruang pertemuan bagi perguruan yang memiliki sejarah, identitas, lambang, dan tradisi masing-masing. Forum tersebut tidak hanya menempatkan pencak silat sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai warisan budaya yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan kehidupan sosial masyarakat.

Dari simbol perguruan menuju nilai persaudaraan

Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab dua bendera, Merah dan Putih, yang dipertemukan dalam satu prosesi. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyematan pataka berlambang tujuh perguruan pada latar panggung, sebelum masing-masing perguruan menampilkan gerakan pembuka yang menjadi ciri khasnya.

Setelah penampilan tersebut, para perwakilan perguruan, unsur IPSI, dan penanggap mengikuti sarasehan dalam suasana dialog yang santai.

Pembahasan mencakup perjalanan dan dedikasi para pelaku pencak silat, perkembangan seni bela diri dari lingkungan tradisional hingga era modern, serta filosofi lambang perguruan dan nilai moral yang ditanamkan kepada para anggota.

Diskusi juga menyoroti tantangan menjaga keluhuran budi pekerti di tengah perubahan pola komunikasi dan perkembangan teknologi digital. Pencak silat dihadapkan pada kebutuhan untuk mempertahankan akar tradisi sekaligus menyesuaikan metode pembinaan agar tetap relevan bagi generasi muda.

Pertanyaan mengenai masa depan pencak silat turut diarahkan pada pentingnya memperkuat persaudaraan lintas perguruan. Prestasi dan kemampuan bela diri dinilai perlu berjalan beriringan dengan kedisiplinan, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap sesama.

Di sela-sela diskusi, setiap perguruan juga menampilkan atraksi teknik gerak khas masing-masing. Perpaduan dialog dan demonstrasi tersebut memberikan gambaran mengenai keberagaman aliran serta tradisi yang hidup dalam pencak silat.

IKSPI dan PSH Pilangbango: berbeda perguruan, tetap bersaudara

Di antara suasana kebersamaan yang terbangun, hubungan antara IKSPI Kera Sakti Ranting Kartasura dan PSH Pilangbango menjadi salah satu cerita menarik dalam kegiatan tersebut.

Ketua IKSPI Kartasura, Tulus Joko W., menyampaikan apresiasinya terhadap sikap yang ditunjukkan perwakilan PSH Pilangbango. Ia berharap hubungan baik tersebut dapat terus dipertahankan demi mendukung keamanan dan ketertiban di wilayah Kartasura.

“Kami terkesan dengan sikap yang ditunjukkan oleh PSH Pilangbango, santun dan unik. Saudara saya yang satu ini juga penuh humor. Semoga kami IKSPI dan PSH Pilangbango terus kompak bersatu untuk keamanan dan ketertiban Kartasura,” ujar Tulus.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarpesilat tidak harus dibatasi oleh perbedaan perguruan. Sikap terbuka, komunikasi, dan kesediaan menghargai satu sama lain menjadi bagian penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Cabang PSH Pilangbango Sukoharjo, Bobi Jatmiko. Menurutnya, kerukunan perlu dibangun melalui kesadaran setiap individu untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menghindari kesombongan.

“IKSPI, saudara saya yang satu ini, sangat energik dan penuh humor, namun sangat terbuka dalam menyikapi perbedaan. Apalagi Ketua IKSPI Kartasura, meskipun konyol, tapi baik hati,” ungkap Bobi.

Pernyataan kedua tokoh tersebut disampaikan dalam suasana akrab dan penuh humor. Di balik canda yang terbangun, terdapat pesan mengenai pentingnya menjaga hubungan baik di antara anggota perguruan pencak silat.

Kedekatan itu menjadi contoh hubungan personal yang positif. Namun, keberlanjutan kerukunan tentu membutuhkan komitmen yang lebih luas, termasuk dari para pengurus, pelatih, dan anggota perguruan untuk menjaga komunikasi serta menyelesaikan perbedaan secara dewasa.

Merawat pencak silat sebagai warisan budaya

Sarasehan Silat Lintas Jaman memperlihatkan bahwa pelestarian pencak silat tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknik dan kemampuan bertanding. Di dalamnya terdapat nilai kedisiplinan, penghormatan, tanggung jawab, dan pengendalian diri yang perlu terus diwariskan.

Forum lintas perguruan juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk memahami bahwa identitas perguruan merupakan bagian dari tradisi yang patut dihormati, tanpa harus menjadi penghalang bagi persaudaraan.

Dalam konteks kehidupan masyarakat, semangat tersebut relevan untuk membangun ruang perjumpaan yang sehat. Dialog, kegiatan kebudayaan, dan interaksi positif dapat menjadi sarana memperkuat komunikasi di antara para pelaku pencak silat.

Peringatan Ambal Warsa ke-346 Kartasura melalui FESTRA 2026 pun menjadi ruang untuk mempertemukan beragam ekspresi budaya, termasuk seni bela diri tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Pesan yang mengemuka dari panggung Silat Lintas Jaman sederhana, tetapi penting: perbedaan perguruan tidak menghilangkan kesempatan untuk bersaudara. Pencak silat akan semakin bermakna ketika kemampuan bela diri berjalan bersama keluhuran budi pekerti, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab menjaga kedamaian lingkungan.

Dari panggung Kartasura, persaudaraan antarpesilat menjadi pesan bahwa warisan budaya tidak hanya perlu dipertahankan, tetapi juga dihidupkan melalui perilaku yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan