Di Balik Asap Dapur TMMD: Ketulusan Ibu-Ibu Jurug Menjadi Energi Pembangunan Desa Lead:

Kulon Progo – Saat para prajurit dan warga berjibaku membangun jalan dan talut, ada kekuatan lain yang bekerja tanpa sorotan: ibu-ibu di dapur. Dari tungku sederhana, mereka menyalakan semangat gotong royong yang menjadi nyawa program TMMD.

Sejak pagi buta, dapur rumah milik Puji Suwarno di Padukuhan Jurug, Kalurahan Sidorejo, tak pernah sepi. Asap tipis mengepul dari tungku, sementara tangan-tangan cekatan ibu-ibu meracik bumbu, menanak nasi, hingga menyiapkan lauk untuk ratusan porsi makanan.

Sudah hampir setengah bulan, dapur sederhana itu berubah menjadi dapur umum dalam pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Tahun Anggaran 2026. Di tempat inilah, logistik bagi para pejuang pembangunan desa disiapkan setiap hari.

Meski tak memegang cangkul atau mengaduk semen, peran mereka tak kalah penting. Makanan yang mereka siapkan menjadi sumber tenaga bagi Satgas TMMD dan warga yang bekerja di lapangan, membangun rabat beton jalan, talut, hingga fasilitas lainnya.


Ketulusan yang Menghangatkan

Puji Suwarno, pemilik rumah yang dijadikan dapur umum, mengaku tak pernah menyangka rumahnya akan menjadi bagian dari sejarah pembangunan desa.

“Kami tidak pernah membayangkan rumah ini digunakan untuk dapur umum TMMD. Apalagi bisa melayani bapak-bapak TNI. Kami merasa bangga dan terharu. Semoga ini menjadi amal baik bagi kami semua,” ujarnya.

Di dapur itu pula, keakraban tumbuh tanpa sekat. Canda tawa ibu-ibu berpadu dengan kehadiran anggota Satgas yang sesekali membantu, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan.

Kemanunggalan yang Terasa Nyata

Hari demi hari, hubungan antara TNI dan masyarakat kian erat. Tak ada lagi jarak yang ada hanya rasa saling memiliki dan tujuan bersama.

Bagi ibu-ibu Jurug, keterlibatan mereka dalam dapur umum bukan sekadar membantu, tetapi juga menjadi kebanggaan tersendiri.

“Kami senang bisa ikut berkontribusi. Apalagi masakan kami dimakan oleh bapak-bapak TNI. Itu kebanggaan bagi kami,” ujar salah satu ibu sambil tersenyum.

Lebih dari Sekadar Masakan

Dari dapur sederhana itu, bukan hanya makanan yang tersaji. Ada ketulusan, keikhlasan, dan semangat gotong royong yang mengalir dalam setiap hidangan.

Di sinilah TMMD menunjukkan maknanya yang sesungguhnya membangun bukan hanya fisik desa, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antara TNI dan rakyat.

Penutup:

Ketika pembangunan jalan selesai dan TMMD berakhir, mungkin dapur itu kembali sunyi. Namun jejak pengabdian ibu-ibu Jurug akan tetap hidup sebagai bagian dari cerita besar kemanunggalan yang menghangatkan desa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan