SURAKARTA – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mendorong inovasi penyajian warisan budaya Nusantara melalui pengembangan tata pamer Pawukon yang lebih interaktif dan komunikatif. Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Optimalisasi Potensi Visual Pawukon melalui Rekonstruksi Tata Pamer untuk Keberlanjutan Budaya Nusantara” di Mangkunegara Lounge, Hotel UNS Inn, Surakarta, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Research Group Seni, Desain dan Green Laboratory, Program Studi S-2 Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS tersebut melibatkan akademisi, seniman, perwakilan museum, serta mahasiswa.
FGD ini menjadi forum untuk menghimpun gagasan dan masukan dalam merancang penyajian Pawukon agar lebih menarik, mudah dipahami, serta relevan dengan karakteristik pengunjung museum masa kini.
Kegiatan diawali sambutan Prof. Dr. Agus Purwantoro, M.Sn., dilanjutkan pengantar diskusi oleh Ketua Penelitian, Dr. Desy Nurcahyanti, S.Sn., M.Hum. Selanjutnya, Ari Kurniawan memaparkan rancangan rekonstruksi tata pamer dengan mengoptimalkan kekuatan visual Pawukon melalui penataan ruang, komposisi visual, dan pendekatan kuratorial.
Dalam pemaparannya, Ari memperkenalkan konsep tata pamer berbasis pemodelan tiga dimensi (3D) dengan menggunakan sistem sketsel modular yang portabel. Rancangan tersebut mempertimbangkan fleksibilitas penataan sekaligus perlindungan terhadap bangunan bersejarah Museum Radya Pustaka.
Konsep pengembangan dibagi menjadi lima zona, meliputi pengenalan Pawukon, penyajian artefak dan 30 wuku, video mapping, zona interaktif multisensori, serta Pawukon dalam perspektif kosmologi.
Pembagian zona tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih beragam kepada pengunjung dalam mengenal Pawukon, tidak hanya melalui informasi tertulis, tetapi juga melalui eksplorasi visual dan interaksi langsung.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Drs. Subandi Giyanto, Dr. Dhian Lestari Hastuti, S.Sn., M.Sn., serta Totok Yasmiran, S.S., yang mewakili Museum Radya Pustaka.
Ketiganya memberikan sejumlah masukan terkait ketepatan representasi budaya, strategi penyajian koleksi, kenyamanan pengunjung, hingga pentingnya memahami karakteristik audiens dalam merancang tata pamer museum.
Subandi Giyanto menekankan bahwa pengembangan Pawukon menjadi karya seni rupa maupun media pamer baru harus tetap memperhatikan ketepatan unsur dan makna tradisi aslinya.

Menurutnya, istilah, simbol, susunan ringkel, kolowuku, hingga deskripsi masing-masing wuku perlu melalui pemeriksaan bersama ahli agar tidak terjadi kesalahan dalam interpretasi maupun penyajiannya kepada publik.
Sementara itu, Dhian Lestari Hastuti menyoroti pentingnya menjadikan kebutuhan dan perilaku pengunjung sebagai dasar perancangan tata pamer. Menurutnya, keberhasilan sebuah ruang pamer tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik dan estetika, tetapi juga kemampuannya menghadirkan pengalaman yang nyaman, mudah dipahami, serta mendorong minat pengunjung untuk kembali.
Dari perspektif pengelolaan museum, Totok Yasmiran menyampaikan bahwa pemanfaatan zona interaktif dapat membantu pengunjung memperoleh informasi mengenai wuku secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada penjelasan pemandu.
Penggunaan reproduksi manuskrip dalam penyajian pameran juga menjadi perhatian sebagai salah satu upaya menjaga keamanan dan kelestarian koleksi asli museum.
Salah satu gagasan yang mengemuka dalam diskusi adalah pengembangan fitur interaktif yang memungkinkan pengunjung mencari informasi mengenai wuku berdasarkan tanggal lahir. Melalui fitur tersebut, pengunjung dapat mengetahui keterangan wuku sekaligus memperoleh hasil informasi dalam bentuk cetak maupun digital.
Konsep ini diharapkan mampu mendekatkan pengetahuan Pawukon kepada masyarakat melalui pendekatan teknologi yang lebih personal dan mudah diakses, khususnya bagi generasi muda.
Meski demikian, rancangan rekonstruksi tata pamer tersebut masih membutuhkan tahapan lanjutan, meliputi validasi oleh para ahli, wawancara lebih mendalam dengan pihak museum, serta pengujian terbatas sebelum diterapkan lebih jauh.
Melalui forum ini, UNS berupaya mempertemukan ketepatan pengetahuan budaya dengan inovasi seni, desain, dan teknologi. Kolaborasi antara peneliti, seniman, ahli budaya, pengelola museum, mahasiswa, serta masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Pawukon.
Dengan pendekatan penyajian yang lebih adaptif dan interaktif, warisan pengetahuan tradisional Nusantara tersebut diharapkan tidak hanya terpelihara sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga tetap dikenal, dipahami, dan relevan bagi generasi masa kini.






